
"Ada apa ini?" tanya Nila bingung.
"Apa aku salah? Aku hanya ingin mengajakmu makan malam bersama," ucap Biru.
Nila berkacak pinggang. "Aku nggak percaya. Kemarin putrimu memberikan aku permen dengan rasa aneh. Pasti ini juga bagian dari akal-akalan kamu, kan? Dengar! Aku sama sekali tak akan tertipu lagi!" tegas Nila.
Biru berbalik. "Ya sudah, aku tak memaksa," ucapnya santai.
"Aku ikut!" seru Nila tiba-tiba.
Biru tersenyum jahil lalu kembali berbalik menatap Nila. "Gunakan pakaian terbaikmu. Aku ingin lihat betapa cantiknya istriku malam ini," ucap Biru sambil berbisik di telinga Nila.
Wanita itu lekas kembali ke kamarnya. Ia berdandan dengan rapi mengenakan pakaian terbaiknya. Melihat dirinya yang cantik di depan cermin. "Mungkin dia akan menjahiliku lagi. Tinggal hati-hati saja."
Nila lekas keluar. Ia kaget melihat Biru sudah berdiri di depan pintu kamarnya. "Ayo!" seru Biru berjalan lebih dulu.
Nila mengikuti suaminya itu. Di luar sudah menunggu Pak Karjo dengan mobil sedan hitam. Pria itu membuka pintu belakang mobil untuk pasangan itu.
"Kenapa kamu tiba-tiba mengajakku makan malam?" todong Nila.
__ADS_1
"Aku pikir kau tak sejahat yang aku pikirkan. Lagi pula mumpung Minara ada di rumah neneknya. Bukannya ini waktu yang tepat kita saling mengenal. Pernikahan kita adalah tonggak bertahannya Bamantara Grouph. Aku akan belajar menerimamu."
Nila tak menggubrisnya. Berjalan semakin lama, mereka tiba di restoran yang Nila pilih. Ia masih mengatisipasi kejahilan Biru selanjutnya.
Sampai di meja yang juga Nila pilih, semua masih berjalan normal. Mereka memesan makanan seperti biasa. Biru memesan makanan berbahan coklat sebagai appetizer.
"Apa tidak salah? Itukan harusnya jadi dessert?" tanya Nila bingung.
"Aku suka puding coklat di restoran ini. Rasanya sangat premium. Mau coba?" tawar Biru.
Nila menggeleng.
Biru menyendok puding coklatnya lalu ia suapi Nila dengan itu. "Mau lagi?" tawar Biru. Nila mengangguk. Dengan sendok yang sama, mereka berbagi puding yang sama.
Makanan utama datang. Mereka memulai makan malam romantis. Nila sesekali memijiti tengkuk lalu kening.
"Kamu kenapa?" tanya Biru dengan wajah khawatir.
Nila menguap, ia menutup mulut dengan telapak tangannya. "Aku ngantuk," jawab Nila.
__ADS_1
Diam-diam Biru sering memperhatikan kapan Nila meminum obatnya. Jika perhitungannya benar, Nila akan cepat mengantuk hingga tak tertahankan. Itu reaksi obat dan coklat berkafein tinggi yang Biru pesan.
Merasa kelopak mata sudah berat, Nila meminta pulang. Ia bahkan sudah tak mampu menahan rasa kantuk. Biru menggendongnya menuju kamar. Tentu dengan tujuan tertentu.
Begitu membaringkan Nila di atas tempat tidur, tangan perempuan itu menahan Biru. "Kamu nggak memberikan obat tidur di makananku, kan?" tanya Nila.
"Kamu lihat sendiri kita berbagi makanan," jawab Biru untuk menghilangkan kecurigaan. Nila mengangguk-angguk. "Tidurlah." Biru lekas memasangkan Nila selimut.
"Andai kamu selalu begini. Aku mencintaimu," ucap Nila lalu terlelap
Biru mendengkus. "Cinta kepalamu!" umpat Biru dalam hati. Ia turun dari tempat tidur dan terpaku pada clutch milik Nila. Lekas Biru melancarkan aksinya.
Ia mencari sebuah benda yang gambarnya pernah David tunjukan. Lekas benda itu Biru ambil lalu tukar dengan tiruan yang telah dimasukan semacam virus komputer yang David kembangkan. Virus itu akan masuk ke dalam sistem data perusahaan yang dipimpin Nila kemudian merusak bahkan membocorkan data.
"Terima kasih, kamu sudah baik hati makan puding coklat dan tidur dengan tenang. Aku harap amal ibadahmu diterima Allah S.W.T. Tunggu! Kamu mana pernah beramal dan beribadah."
Setelah berbisik begitu, Biru lekas keluar dari kamar Nila. Ia nyalakan kembali CCTV yang sudah diatur sedemikian rupa hingga bagian Biru menukar kartu itu tak terekam. Tentu saja Randy sudah siap di belakang CCTV.
"Jalan besarku sudah ada di tangan, La. Tunggu, aku akan temukan pelakunya satu per satu."
__ADS_1
🌱🌱🌱