
Nila sudah berdandan rapi. Ia akan menghadiri pengangkatan suaminya sebagai chairman di BG. Tentu selama pelantikan itu dia akan berada di samping Biru.
Rapat besar perusahaan dilakukan seminggu setelah Angga meninggal. Sesuai dengan tujuan Biru. Karena pernikahannya dengan Nila, kolega keluarga Marga mendukungnya. Saat itu ada tiga orang yang ditunjuk menjadi chairman, Biru, Surya dan putri dari Oomnya.
Pengangkatan Biru ini sudah diprediksi oleh para pemimpin saham. Bukan hanya karena jumlah saham Biru, juga ditambah dukungan dari pemilik saham lain. Posisinya kini tak terkalahkan. Hanya untuk tetap di tempat, Biru harus mengamankan suara dari keluarga Nila dan koleganya. Itu hanya akan terjadi selama pernikahan mereka bertahan dan sampai ia jatuhkan kolega keluarga Marga satu per satu.
"Pa! Cecak!" Minara menunjukkan cecak yang ia tangkap di taman rumah.
Anak itu sama sekali tak takut dengan binatang akibat dari bayi sering Biru ajak main serangga dan teman-temannya. Biru tersenyum. Ia usap rambut Minara.
Sampai di ballroom tempat pelantikan, Biru disambut banyak orang. Keberadaan Minara menjadi sorotan publik. Biru sering ditanya tentang balita yang tertangkap kamera dengannya itu. Dengan tegas Biru menjawab putrinya, tapi belum ada yang memiliki kepastian siapa ibu dari balita itu.
Beberapa menganggap Minara putri Biru dengan Nila. Ada juga yang menganggap Minara putri angkat. Tak ada orang yang mengenal Biru, berani bicara pada media. Alasannya karena takut.
__ADS_1
Nila dan Biru duduk berdampingan di jajaran depan. Sekilas, semuanya berjalan normal. Hingga Biru dipanggil ke panggung untuk dilantik menjadi chairman baru. Begitu stempel perusahaan berpindah padanya, semua orang memberi tepukan tangan. Tak lama para tamu dari petinggi BG berdiri lalu menunduk memberi hormat pada Biru.
"Salam sejahtera kepada pimpinan dan chairman Bamantara Grup!" ucap semuanya bersamaan. Salam itu juga diucapkan oleh para karyawan lain yang tak mendapat undangan pelantikan di kantor mereka masing-masing. Bamantara tercatat memiliki empat belas cabang perusahaan dan tujuh diantaranya memilik gedung sendiri dan tujuh berada di Silver Tower.
Nila naik ke atas panggung. Minara dituntun staff wanita Biru untuk ikut naik. Tangan Biru mengulur. Lekas Minara berlari dan meraihnya. Ia melambai pada semua tamu di sana. Sungguh gadis kecil yang benar-benar mencuri hati. Tak ada satu pun orang di sana yang tidak memuji kelucuannya.
Nila menggandeng tangan Biru seolah memberi kesan jika rumah tangga mereka harmonis. Sambil melambai pada media, Nila membisikan sesuatu pada Biru. "Ingat! Dukungan kolega ayahku yang mendukungmu!"
"Ingat! Kalau aku tidak naik jabatan, kau juga bukan apa-apa!" balas Biru.
"Memang masalah? Aku tak peduli kalau aku harus kembali ke kampungku dan jadi orang biasa," jawab Biru enteng walau dalam hatinya bergejolak. Jika ia turun jabatan, ia hanya bisa menjadi dewan penasehat dan sulit mengangkat dan memecat orang di perusahaan tanpa dukungan.
Nila merasa kesal dengan itu. Ia melepas rangkulan tangannya. Yakin sesi foto selesai, Nila turun duluan dari tangga.
__ADS_1
"Satu ... Dua ... Tiga ...." Minara mengangkat jarinya satu per satu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Biru.
"Behitung, Pah!" tegas Minara.
Biru baru sadar ada sesuatu yang hilang. "Cecak tadi kemana?" tanya pria itu.
Minara menunjuk Nila. "Itu! Katana mau ikut Bibi," jawabnya sambil nyengir kuda.
Biru tersenyum dan mengusap rambut putrinya. "Anak papah pintar. Kamu tahu saja keinginan binatang, ya?"
Baru beberapa detik, Nila merasa ada yang merayap di lengannya. Ia mengangkat lengan dan memastikan apa yang bergerak di sana. Melihat makhluk berekor dan berkaki empat juga warnanya coklat muda menjulurkan lidah, saat itu juga Nila berteriak ketakutan hingga membuat para tamu kaget.
__ADS_1
Cecak itu melompat ke roknya. Di sini Nila histeris, menepuk-nepuk pakaian hingga mengusap-ngusap rambut sampai pakaian dan rambutnya berantakan. Biru dan Minara tertawa.
š±š±š±