
Menerima kenyataan itu kadang lebih sulit daripada memecahkan soal fisika. Apalagi kenyataan saat kau terhina dan dalam sedetik kemudian menjadi seseorang yang dihormati. Biru merasakan itu, saat ia harus menahan berat sebuah tanggung jawab besar.
Ini bukan soal berapa banyak saham yang ia punya, tapi saham-saham itu milik sebuah perusahaan besar. Dalam perusahaan itu banyak orang bergantung mencari nafkah untuk keluarga. Bagaimana bisa kakeknya dengan mudah menitipkan tanggung jawab itu pada Biru.
Melihat banyak orang menunduk hormat padanya, Biru mulai goyah. Ia berlari meninggalkan ballroom. Beberapa staff sempat mencegah, hanya ia cukup cekatan untuk melarikan diri. Biru naik ke dalam angkot dan meninggalkan staff yang mengejarnya.
Roni menghampiri Angga. Ia memberi hormat pada Chairman BG itu. "Bicara denganku!" tegas Angga. Lekas ia meninggalkan ruangan dengan perasaan kesal. Roni mengikutinya.
Nila melipat tangan di dada sambil tersenyum. Ia melihat sebuah jalan besar untuk mengalahkan Nindy. Apalagi ketika papanya bertanya. "Nila, apa kamu mau menjadi ratu?" tanya Haris.
"Asalkan Rajanya Biru Bamantara, aku tak keberatan papa," jawab Nila pasti.
Haris mengangguk-angguk. Ia tatap putri pertamanya, Nindy dari kejauhan lalu tersenyum sinis. "Kamu memang lebih pantas menjadi Ratu dan melahirkan pemimpin dari keluarga kita," tegas Haris.
__ADS_1
Sementara itu, Angga duduk di sofa kantornya. Ia mencoba mendinginkan pikiran. Roni berdiri tak jauh dari Angga. "Ceritakan dulu. Apa maksud papaku melakukan itu?"
"Tuan Bagaskara menggap Tuan Muda Biru jauh lebih layak dalam memimpin dan menggantikan anda," jawab Roni tanpa berani menatap Angga.
"Karena?" tanya Angga lagi.
Roni melirik ke kanan dan kiri. Ia agak takut jika di ruangan itu ada alat penyadap atau CCTV. "Apapun yang terekam di sini hanya rahasia kita berdua," tegas Angga.
Roni mengangguk. "Selama ini Tuan Bagaskara sudah memalsukan hasil tes IQ Tuan Muda. Hasil sebenarnya ...." Kalimat Roni terpotong
Roni tak mampu berkata-kata. Sementara Angga menarik bantal sofa lalu melemparnya. Angga mulai kelimpungan. Ia bingung harus berbuat apa. Biru memang pintar, tapi ia tahu benar anaknya sangat berperasaan. Rasa itu yang Angga takuti akan membuatnya kalah.
"Sekarang kita tak ada pilihan lain kecuali membimbing Biru untuk mengetahui permainan kotor dalam perusahaan ini. Dia harus mendapat dukungan untuk benar-benar menguasai seluruh direksi. Mau tidak mau, aku terpaksa melepaskan Surya." Angga menutup matanya.
__ADS_1
Pasti akan ada yang memanfaatkan Surya untuk melawan Biru suatu hari nanti. Angga memanggil Burhan masuk ke dalam ruangannya.
"Apa yang perlu saya bantu, Tuan?" tanya Burhan dengan wajah yang menunduk.
"Turunkan Surya dari jabatannya, pindahkan ia ke Bamantara Hospital. Pastikan seluruh direksi yang mendukungku menyetujui keputusan ini. Kita harus bergegas sebelum ada yang memanfaatkan keadaan," tegas Angga.
Biru turun dari angkot dengan langkah yang lunglai. Ketika ia berjalan di gang, semua orang menatapnya. Mereka melihat foto Biru terpampang jelas di televisi. Tak mungkin tak ada orang yang tak mengenalinya sekarang. Mereka semua tahu siapa Biru dan latar belakang keluarganya.
"Tuh kan, pantas saja ia kelakuannya aneh. Dia pasti nggak pernah hidup kayak kita," banyak ibu-ibu yang membicarakan Biru.
"Nggak enak aku, sering nyuruh dia ronda sama kerja bakti. Kalau dia dendam gimana? Bisa mati tanpa ketahuan orang aku ini," curhat Pak RT.
Biru bisa mendengar dan melihat orang-orang di kampung itu menjauhinya dan itu membuatnya merasa sedih. Ia hanya ingin kehidupannya kemarin kembali. Ia ingin punya teman, ia ingin bergaul dengan masyarakat, ia ingin hidup tanpa beban. Ia hanya ingin orang mengenalnya sebagai Biru, pria yang sederhana dan selalu membuat orang tertawa.
__ADS_1
š±š±š±