
"Orang paling kasihan tukang kasur tadi, ya? Jauh-jauh bawa kasur ke sini malah dibawa lagi," keluh Biru sambil mengecek ponsel milik Mas Parmin.
"Mau bagaimana lagi, masuk kamar saja gak bisa." Langit terbaring di peraduannya.
Ponsel Mas Parmin Biru simpan di atas meja belajar. Biru menguap, ia naik ke atas tempat tidur. "Ucapanku benar 'kan soal menolak pemberian kakek untuk membangun rumah? Aku ingin mandiri, La."
"Gak salah kok. Kita memang harus mandiri. Buat apa rumah tangga kalau apa-apa masih dari orang tua. Benar, kan?"
Kedua tangan Biru memeluk Langit dengan erat. Ia kecup pipi istrinya. "Jarang loh ada istri kayak gini. Istrinya Biru memang tiada duanya," puji Biru.
Jemari Langit mengusap rambut suaminya. Ia turun menyentuh garis lurus alis Biru dan lembut kulit wajah pria itu yang putih bersinar seperti s*nlight.
"La, kalau suatu hari nanti kita punya anak, tentu aku harus bisa mengajari dia untuk mandiri. Kalau aku gak mandiri, bagaimana bisa dia meneladaniku. Bukannya ayah adalah tempat anak belajar kuat menghadapi dunia?" Biru mengawang. Ia membayangkan seperti apa ia kelak memiliki anak.
"Sejak kecil aku hidup tanpa kasih sayang papah. Aku lebih dekat dengan mamah. Lihat saja aku sekarang, manja. Hidupku selalu bergantung."
"Kata siapa itu? Menurutku gak semua dekat dengan ibu jadi manja," protes Langit. Meski sejak kecil ia paling dekat dengan ayahnya.
"Lihat di buku parenting. Aku mau belajar jadi orang tua yang baik sebelum anak kita lahir. Jadi gak syok pas ngurus bayi, jagain balita dan ngebimbing anak-anak," jawab Biru.
Mungkin banyak orang yang akan mencela karena Langit menikahi pria yang serba tak bisa dan tak memberinya rumah. Langit tak peduli, orang-orang itu belum tentu akan seperti Biru. Ia bertanggung jawab pada posisinya di rumah tangga, tanggung jawab ini harganya paling mahal.
__ADS_1
"Aku bangga sama Aa. Aa Biru suami paling hebat di dunia," puji Langit.
Biru terkekeh. "Sekarang aku resmi dapat panggilang suami, nih?"
Anggukan Langit seakan memberi persetujuan. "Di lingkungan ini 'kan manggil suami pakai Aa. Lagian kita sama-sama orang Sunda," jelas Langit.
Ia termenung. Mendadak ia ingin mempermainkan suaminya. Bukan apa-apa, banyak orang kelas atas yang tidak bisa bahasa daerah akibat sejak kecil dibiasakan berbicara Bahasa Indonesia. Menurut Langit, Biru juga begitu.
"Aa, terang teu? Abdi teh resep ka salira. Rasa kaasih abdi tiada tandingna. Aa teh pikaresepen boh tina raga, laku, cariosan," ucap Langit.
Biru menaikan alisnya. Kemudian Langit terkekeh. Ternyata benar tebakannya, Biru tak bisa bicara bahasa Sunda.
"Ulang lagi, La. Tadi bilang apa?" pinta Biru.
Tarikan napas Biru dan embusannya begitu lembut. "Kamu nanya, aku tahu gak. Kamu suka sama aku. Rasa sayang kamu gak ada tandingannya. Aku ini mudah disukai baik fisik, perilaku dan ucapan. Leres?" Biru menerjemahkan ucapan Langit.
Wanita yang berbaring di samping Biru itu mematung lalu ia berbalik sambil menutup wajah dengan telapak tangan. "Aa, bikin malu, ah. Kenapa gak bilang kalau bisa bicara bahasa sunda!" protes Langit.
Biru sampai tertawa geli akibat perilaku istrinya. "Iyalah, dari kecil aku diasuh pelayanku. Mereka kalau ngobrol pakai bahasa sunda. Papahku memang gak bisa, tapi aku bisa," jelas Biru.
"Sudah, ah! Tidurnya jangan hadap-hadapan. Aku malu," keluh Langit.
__ADS_1
"Lha, tadi katanya mau silat di atas ranjang," keluh Biru. Ia padahal sudah siap bangun pabrik boneka malam ini.
"Belajar saja dulu jadi ayah yang baik di buku. Baru nanti bikin," tolak Langit. Ia menarik selimut dan menutupi diri sampai kepala.
"Pelajaran untuk para suami, kalau mau main sama istri di kamar, jangan bikin dia malu," tegas Biru. Ia balas membelakangi Langit.
Matanya menatap lurus ke arah meja belajar. Ada hape Mas Parmin di sana. Penasaran Biru, berapa ia akan dibayar untuk hape itu. Kalau lumayan banyak, ia benar akan belikan Langit sepatu mahal. Minggu depan, ia juga akan mendapatkan gaji dari pekerjaannya.
Lain di rumah mewah yang ada di kawasa elit Kota Bandung, Surya duduk di atas kursi santai dekat kolam renang sambil meminum segelas jus. Di kursi santai satunya Nindy, istri Surya juga duduk santai dengan menyandarkan punggung.
"Kamu yakin adik kamu gak akan kembali lagi?" tanya Nindy.
"Tentu saja. Papah sudah mengusirnya. Itu yang aku tunggu. Aku pastikan dia tak akan mendapat sepeser pun dari harta keluarga ini," ucap Surya.
"Bagaimana bisa? Dia masih ada dalam susunan ahli waris. Meski saham tak akan jadi miliknya, harta keluarga ini masih bisa ia dapatkan." Nindy memutar gelas jusnya.
"Bisa saja. Kalau dia lenyap. Tinggal kita cari waktu yang tepat. Sekarang dia sudah tak ada di rumah ini. Ia lebih mudah jadi sasaran. Tinggal menunggu kakekku mati, dia tak ada lagi pelindung. Berapa kali aku tekankan Raja keluarga ini, hanya aku," tekad Surya.
Nindy tertawa. "Dan Ratu Bamantara hanya diriku," timpal Nindy.
🌱🌱🌱
__ADS_1
Maki saja ini dua bahlul!