
"Aku bosan," keluh Biru lagi. Ia hanya berguling-guling di atas kasur. Sudah banyak video film Suzanna ia tonton di YT dari beranak dalam kubur, malam jumat kliwon sampai ratu buaya putih. "Dari tadi otakku cuman mikirin Bang Bokir. Biasanya kalau gabut begini aku sudah sampai ke Swiss."
Langit masuk ke dalam kamar. Rencananya ia ingin mengambil gunting untuk membuka kemasan minyak goreng. "Aa kenapa?" tanya Langit.
"Aku bosan, La. Sudah nonton, sudah mandi, sudah makan, tetap saja bosan. Mana anak-anak lagi jalan-jalan ke Lombok," rengek Biru.
"Ouh, Aa masih mau main sama teman-teman gitu. Masih mau jadi bujangan?" tegur Langit.
Biru bangkit kemudian menggeleng. "Gak gitu, La. Kalau hari libur gini aku sering bingung mau ngapain. Diam terus badan rasanya sakit," jelasnya.
"Tunggu Langit isi minyak goreng ke botol dulu. Mumpung ada Bu Ani, kita pergi jalan-jalan," ajak Langit.
Di sana Biru langsung bersemangat. Ia langsung berjalan ke luar dan menunggu di teras rumah. Tak lupa ponsel dan dompet ia bawa juga. Langit yang sudah mengisi botol minyak datang ke teras. Biru terdiam melihat istrinya yang memakai kaos juga celana pendek.
"Nggak ganti baju?" tanya Biru.
"Ngapain? Kita cuman main ke belakang," timpal Langit. Ia memakai sandal jepit lalu berjalan menyusuri gang. Biru ikut saja. Jalannya ke bagian belakang kampung. Rupanya ada jembatan kecil dekat selokan. Biru sempat ke sana untuk kerja bakti, tapi tak menyusuri jembatan itu.
__ADS_1
Jembatannya memang diapit dua rumah hingga tak terlihat ada apa di balik sana. Langit berjalan melewati jembatan beton itu dan Biru masih berjalan di belakangnya.
"Pernah ke sini, gak?" tanya Langit sambil menunjukkan pemandangan sawah yang sudah menguning siap untuk dipanen.
"Wah, keren banget!" seru Biru.
Ia turun lebih dulu lalu menuntun Langit turun. Berjalan di pematang sawah sambil saling berpegangan tangan. Semilir angin meniup tubuh dan memberi kesegaran dan merasuk ke batin.
"Lihat, langitnya biru sekali!" tunjuk Biru ke atas. Langit mendongak dan melihat langit yang bersih dengan sesekali burung pipit beterbangan.
"Seperti nama kita berdua," tambah Biru.
Padi bergerak-gerak tertiup angin. Menyentuh tangan langit yang meremas akibat jatuh dalam lembut ciuman suaminya. Detik demi detik dan menit demi menit. Tangan Biru melingkar di pinggang.
Ketika bibir itu terpisah. Kembali mereka saling balas tatap. Biru tergoda lagi untuk meraih bibir istrinya dengan bibirnya lagi. Tak lama ia melepaskan ciuman itu. "Ah, masih sore. Jadi gak tahan ingin cepat malam," keluhnya lagi.
Langit terkekeh. Biru memalingkan pandangan melihat sekeliling di mana langit biru memayungin hamparan kuningnya padi.
__ADS_1
"La, ini rumput apa?" tanya Biru penasaran.
"Ini padi, pohonya beras yang dimasak jadi nasi," jawab Langit.
"Terus berasnya mana?" tanya Biru lagi.
Langit menarik tangan suaminya agar menunduk. "Ini loh, A. Ini biji padi," tunjuk Langit pada bunga padi yang sudah menguning.
Biru menggaruk kepala. "Kok kuning, bukannya warnanya putih?"
"Ini yang kuning cangkangnya. Dalamnya putih." Sengaja Langit mengambil satu biji padi dan mengupasnya. Ia perlihatkan isinya pada Biru hingga pria itu percaya.
"Kasian ya orang yang ngupasinnya. Satu saja susah begitu. Mana beras sekilo saja banyak. Berapa lama waktu buat ngupasnya," ucap Biru dengan polos berlapis bodoh seperti biasa. Ia benar tak mencirikan manusia yang mendapat peringkat satu di kampus.
"Iya gak dikupas satu-satu lah, A. Pakai mesin. Makanya Aa ini kalau nonton YT jangan nonton film hantu saja. Sekali-kali nonton soal asal-usul makanan," saran Langit
"Iya, sekalian aku juga mau cari tahu. Gimana masukin kacang dalam kacang atom. Kok bisa ya dalam bulatan kecil gitu ada kacangnya. Apa gak sakit tangan gulung satu-satu," pikir Biru.
__ADS_1
Langit mengedipkan kedua matanya. "Nah, itu juga Langit nggak tahu, A. Apa iya ya, dimasukin satu-satu kacangnya."
š±š±š±