Mr. Tajir Jatuh Cinta

Mr. Tajir Jatuh Cinta
Tak Pernah disangka


__ADS_3

"Ini apa, Bu?" tanya Langit begitu Fitri memberikan kalung itu pada Langit. Putrinya itu terlihat sangat senang dan terpukau dengan keindahan kalungnya.


"Ini restu dari ibu mertuamu," batin Fitri yang tak mau mengungkap hubungan masa lalunya dengan Mira. Biar itu terkubur bersama Mira agar tak membuka kembali luka Biru.


Fitri dan Mira berteman sejak SD akibat mereka bertetangga. Mira yang tinggal di rumah paling besar di kampungnya memang putri dari juragan pemilik peternakan sapi paling terkenal di kampung mereka. Ia sering main ke luar dan bertemu Fitri.


Lain dengan anak kaya di lingkungan Fitri, Mira begitu baik hati. Mira tak pernah memilah teman. Orang tuanya juga. Sering Mira menginap di rumah Fitri dan tak pernah orang tuanya melarang.


Saat lulus SMA, keduanya merantau ke Bandung. Fitri bekerja menjadi pembantu rumah tangga sementara Mira kuliah di universitas swasta paling terkenal di Bandung.


Meski memiliki nasib yang berbeda, mereka masih berteman. Mira datang saat Fitri menikah dengan sesama pembantu di rumah tempat ia bekerja. Bahkan saat Mira menikah dengan Angga, Fitri juga datang.


Fitri pikir hidup Mira akan seindah seperti awal dia memulai rumah tangga. Begitu suami Mira naik jabatan, Mira dan Fitri jarang bertemu. Fitri pikir Mira sudah tak mau berteman lagi dengannya. Padahal saat Langit lahir, Mira sempatkan datang dan memberi nama itu untuk bayi perempuannya.


"Biar sepasang. Nama anakku Biru, biar putrimu Langit saja. Siapa tahu sudah besar jodoh, Teh," kelakarnya.


Senyumnya persis sama seperti Biru. Senyum yang meneduhkan lagi menenangkan. "Mana pantas. Kami ini hanya pembantu, kamu Nyonya besar. Tuan Muda pasti dapat jodoh dari orang kalangan atas."

__ADS_1


Bertahun-tahun tak bertemu lagi sejak hari kelahiran Langit, tiba-tiba Mira mengajak bertemu. Itu pun mereka janjian melalui surat yang dikirim pembantunya. Dia menitipkan kalung ini juga meminta Fitri menjaga Biru.


"Tolong buat dia selalu bahagia, jangan biarkan dia kurang kasih sayang," pinta Mira.


Sejak Fitri celaka, ia tak pernah lagi mendengar kabar Biru hingga Bagas menelpon dan meminta Langit untuk menjadi cucu menantunya.


"Bu, aku senang sekali di sini. Aku rasanya seperti punya keluarga," ucapan Biru saat itu seakan membuat Fitri tenang.


"Kalau aku meninggal pun, aku sudah menjalankan amanah dari Mira untuk memberikan Biru kebahagiaan dan memberikan kalung ini pada menantu Mira," batin Fitri.


Langit masih tersenyum melihat bandul bulan sabit pada kalung yang tergantung di lehernya. "Ibu, kok malah melamun? Lihat! Langit cantik pakai ini gak?" tanya Langit.


Kali ini Langit manyun. "Kok mirip ayah, atuh Langit teh ganteng!" protes Langit.


Obrolan itu terpecah ketika Biru datang dari makam. Langit lekas membawakan Biru handuk untuk membersihkan diri. "Aa, habis mandi makan, ya? Mau langsung ngampus apa mau libur dulu?" tanya Langit.


"Libur dulu saja, La. Sudah izin sama kakek dan jelasin masalahnya. Katanya kalau itu boleh, kalau izin karena malas aku gak akan dia akuin cucu lagi," jawab Biru sambil berteriak dari kamar mandi.

__ADS_1


Langit lekas membuatkan Biru mie Ind*mie dengan telur yang dimasak langsung ke dalam kuah mie lalu dikocek ditambah cabe rawit. Setelah masak, mie itu ia masukan dalam mangkuk kemudian ditaburi potongan mentimun juga bawang goreng. Menu sarapan legendaris kalau sedang tak ada bahan lain di rumah.


"Apa itu, La?" tanya Biru.


"Mie ayam bawang kesukaan Aa. Cepat ganti baju terus makan. Keburu mienya mengembang," saran Langit. Biru mengangguk saja. Ia lekas masuk ke kamar untuk ganti pakaian.


"Suamimu itu dikasih makan apa saja gak protes," puji Bu Ani.


"Iyalah, Bu. Kata kita makanan begini sudah biasa. Kalau Aa mah mana pernah ngerasain. Baru rasain micin saja pas pacaran sama Langit," timpal Langit.


Bu Ani menggaruk kepalanya meski tak gatal. "Kok bisa, La? Emang suamimu itu selama ini makan apa?" tanya Bu Ani bingung.


"Yah gitu, Bu. Makan hati dikasih jantung sama makan janji palsu," timpal Langit.


"Sekalian saja, La. Makan buah simalakama," timpal Biru baru keluar dari kamar dan mendengar sedang dibicarakan.


🌱🌱🌱

__ADS_1


toge lewat. Makasih masih mau baca novel level empat ini 🤣🤣🤣 wkkww segitunya si Aa dihargai di sini šŸ˜“


__ADS_2