Mr. Tajir Jatuh Cinta

Mr. Tajir Jatuh Cinta
Keluarga Marga


__ADS_3

Fitri itu kerja di rumah keluarga Marga, bukan Bamantara okeh šŸ˜‰. Yang kemarin salfok tolong baca ulang šŸ˜†šŸ¤£šŸ¤£


🌱🌱🌱


Nindy pulang ke rumah besar keluarga Marga malam itu. Ia mendengar kabar dari Surya yang harus mundur sementara dari jabatannya. Sebagai istri tentu Nindy tak ingin suaminya jatuh begitu saja. Nindy pulang untuk meminta bantuan dari orang tuanya.


"Selamat malam, Pah," sapa Nindy. Kedua orang tuanya tengah berada di ruang keluarga. Suami istri dari keluarga Marga itu malah sibuk dengan ponselnya meski pasangan mereka ada di samping. Bahkan ketika Nindy pulang, mereka tak sadar akan keberadaan Nindy di sana.


"Eh, kamu, Nin. Duduk," titah mamahnya sambil menunjuk sofa di hadapan mereka. Nindy mengangguk. Ia lekas duduk di sofa yang mamahnya maksud.


"Apa kabar kalian berdua? Apa baik-baik saja? Sudah lama rasanya Nindy tak datang untuk menyapa." Nindy memulai untuk basa-basi.

__ADS_1


Haris Marga, papah Nindy yang merupakan Dirut BM manufacture menyimpan ponselnya di atas meja. Ia berpaling pada putri tertuanya. "Kalau kamu datang untuk meminta bantuan soal suamimu, lebih baik kamu pulang. Kamu sudah tahu keputusan Tuan Angga tak bisa dibantah. Lebih baik kamu jangan ikut campur masalah itu, tentu keluarga kita tak boleh ikut terseret," tegas Haris.


"Lagipula kamu harusnya tahu diri. Kami menjadikan kamu menantu di keluarga itu saja bukan hal mudah. Setelah kamu di sana, berjuang sendiri. Untuk apa kamu menikah kalau apa-apa masih mengadu pada orang tua," omel Nike, mamah Nindy.


Di sini Nindy langsung mati kutu. Ia tak bisa banyak berharap jika orang tuanya sudah berkata tidak. "Sekarang pulang, jangan sampai keluarga Bamantara menganggap kamu meninggalkan suami kamu dalam keadaan ini," tegas Haris.


Nindy menunduk. Ia remas kain rok dressnya. Jujur dalam hati ia merasa marah. Menikah dengan Surya ia lakukan demi keluarga Marga. Tentu hubungan bisnis yang diikat dengan tali pernikahan akan semakin mempermudah penyatuan saham dua keluarga besar dan membuat posisi pemilik saham terbesar semakin tak bisa terusik.


"Aku sudah korbankan diriku demi keluarga ini. Sekarang aku terpuruk, kalian lepas tangan begitu saja. Aku ini putri kalian meski aku sekarang sudah menikah. Apa kalian tega membuat harga diriku tercoreng akibat suamiku diduga terlibat skandal korupsi di negara besar?"


"Kalian masih akan diam begini? Apa kalian membuangku sekarang karena keadaan suamiku? Kenapa? Kalian pikir aku akan jatuh dan kalian tak mau ikut jatuh?" tegur Nindy.

__ADS_1


Nike menatap putrinya dengan tajam. "Jaga ucapan kamu! Lagi pula keadaan ini salah suami kamu sendiri yang tidak hati-hati. Skandal korupsi itu semua orang juga sudah tahu."


"Itu terjadi sepuluh tahun lalu dan sudah ditutup. Media sudah tak membicarakannya lagi dan RC selama ini melakukan bisnisnya dengan lancar. Bagaimana kami tahu ini akan diungkap lagi?" Nindy membela diri.


Kini amarah Nindy sudah berada di puncak. "Kalian mendukung Surya juga sebelum kesepakatan bisnis ini berlangsung. Artinya kalian juga tak menyangka skandal itu akan kembali diungkap. Apa bedanya kalian dengan Surya?"


"Sudah, daripada kamu bicara melantur begitu, lebih baik cepat pulang dan dengarkan nasehat dari keluarga Bamantara. Aku yakin mereka tak akan membiarkan Surya terpuruk. Bagaimana pun, Surya satu-satunya pewaris mereka yang akan menggantikan Tuan Angga," titah Haris.


Nindy tersenyum pedih. Kasihan sekali nasibnya memang. Bahkan orang tuanya angkat tangan begitu saja. "Aku susah payah mendapatkan hati Surya Bamantara untuk kalian. Kupikir kalian akan bangga. Nyatanya, bagi kalian aku tetap saja bukan apapun. Apa bedanya aku dengan Nila? Aku masih putri kalian. Jika Nila memiliki masalah, kalian pasti akan gerak cepat, tapi aku?"


"Kamu itu hanya mengarang! Pantas juga kalau Nila selalu dibela. Dia anak bungsu. Kamu yang sudah dewasa dan lebih besar harusnya bisa lebih mandiri!" alasan Nike.

__ADS_1


Nindy menggeleng. Tidak, bukan itu. Nindy yakin pasti ada hal yang lain. Ia raih clutchnya lalu berdiri. "Aku pamit," ucapnya sinis kemudian lekas meninggalkan ruangan.


🌱🌱🌱


__ADS_2