
KALAU MAU VOTE, PASTIKAN APLIKASINYA SUDAH YANG TERBARU. VOTE HANYA BERUPA TIKET, SEMENTARA POIN DAN KOIN DIBERIKAN LEWAT HADIAH. OKE š
TOLONG TEKAN JEMPOL SETIAP CHAPTER YA?
š±š±š±
Jika saja Biru tidak berjanji pada kakeknya akan kuliah yang rajin asal diizinkan menikah dengan Langit, ia tak akan bersusah payah duduk di kelas. Dosennya sudah bicara ngalor ngidul membahas tentang merkantilisme. Hanya otak Biru malah berjalan ke Bali, memikirkan bagaimana romantisme bulan madu bersama istrinya.
Sesekali ia menguap. Jika sudah pegal duduk bersandar ke kursi, ia akan menunduk sambil menopang jidat ke sisi meja. Apapun ia lakukan asal tak ketahuan tidur di kelas dan dosennya mengadu pada kakek.
"Tuan muda Bamantara!" panggil dosennya. Biru terperanjat. Pria itu berdiri dan memberi hormat saking kagetnya. "Apa anda sedari tadi memperhatikan penjelasan saya?" tanya dosennya dengan tegas.
Kemarin Biru mendapat pesan. Kakeknya memberi amanat untuk memperlakukan Biru di kampus dengan tegas. Jika didapati nilai Biru direkayasa, dosen di sana akan dipecat. Jadilah Biru sekarang terpaksa berada di jalur yang benar setelah satu semester kuliah di sini hanya numpang absen.
"Tentu, Pak. Saya melamun fisiknya saja. Otaknya masih di kelas," jawabnya.
Jawaban Biru membuat teman satu kelasnya tertawa. Dosen yang kesal mendapati jawaban tak sopan itu tentu membalas dendam dengan cara elegan. "Menurut kamu, kenapa teori merkantilisme klasik tak lagi dipakai di dunia internasional?" tanya dosennya.
__ADS_1
"Karena gak up to date, pak," jawabnya enteng.
Dosennya tentu saja gemas. "Apanya yang tak up to date?"
"Segala macam yang klasik sudah jadi benda museum dan koleksi. Teori juga," timpal Biru.
"Kamu ini mempermainkan saya?" Dosennya mulai kesal dengan perbuatan mahasiswa gagal taubatnya ini. "Inilah, kamu sudah tak pernah masuk, sekali masuk malah melamun. Saya jelaskan panjang lebar dari tadi malah tak memperhatikan. Mau jadi apa kamu?"
"Saya gak salah, Pak. Mungkin ucapan saya bercanda, tapi memang begitu keadaannya. Segala sistem yang sudah tak sesuai zaman tentu akan diganti dengan sistem lain yang lebih menguntungkan dan sedikit sisi negatifnya. Sejak adanya Hak Asasi Manusia, setiap orang bebas mengutarakan pikiran. Di sana mulai tercipta beragam cara memecahkan masalah termasuk dalam dunia bisnis," jelas Biru.
"Merkantilisme klasik berkembang di Eropa abad ke-16. Teorinya yang hanya mendukung anggapan bahwa kesejahteraan negara dinilai atas aset dan modal negara tersebut membuat invasi besar-besaran, perebutan wilayah dan yang pasti penjajahan. Saat itu manusia hanya tahu jika modal dan aset hanya berupa lahan dan hasil kebun saja. Sekarang lain, teknologi semakin maju. Orang mulai semakin membuat terobosan sendiri. Mulai banyak muncul ide sehingga sektor ekonomi semakin luas. Kita contoh saja di bidang teknologi. Sebelum internet ditemukan, mereka hanya fokus pada jasa penyedia jaringan. Kini, banyak profesi dikembangkan hanya dari munculnya internet. Dari designer laman web, vlogger, sampai selebritis media sosial. Orang tak lagi berbondong-bondong membeli lahan. Investasi lebih banyak berupa saham perusahaan sampai deposito," jelas Biru.
Biru terdiam. Ia menatap ke sekelilingnya di mana ia menjadi fokus utama. Beberapa detik kemudian dimulai dari tepukan tangan dosennya, seisi kelas memberikan Biru tepukan tangan.
Tertegun Biru. Ia seakan ingat masa kecil saat ibunya masih ada. Bagaimana di kelas ia selalu mendapat pujian dari guru dan teman sekelas akibat prestasinya. Ia anggap semua itu tiada berguna karena papahnya tak pernah peduli. Hanya hari ini lain, Biru seperti mendapat kebahagiaannya lagi. "Iya, aku bisa berguna juga, asal aku mau," batinnya.
Di tempat lain, Bagaskara - kakeknya Biru bisa tersenyum bangga. Dosen Biru menceritakan kejadian itu padanya. "Benarkah? Cucuku mengatakan demikian?" tanya Bagaskara.
__ADS_1
"Iya, Tuan Besar. Anda memang benar tentang Tuan Muda. Ia sebenarnya sangat cerdas. Aku juga kaget pemikirannya bisa sehebat itu," cerita dosennya.
Bagaskara menutup telpon itu dengan senyuman melengkung di bibir. Sesekali ia tertawa. "Ada apa, Pak?" tanya Roni, asisten kepercayaan Bagaskara.
"Kamu tahu, Biru membuat dosennya kagum hari ini," ucap Bagaskara bangga.
Roni turut tersenyum. "Semakin hari Tuan Muda semakin dewasa. Saya mendapat laporan dari Nona Langit, Tuan Muda sudah bisa mengikat tali sepatu sendiri," cerita Roni.
Bagaskara mengangguk. "Peramal itu tidak salah tentang Langit. Anak itu akan memutus kutukan keluarga Bamantara. Kita tunggu saja sampai ia melahirkan cucu perempuan pertama keluarga ini," timpal Bagas.
Roni mengangguk. Tak lama Bagaskara terdiam. "Hanya saja Angga masih menjadi batu sandungan. Untuk itu, kita harus menyiapkan Biru hingga benar-benar siap. Seperti yang aku katakan, matahari di keluarga Bamantara hanya ada satu dan itu Biru."
Roni mengangguk. "Saya pastikan seluruh saham aman tersimpan atas nama kolega kita. Jika sudah tiba waktunya, mereka siap berdiri di belakang Tuan Biru."
Bagaskara mengangguk-angguk. Ia tatap bidak catur yang sering ia mainkan dengan Biru. Ia tahu, cucunya bukan orang biasa sejak Biru mengalahkannya main catur di usia empat tahun.
"Ia sudah tercipta untuk menjadi seorang Raja sejak usianya masih kecil. Untuk itu, apapun yang terjadi ... aku pastikan Biru akan duduk di singgasananya."
__ADS_1
š±š±š±
TUNGGU UP SELANJUTNYA YA? JANGAN LUPA KALAU MAU TIDUR, JANGAN PAKAI EMBER DI KEPALA. TERIMA KASIH.