
Aku pikir kekuatanku tak ada gunanya. Aku tak tahu siapa yang harus kulindungi dengan ini. Begitu ada kamu, aku tahu kamu orangnya.
-Banyu Biru Bamantara-
🌱🌱🌱
"La, bersihin sebelah sini bisa, gak?" titah Meta. Senior Langit di restoran ini memang tidak ada kapoknya. Sudah sering Langit marahi, tetap saja tak insaf.
Langit mengambil lap di atas meja lalu melemparnya ke arah Meta. "Bersihin sendiri, Kak. Kalau Kakak punya mata, pasti tahu aku lagi kerja."
Meta syok. Belakangan ini Langit jika digalaki malah semakin galak. Sebenarnya itu ajaran suaminya. Hampir setiap Langit cerita tentang senior di restoran, Biru lebih memilih menasehati dengan bijak nanggung.
"Orang suka membully yang lebih lemah dari mereka. Kalau sekali kamu menunjukkan kelemahan, mereka akan semakin berani. Kuncinya, lawan. Aku gak akan turun tangan dulu sebelum kamu tak bisa menanganinya sendiri. Tahu kenapa?"
Langit menggeleng. "Akan ada hari di mana kamu harus lebih tangguh dari suamimu," tegas Biru.
Itu berhasil. Buktinya Meta sama sekali tak berani lagi melawan Langit. Restu juga sama. Apalagi kalimat ancaman Langit tentang sedia nomor ajudan polisi yang ia kenal. Padahal, itu bohong.
Pukul sembilan malam waktu shift Langit berakhir, perempuan itu lekas menyimpan alat kebersihannya lalu mencuci tangan. "Aku pulang dulu!" tegas Langit.
Kakinya melangkah keluar restoran. Meta dan Restu menunggu saat-saat Langit berada di luar jangkauan CCTV restoran lalu lekas Restu menyusul sementara Meta mengawasi dari teras.
Pria itu menarik tangan Langit. Jelas Langit kaget sampai berteriak. Apalagi Restu menarik dan memaksa memeluk Langit.
__ADS_1
"Lepasin!" teriak Langit sambil memukuli tubuh Restu. Pria itu terus menarik Langit menuju samping ruko yang hanya tanah kosong dan dipenuhi ilalang.
"Salah kamu! Selama ini buat aku emosi. Aku kerjai biar tahu rasa!" ancam Restu.
Langit masih berusaha meronta dengan memukuli lengan Restu. Ia juga berteriak. Tak ada yang mendengar suara teriakannya akibat suara kendaraan. Apalagi ilalang yang tumbuh di sana sangat tinggi hingga terhalang tubuh keduanya.
Dekat dengan sebuah pohon, Restu menjatuhkan Langit hingga terbaring. Langit mengusap sikutnya yang terbentur pohon. Restu duduk sambil menahan tubuh Langit. Kuatnya tubuh Langit tentu tak sepadan dengan Restu. Pria itu menarik kemeja seragam Langit. Namun, Langit masih berusaha menahan.
Tak hilang akal, Langit berusaha bangkit dan menggigit tangan Restu lalu menonjok perut pria itu. Berhasil, Restu berteriak kesakitan.
Lekas Langit berdiri dan berlari. Ia melihat sebuah batu bata patah lalu ia lemparkan ke arah Restu. "Langit! Si alan kamu!" umpat Restu.
Melihat Restu sedikit oleng akibat lemparan bata dari Langit, perempuan itu terus berlari ke arah ruko. "Tolong!" teriak Langit pada para penghuni toko.
"Kenapa, La?" tanya penjaga minimarket dekat restoran.
"Restu mau nyoba perkosa aku," adu Langit. Para karyawan yang saat itu keluar tentu percaya apalagi melihat jahitan di bahu Langit yang robek.
"Di mana dia?" beberapa karyawan pria mencari Restu, tapi pria itu tak ada di sana.
Berhubung masalah ini serius, mereka membawa Langit untuk melapor ke polisi. Biru yang mendengar kabar itu, lekas mendatangi Langit ke kantor polisi.
Ia sempat terdiam melihat istrinya menangis tersedu-sedu. Begitu sadar, Biru lekas memeluk Langit. "Kamu akan baik-baik saja, sayang. Aku di sini."
__ADS_1
"Aku takut, A. Takut banget! Aku pikir gak bisa kabur tadi," tangis Langit.
Tangan Biru mengusap rambutnya. Ia kecup kening istrinya. Ia telpon Sarah untuk datang menjemput Langit. "Bawa pulang istriku, ya? Biar aku di sini dulu mengurus laporannya," titip Biru begitu Sarah tiba di sana meski lumayan lama.
Langit masih terisak saat Sarah membawanya. Biru ikut mengantar sampai parkiran. Setelah melihat mobil Sarah pergi, Biru mulai menunjukkan taring. Ia masuk ke dalam kantor polisi.
"Mana ba jingan yang melukai istriku!" teriaknya.
Salah satu karyawan yang gemas dengan sikap Restu yang saat ditanyai seolah tak merasa bersalah dan terus mengatakan jika Langit belagu, langsung menunjuk keberadaan Restu.
Sementara Restu yang melihat Biru begitu jangkung dan berotot tentu syok. Apalagi mata Biru melotot dan napasnya yang bertempo cepat.
"Pak ... tolong, Pak!" Restu berlari dan berlindung di belakang polisi yang memeriksanya.
Sayang, Biru cekatan dan langsung menarik kaosnya hingga tersungkur. Pikiran Biru sudah kosong, yang tersisa hanya amarah. Kakinya hampir saja kena menginjak Restu jika polisi tidak menarik tubuhnya.
"Pak, tahan emosinya. Biar dia kami proses!" nasehat polisi. Ada dua polisi yang memegangi Biru dan kewalahan akibat kuatnya tubuh Biru.
"Sini kamu! Jangan jadi pengecut! Kamu berani menyakiti istrinya, sini lawan suaminya!" Suara Biru begitu tinggi. Restu bersembunyi di balik sofa.
"Dasar bocah! Beraninya sama perempuan! Sini biar aku kasih pelajaran!" Biru lepas dari kedua polisi lalu mengejar Restu.
Malam itu, semua orang kewalahan menahan Biru. Jika saja Langit tak ditelpon dan menenengkan suaminya, mungkin Restu hanya tinggal nama di nisan.
__ADS_1
🌱🌱🌱