
Kisah ini terinspirasi dari Putri Diana, hanya dirombak dan ditambah kisah halu. Tentu tak sesuai kisah sebenarnya š. Mohon pembaca bijak dalam menyikapi. Ini hanya cerita fiksi yang tak ada hubungan dengan kisah nyata. Hanya sebagian kecil terinspirasi dari kisah nyata.
š±š±š±
Kamar itu masih rapi. Tak terjamah oleh pemiliknya selama lebih dari satu tahun. Angga membuka pintu abu-abu kamar itu. Ia berjalan di lorong. Di sisi kanan dan kiri ada pintu putih menuju kamar mandi dan walking closet.
Berjalan semakin jauh, Angga tiba di kamar dengan cat putih yang tempat tidurnya menghadap langsung ke tembok kaca. Di baliknya ada balkon dan pemandangan pegunungan cantik berupa pinus dan cemara.
Angga duduk di sisi tempat tidur. Ia tersenyum. Ingin menertawai diri sendiri. "Ini bukan masalah ramalan. Hanya semakin banyak harta yang kamu punya, semakin banyak yang kamu harus korbankan. Karena itu memikul emas satu peti tentu lebih berat dari emas satu kotak."
Mata Angga melebar. Ia tertegun. Masih tersimpan foto seorang wanita yang pernah menemani hidupnya. Ia usap foto wanita itu. "Tidak ada perasaan yang bisa dipaksakan baik untuk ibumu juga untukku," ucap Angga.
Iya tahu, sejak awal kisah cintanya dengan Mira memang salah. "Tak pernah ada orang yang merasa bahagia hidup dengan kebohongan. Dosa terbesar ibu dan ayahmu adalah hidup bersama hanya untuk menggantikan cinta yang pergi."
Kemudian sudut mata Angga berpaling pada foto Biru. Putranya sudah semakin dewasa. Angga tersenyum. "Pembuat ulah malah sekarang sudah punya anak," tambah Angga.
__ADS_1
Ia mengusap wajahnya. Dengan menutup mata, ia terus menyesali segala hal yang pernah terjadi. "Tak ada ayah yang sanggup memilih satu dari kedua putranya. Meski begitu, hidupmu akan terus dalam bahaya. Bukan karena kamu, tapi orang-orang yang ingin memiliki kekuasaan."
Angga bisa mengingat bagaimana hidupnya dulu. Ia seperti Biru. Ia tak pernah menginginkan tahta kakaknya sendiri. Hingga kejadian itu terjadi. Mobil yang membawa Mira, Biru dan Surya dihadang. Keluarganya hampir saja terbunuh. Sakit hati Angga karena tak pernah ia sangka pelakunya adalah kakaknya sendiri.
"Seperti kamu, aku juga hanya mencoba melindungi keluargaku. Namun, sekarang aku sadar. Aku harus memilih diantara kalian berdua. "
Itu bukan sekedar ramalan, tapi memang begitulah takdir terjadi. Memiliki perusahaan besar layaknya seperti memiliki kerajaan. Kakak dengan adik, anak ratu dengan selir, antar sepupu, bukan hal yang aneh jika saling merebut tahta. Bukan demi ambisi dan kekayaan, tapi bertahan hidup. Yang di atas merasa terancam dengan yang di bawah. Sedang yang berada di bawah, takut dihabisi jika tidak kuat.
Angga melempar foto Mira ke atas tempat tidur. Ia sudah memberikan Mira pilihan dan wanita itu memilih pergi.
Tak pernah disangka Angga jika cinta mereka di masa lalu akan kembali. Ada Tantri dalam hidup Angga sebelum Mira dan ada Wili dalam hidup Mira. Pelan, tapi pasti keduanya sadar jika cinta terpaksa mereka tak akan bertahan lama. Ketika masa lalu itu kembali, rasa cinta terlarang juga bergejolak.
Angga tahu Mira berselingkuh. Ia tak mempermasalahkan itu. "Kalau kamu menginginkan wanita itu, bawa saja. Hanya izinkan aku bersama Wili." Itu sudah menjadi perjanjian mereka.
Menjadi suami-istri hanya sekedar di atas buku nikah, mereka akhirnya memutuskan untuk benar berpisah. "Biarkan Biru di sini. Pergi saja dengan pria itu. Aku tak mau dia tahu kalau kamu pergi dengan pria lain. Ia terlanjur berpikir kalau ibunya wanita yang baik," pinta Angga.
__ADS_1
"Dan membiarkan kolegamu memanfaatkan dia untuk diadukan dengan Surya seperti kamu dan kakakmu? Biru tak akan seperti itu, dia tak akan bisa dimanfaatkan mereka. Apalagi demi keuntungan mereka!"
"Karena itu, aku harus di posisi ini untuk melindungi anak-anakku. Posisi ini lebih aman untuk mereka daripada kamu bawa anakku pergi!"
Mira mendengus. Ia wanita yang kuat, hingga tak punya rasa takut. "Aku bawa Biru pergi dengan Wili. Dia menunggu di batas Kota Cianjur. Ini lebih tepat. Tinggal di kampung, tak akan ada yang mengenali Biru. Tentu dia juga tak akan kepikiran pulang ke Bandung. Apapun caranya anak kita harus dipisahkan," tegas Mira.
Bodohnya Angga saat itu menganggap pikiran Mira sudah tepat. Malam Mira pergi dari rumah secara diam-diam, Angga tak pernah bisa merasa tenang. Pikirannya terus terpaku pada Biru.
Hingga Mira menelponnya. "Wili menipuku. Dia mengkhianatiku, Angga. Bagaimana ini?"
Sudah Angga duga kedatangan Wili memang mencurigakan. Hanya saja rasa cinta Mira pada pria itu cukup buta hingga tak bisa disadarkan juga. Angga bergegas mencari keberadaan Mira. Hingga akhirnya saat ia temukan, Mira sudah meninggal tertembak sementara Biru menangis di depan jenazah ibunya.
Di sana Angga tahu. "Diantara orang-orang di perusahaan ini akan ada yang memanfaatkan Biru untuk menjatuhkan Surya. Ada yang menginginkan Biru menjadi jalannya untuk naik tahta. Angga tak tahu siapa. Karena tak pernah ada kejelasan dalam bisnis. Musuh bisa pura-pura menjadi teman.
š±š±š±
__ADS_1