
"Ini, Ru." Mas Parmin memberikan uang selembar seratus ribu untuk usaha Biru membetulkan ponselnya. Pria itu tentu merasa senang. Lumayan sudah terkumpul uang untuk membelikan Langit sepatu baru. Kebetulan hari ini dia gajian. Sebagian uang sudah ia sisipkan untuk membayar hutang pada istrinya juga teman-temannya.
"Makasih, Mas. Hari ini bisa belikan istri sepatu," ucap Biru.
"Sholeh banget kamu, Ru. Kepikiran beli barang buat istri. Mentang-mentang masih pengantin baru," puji Mas Parmin.
"Cintaku pada istriku tak akan pudar, Mas. Soalnya gak pake pemutih apalagi pewarna abal-abal," timpal Biru selalu kocak seperti biasa.
Mas Parmin membuka kembali laci uang di gerobaknya. "Ini kutambahin lima puluh ribu, buat ongkosnya. Sama ini, bakso. Sebungkus buat kamu, Langit dan Bu Fitri." Biru menerima keresek pemberian Mas Parmin.
Baru ia berbalik, ia kaget luar biasa bertemu dengan Sapta di sana. Pria itu seperti biasa masih menatap Biru dengan tatapan tajam. Biru tak mau kalah, ia perlihatkan dominasinya di sana. "Ada anak mamah, mau beli bakso, ya? Sudah izin sama mamah keluar rumah?" ledek Biru.
Naik pitam kali ini Sapta dibuatnya. "Kamu ada masalah apa sama aku, sih?" tegur Sapta.
"Harusnya aku yang tanya. Kamu ada masalah apa sama aku sampai sering melotot begitu setiap melihatku?"
Mas Parmin mencium bau-bau perang dingin di sini. "Sudah, Biru cepat pulang, Langit pasti nunggu," saran Mas Parmin.
Biru mengangguk. Baru selangkah ia berjalan, Sapta menarik lengannya. "Heh, kamu itu perusak hubungan orang! Sebelum kamu datang, Langit itu dekat sama aku. Harusnya dia jadi istriku!" tegas Sapta.
Mendengar ucapan Sapta, Biru terkekeh. "Berhenti dulu berlindung dibalik ketek emak, baru mau nikahin anak orang," ledek Biru.
Sapta mendorong Biru. Karena kuatnya tubuh Biru, ia tak bergeming sedikitpun. "Aku buktikan. Suatu hari nanti Langit pasti bakalan jadi milik aku! Dia bakalan ninggalin kamu!" tegas Sapta.
Biru memeletkan lidah. "Ngaca dulu napa! Maklum sudah malam, jadi ngantuk." Tangan Sapta mengepal. Dalam hitungan detik, ia acungkan tinju ke arah Biru. Sayangnya, beberapa senti sebelum mendarat tinjunya sudah Biru tahan. Sapta sampai bergetar begitu meninju terkena tangan Biru, tapi tubuhnya yang oleng.
__ADS_1
Mas Parmin mengusap dada. Ia pikir akan terjadi pertengkaran hebat hingga bergulat dan berguling di atas tanah. Nyatanya, Sapta sudah syok duluan. "Masih mau ngajak berantem? Kamu salah, lawan satpam idola umat wanita sedunia!"
Langit yang merasa suaminya terlalu lama belum pulang ke rumah menelpon. Ponsel Biru berdering dan lekas ia angkat.
"Aa di mana? Biasanya jam segini sudah pulang," tegur Langit.
"Ini, nih. Sapta ngajakin adu jotos," adu Biru.
"Dasar tukang ngadu!" umpat Sapta. Ia lekas berbalik dan pergi.
"Percuma memang lawan jomlo gabut ditinggal kawin, asemnya lebih-lebih dari cuka bakso," balas Biru.
Tak tahu harus berapa kali lagi Langit mengusap dada. "Aa pulang sekarang, jangan ganggu Sapta terus. Biarin saja dia," tegur Langit.
Biru menunduk. Ia memegang tangan istrinya, tapi langsung Langit tepis. "Pokoknya seminggu Langit gak akan kasih jatah ngisi celengan!"
Biru mendengus. "Jangan gitu donk, La. Ini padahal aku baru gajian. Mana bawa bakso terus mau ajak beli sepatu, kok malah diomelin," protesnya.
"Habisnya Aa itu ...." Belum selesai Langit bicara, terdengar suara seseorang memanggil.
"Heh, Langit!" suaranya begitu lantang membawa sapu lidi di tangan kanan, baju daster, rambut yang masih diroll dan salonpas di sisi kanan dan kiri kening.
Biru tercengang. Ia tahu itu ibunya Sapta. Lekas Biru bersembunyi di balik punggung istrinya. "Mana suami kamu! Minta dihajar dia itu! Seenaknya ganggu anak orang!" omel ibu Sapta.
Langit mencoba menahan wanita itu. "Sabar dulu, Bu. Nanti saya suruh Biru minta maaf."
__ADS_1
Sayang, sapu lidi ibu Sapta sudah melayang. Biru memekik kesakitan. "Jangan galak-galak kenapa, Bu!" protes Biru.
"Kamu ngeledekin anak saya terus!" bentak ibu Sapta. Biru berlari mencoba melepaskan diri, tapi ibu Sapta masih beringas.
"Sini kamu! Dasar anak nakal!"
"Seenggaknya saya gak ngadu sama ibu, gak kayak Sapta masih bocah," ledek Biru membuat ibu Sapta semakin kesal.
Langit menggelengkan kepala. Tak tahu harus diapakan suaminya itu. Ini sudah pemandangan kesekian kali Biru dikejar ibu Sapta dengan sapu lidi. Ia sendiri bingung karena Biru tak pernah kapok.
"Kamu mau bikin aku darah tinggi, hah?" tegur ibu Sapta.
"Lagian anak ibu sendiri. Dia yang melototin, dia yang nonjok, dia juga yang ngadu!" protes Biru.
"Tonjok? Siapa yang ditonjok?" tanya Langit.
"Aku sama Sapta. Tanya saja Mas Parmin tahu," jawab Biru.
Mata Langit melotot. Ia rebut sapu lidi dari ibu Sapta. "Biar aku habisin dia hari ini juga!" Langit berjalan menuju rumah Sapta.
Ibu Sapta yang merasa Langit akan menyakiti anaknya lekas menyusul Langit meski larinya tak kencang. "Gawat ini, istriku bakalan ngamuk." Biru turut menyusul Langit sebelum istrinya menumpahkan darah di rumah Sapta.
š±š±š±
Bantu promo yuk di gc atau di tiang listrik. pokoknya di tempat emak-emak NT ghibah biar bisa nambah pasukan pembaca š
__ADS_1