
"Halo Minara!" sapa Nila melihat malaikat kecil itu berjalan melewati pintu rumah. Biru menyusulnya di belakang. "Kamu cantik sekali, ya?"
"Tima kasih, Bi!" jawab Minara dengan entengnya.
"Bi?" Nila syok mendengar panggilan Minara untuknya.
"Kata papa, bukan codala, ikut-ikut di lumah, bibi tuh!" jelasnya.
Nila menarik napas dengan cepat. Ia tatap Biru yang melipat tangan di dada sambil tertawa melihat ekspresi Nila.
"Kamu anggap aku pembantu!" protes Nila.
Biru melangkah. "Bawa koperku ke dalam ya, Bi!" tegas Biru. Ia tuntun Minara masuk.
Nila berteriak kesal. Padahal sudah bertahun-tahun berlalu dan Biru masih bersikap dingin padanya. Bahkan pria itu tak pernah membuka pintu setiap kali Nila datang ke Cambridge untuk menengoknya.
"Biru! Aku Nyonya di rumah ini sekarang. Kamu nggak bisa memperlakukan aku seperti ini!" tegas Nila.
Biru bertemu dengan Tantri yang baru turun dari tangga. Wanita itu tampak lusuh tak seperti dulu saat Angga masih hidup. Biru tersenyum sadis melihatnya.
"Aku tak tahu harus apakan kau. Namun, kamu tahu tuan di rumah ini bukan orang yang sama," sindir Biru.
__ADS_1
Tantri tertunduk. Dia tak menyangka nasibnya akan berbalik. Tatapan kebencian Biru padanya tak berubah sama sekali. Itu pantas saja, siapa orang yang tak kesal rumah tangga orang tuanya dirusak. Hanya, Tantri tak sepenuhnya salah karena Mira sendiri juga berselingkuh.
Biru tak lagi memedulikan Tantri. Ia bawa Minara naik ke lantai atas. "Sabar, Ru. Sampai kamu temukan benda itu, baru keluar dari rumah ini!" tegas Biru.
Nila ikut naik dengan Biru ke lantai atas. Di sana ada Nindy yang baru keluar kamar untuk turun ke bawah. "Ara! Gadis cantik ini sudah besar!" sapa Nindy.
"Tima kasih, Ateu," ucap Minara ia mengulurkan tangan meminta mencium punggung tangan Nindy, sementara Nila semakin terbelalak.
"Manisnya. Anak yang santun," puji Nindy.
"Tunggu! Kenapa kamu panggil dia tante sementara aku, dipanggil bibi?" protes Nila.
Minara menatap Nila dari ujung kaki ke ujung rambut. "Jelek!" ledeknya.
"Jangan berani menyakitinya. Ingat! Dia pewaris Grup Bamantara selanjutnya!" ancam Biru.
Nila menggeleng. "Kamu salah! Anakku yang akan jadi pewaris di sini!" ralatnya.
"Memang kamu punya anak?" sindir Nindy.
"Aku dan Biru akan punya anak. Kami sudah serumah sekarang," jawabnya enteng.
__ADS_1
Nindy tersenyum kecut. Ia sungguh sangat kasihan dengan nasib adiknya itu. "Benarkah?" tanya Nindy pada Biru.
"Mungkin dia akan punya anak dengan supirku, maksudnya," ledek Biru sambil tertawa.
"Biru!" bentak Nila.
Biru melirik tajam pada wanita itu. "Aku tak yakin kamu pantas jadi seorang ibu. Jadi wanita saja belum tentu. Aku yakin wanita di dunia nggak akan mengakui kamu salah satu di antara mereka."
Setelah berkata demikian, Biru berjalan masuk sambil menuntun Minara. Ia meminta pelayan yang membawa kopernya untuk membawa koper itu ke kamar putrinya.
Nila tentu protes. Harusnya mereka tinggal satu kamar, tapi Biru dengan tegas menolak. Ia bahkan menempel peringatan di pintu kamar Minara, siluman ular dilarang masuk.
Melihat itu, Nila marah-marah sendiri di kamar. Ia melepar bantal ke cermin tempat ia berias. Kemudian Nila berjalan bolak-balik sambil menggigit kukunya.
"Kalau begini terus, bagaimana bisa aku memiliki Biru. Aku harus buat rencana. Dia harus tidur denganku, bagaimanapun caranya," pikir Nila.
Ia tatap foto pernikahannya. "Tentu saja harus anak yang aku kandung menjadi pewaris tahta keluarga ini. Aku tak sudi anak perempuan miskin yang nakal itu akan menggantikan posisi suamiku," keluhnya.
Tak lama ia memekik. "Aku nggak bisa berpikir. Ditambah setan kecil itu di rumah! Apa harus aku menyingkirkannya juga? Tidak, nanti Biru semakin anti denganku. Aku tentu harus sabar mendekati anak itu."
Ia tatap wajahnya di cermin. "Apa yang salah denganku? Aku ini cantik, tubuhku juga bagus. Kenapa dia tak tergoda sama sekali denganku!"
__ADS_1
š±š±š±