
"Makasih, Bu," ucap Langit sambil membayar belanjaannya.
"Sama-sama, La. Hari ini gak beli sandal lagi?" tanya Bu warung.
Dengan tegas Langit menggeleng. "Sekarang sudah mulai sholeh Aa Birunya. Pulang sandalnya lengkap nggak tertukar lagi. Setiap mau ke masjid harus diceramahin dulu kalau pulang diperhatian sandalnya, kalau gak simpen di sisi," jelas Langit.
"Segitu juga suami kamu masih baik, La. Kalau si bapak mah yang sering hilang gajinya. Abis semua kredit rokok," protes Ibu warung.
"Kredit di mana, Bu?"
"Di pabriknya. Sebulan bisa tiga ratus ribu. Gajihan habis saja semua pakai rokok. Kalau dibeliin beras, kenyang sebulan sekeluarga," omel Ibu warung saking kesal dengan sikap suaminya.
Langit terkekeh. "Padahal istrinya jualan. Kenapa gak kasbon sama istri saja."
"Yah itu, kalau sama istri takut gak dikasih. Kalau di pabrik asal bayar, bulan depannya dikasih jatah kredit lebih," timpal Ibu Warung.
"Kalau aku, Bu. Yang hilang malah suaminya." Bu Mimin yang rumahnya tak jauh dari Langit ikut berkomentar.
Bu Mimin ditinggal suaminya merantau ke Kalimantan, tapi hingga hari ini tak pulang-pulang macam Bang Toyib dan Bang Jono. Jadilah Bu Mimin jablai alias jarang dibelai. Hanya dia sangat hebat, bisa membesarkan anak dua dan yang satu sekolah di SMA negeri favorit.
"Bukan hilang mungkin, Bu. Sudah dikubur perasaannya. Cuman kasihan itu anak-anak nikah siapa yang waliin?"
__ADS_1
Bu Mimin menggeleng. "Masih ada Uwa dari Bapaknya ini."
Tak ingin terlalu dalam mendengar kisah ibu-ibu di sana, Langit pamitan. Ia harus lekas masak karena Biru juga harus sarapan meski sedang libur kuliah. Langit sempat minta Biru pindah shift selama libur semester ke pagi. Biru menolak, katanya kalau masuk pagi semakin lama ketemu dengan karyawan genit di bank. Kalau masuk jam tiga, Biru cukup bertahan sampai jam lima sore.
Berjalan tiba di depan rumah, Langit kaget akan keberadaan Roni di sana. Melihat Langit, Roni langsung menunduk. "Selamat pagi, Nyonya Muda," salam Roni.
"Pagi Bang Roni. Pagi sekali ada di sini, Bang Roni ada apa? Kenapa nggak masuk?" tanya Roni.
"Di dalam ada Tuan Besar," jawab Roni sambil menunjuk ke bagian dalam rumah.
Langit mengintip ke arah pintu. Dia hanya melihat Biru duduk di sofa. Lekas Langit masuk dan mengucapkan salam. Kakek Biru rupanya ada duduk di bagian sofa yang tak terlihat dari pintu.
Fitri juga ada di sana. Biru menarik pelan tangan Langit agar istrinya duduk di sampingnya.
"Kakek datang ke sini karena usia kandunganmu sudah empat bulan. Biru bilang akan mengadakan pengajian. Ini cicit pertamaku dari Angga. Tentu harus dirayakan keberadaannya," ungkap Bagas.
"Nanti merepotkan Kakek. Biar Aa Biru saja yang urus, Kek. Biar mandiri," tolak Langit secara halus.
Bagas hanya tersenyum. "Tak apa, Nak. Kakek sudah siapkan segalanya. Warga di sini juga pasti senang kalau ada hiburan. Roni sudah bantu minta izin keramaian ke kepolisian setempat. Tinggal kalian berdua ingin dirayakan dengan apa?"
"Pertunjukan wayang golek, Kek! Undang Asep Sunandar Sunarya, Biru suka banget nontonnya," celetuk Biru.
__ADS_1
"Aa ini, harusnya kita syukuran pengajian di masjid. Doain anak kita yang baik-baik," tegas Langit sambil memelototi Biru.
Biru mengangguk. "Tuh, Kek. Harusnya syukuran. Siapa sih orang yang berani-beraninya nawarin untuk adain acara wayang golek?"
"Kamu, A. Tadi kamu yang ngomong," omel Langit.
Bagas dan Fitri sampai tertawa mendengar ucapan Biru. "Itu bukan aku, tapi mulutku ini," timpal Biru. Langit mendelik saking kesalnya.
"Sudah ... sudah ... hari pertama bisa pengajian dan hari kedua acara wayang golek sesuai keinginan Biru." Bagas memberikan keputusan.
Biru langsung bertepuk tangan sambil melompat. "Gitu dong, Kek. Biru senang banget ini. Apalagi kalau acara wayangnya cerita tentang Parikesit dan Abimanyu. Keren! Kamu tahu gak Ila siapa mereka?" tanya Biru.
Langit menggeleng. "Abimanyu itu putranya Arjuna, nah Parikesit itu putranya Abimanyu. Itu kakek, anak sama cucu," jelas Biru terlihat antusias.
"Iya, kayak aku, Angga dan kamu," timpal Bagas.
š±š±š±
Maaf ya ... aku juga nggak tahu Biru itu nanti jadi CEO macam apa. Pokoknya kalau berharap dia jadi Aldebaran, nggak mungkin.
Eh lupa, Biru itu chairman, lebih tinggi dari CEO š
__ADS_1