Mr. Tajir Jatuh Cinta

Mr. Tajir Jatuh Cinta
Teknisi Abal-abal


__ADS_3

Yo, Calon pimpinan sengklek datang lagi menyapa. Ilu si ulat keket.


🌱🌱🌱


"Ini?" tanya Randy sambil memberikan sekeresek alat seperti solder, timah dan cairan flux pada Biru. Dia juga agak heran apa yang akan dilakukan sahabatnya ini dengan benda-benda ini.


"Makasih, Ran. Nanti gajian aku ganti," ucap Biru dengan wajah senang.


"Gak usah, cuman dua ratus rebu. Buat jajan sejam saja gak cukup," timpal Randy.


Dengan kasar Biru menoyor kepalanya. "Jangan sombong kamu! Belum tahu saja gimana rasanya hidup susah. Dua ratus rebu itu langka!" nasehatnya.


"Ya ampun, Ru. Kamu sekarang mendadak taubat begini. Yakin gak kepeleset terus kebentur tiang listrik tadi? Kamu yang gak tahu bentuk duit lima rebu dan buang uang dua puluh juta buat seiket kembang, mendadak jadi perhitungan." Randy sampai memegang jidat Biru takut ia sedang demam.


"Kerjaku jadi satpam itu kehitung ringan. Sebulan tanpa libur cuman dibayar satu juta setengah. Kamu tahu gak, ada tukang kerupuk kemana-mana memikul toren gede banget buat cari nafkah," omel Biru.


Randy menggeleng-gelengkan kepalanya seperti burung kakak tua. "Benaran ya, nikah sama Langit langsung bikin kepala kamu berotak, Ru." Tak tahu ucapan Randy itu untuk memuji apa menghina.


"Ouh ya, emang itu buat apa sih?" tanya Randy masih penasaran.


"Bu Ani, pengasuh mertuaku hapenya rusak. Mau aku benerin," jelas Biru.


"Kamu benerin apa mau kamu makin rusakin?" Randy menarik keresek dari tangan Biru. Namun, Biru masih mempertahankan keresek itu. "Ru, jangan main-main. Kalau kamu benerin hape dan meledak, Bandung bisa kayak Chernobyl."

__ADS_1


"Mana ada? Ini cuman hape n*kia doank. Berlebihan kamu tuh!" protes Biru.


"Tetap saja, Ru. Kalau meledak dideket kamu, bisa gak ganteng lagi. Apa kamu gak takut? Nanti ditinggal Langit, merana baru sadar!"


Biru mendengkus. "Gak sampai kayak gitu, kok. Aku bisa benerinnya. Kalau beneran bisa, kamu traktir makan di restoran Thailand, ya?" ancamnya.


"Kalau kamu masih selamat, Ru. Hanya kalau kamu meninggal, datang dulu ke mimpiku kasih tahu minta aku yasinin, ya?" Lagi Randy meledek.


Biru tak gentar. Ia yakin bisa melakukannya. Ia memang bodoh dalam melakukan hal kecil, bukan artinya tak bisa melakukan hal besar.


Jam istirahat, Biru pergi ke gudang kampus. Ia ingat di sana ada colokan listrik untuk menyalakan solder. Dibantu cahaya dari flash light ponsel apelnya, Biru mulai mempelajari cara kerja komponen elektronik hape dari internet.


Selesai mengenal teori, Biru membongkar ponsel itu. Ia memisahkan bagian mesin dengan LCD dan komponen lain. Kemudian membersihkannya dengan tiner.


Mungkin setelah ini, Biru akan kena marah Langit. Ia mencuri sikat gigi di kamar mandi untuk ia gunakan membersihkan komponen hape Bu Ani dengan tiner.


"Kayaknya masalahnya di sambungan pinnya," pikir Biru.


Ia mengambil timah lalu menyolder kawat timah dari fleksibel LCD pin no 5 menuju resistor. Menunggu beberapa saat hingga timah dingin, baru Biru memasang kembali casing hape dan mencoba hasil kerjanya. Baru menekan beberapa detik, ponsel itu kembali menyala.


"Jam berapa ini?" Biru tertegun. Ia melihat jam di tangannya. Sudah satu jam lebih ia di sana. Lekas Biru membereskan seluruh alat dan memasukan dalam tempatnya. Kecuali solder dan blower yang masih panas. Ia bisa ambil esok di sana dengan menyembunyikan diantara barang tak terpakai.


Tiba di kelas, Biru kaget karena istrinya ada di depan kelas. "Ila? Kenapa ada di situ?" tanya Biru.

__ADS_1


Langit melipat tangan di depan dada. "Hape Bu Ani mana? Biar Ila bawa ke tukang service saja. Daripada kita ganti baru," pinta Langit sambil mengulurkan tangan.


Biru mengeluarkan ponsel Bu Ani dari sakunya. "Gak perlu, ini sudah nyala, kok."


Biru sampai menyalakan ponselnya di depan Langit. "Ini coba saja, tuh." Beberapa aplikasi ia buka dan semua berjalan dengan normal. "Bilang sama Bu Ani, jangan suka ngejatuhin hape. Mendingan jatuhin harga diri orang," nasehat Biru.


"Ini kamu bawa ke tempat service?" tanya Langit masih tak percaya.


"Aku yang benerin di gudang. Sampai belum makan siang loh," keluhnya.


"Ilu yang benerin? Yang benar?"


Biru mendengus. "Masa gak percaya aku. Mentang-mentang aku gak bisa pakai WC bukan artinya gak bisa pakai solder. Kalau ada hape rusak juga aku siap benerin. Lumayan uangnya buat nambah-nambah beli sepatu kamu," tunjuk Biru pada sepatu istrinya yang sudah kusam.


Langit menunduk. Ia melihat sepatunya tak lama menatap suaminya. Apa papah kamu gak tahu kamu ini mengagumkan? Langit memegang pipi Biru. "Aku mau beli besok. Ada uang, kok. Tadinya buat benerin hape Bu Ani. Kalau gak jadi, ya sudah aku belikan sepatu."


"Berapa?"


"Seratus ribu," jawab Langit.


"Mana cukup! Harga sepatu ini saja satu juta."


"Iya lah, itu sepatu mahal di merk. Makanya beli di pasar saja. Dari lima puluh sampai ratusan ribu ada. Uang sejuta bisa dapat lima."

__ADS_1


🌱🌱🌱


Bantu iklanin ya biar banyak yang baca. Biar mereka ikut keselek baca novel ini.


__ADS_2