Mr. Tajir Jatuh Cinta

Mr. Tajir Jatuh Cinta
Orang Yang Memanfaatkan Keadaan


__ADS_3

Di sini Biru merasa paling beruntung. Ia masih bisa membisikan kakeknya kalimat syahadat dan memandikan jenazah kakeknya. Ia juga mengafani dan mengimami sholat jenazah.


"Sepertinya Biru tahu kenapa Biru dibimbing untuk tahu agama. Dengan ini, Biru bisa memberikan bakti terakhirku untuk kakek," ucap Biru.


Jenazah Bagas dimasukan ke dalam peti mati. Biru sempat meminta agar peti itu dibuka ketika pemakaman. Ia juga bersikeras ingin menguburkan kakeknya sendiri. Hanya banyak staff yang melarang. Di kampung mungkin Biru adalah warga biasa yang bisa ikut menguburkan tetangga, di sini ia tetap saja Tuan Muda dari keluarga besar.


Langit hanya bisa mengintip dari balkon rumah. Banyak kolega datang untuk memberikan doa terakhir. Banyak juga yang memperlihatkan wajah sedih, tapi di dalam hatinya merayakan kepergian Bagas. Terutama yang sudah menunggu Angga menjadi pemilik tunggal Bamantara, termasuk Nindy dan Surya.


Biru menangis tak hentinya. Angga melihat putra keduanya dari kejauhan. Ia hanya bisa mematung, melakukan hal bodoh itu untuk kedua kalinya. Saat Mira disemayamkan, ia juga hanya diam melihat Biru menangisi kematian Mira.


Malam harinya Bagas dikebumikan. Jalan Kota Bandung nampak sepi. Rombongan mobil yang mengiringi hingga puluhan banyaknya. Beberapa polisi membantu mengamankan dan membuka jalan. Banyak pimpinan perusahaan dan pejabat tinggi akan berkumpul mengantar Bagas ke pusara.


Sesuai permintaan, tubuh Bagas dikeluarkan dari peti. Ia diturunkan ke liang lahat oleh beberapa staffnya. Biru hanya melihat dari sisi pusara. Memegang foto kakeknya dengan wajah merah dan pipi yang basah.


Tak lama tokoh agama yang memimpin pemakaman meminta keluarga Biru untuk menutup lubang makam dengan tanah. Perlahan dan pasti akhirnya lubang itu tertutup sepenuhnya. Bunga ditaburkan di atas makam beserta doa dari seorang cucu yang menyayanginya.


"Allah, maafkan dosa kakekku. Di akhir hayat dia sudah berusaha bertaubat, ia sudah mau sholat. Jika memang ia harus membayar dosa di masa lalu, berikan keringanan," batin Biru.

__ADS_1


Satu per satu pelayat meninggalkan makam. Mereka menyalami Angga dan Surya. Hanya Biru yang mematung di depan makam dan terlihat tatapannya kosong.


Tempat itu semakin sepi. Hanya beberapa staff berdiri di sana. Angga kini melirik Biru.


"Pa, kita pulang, sudah terlalu malam," ajak Surya.


"Iya, Pa. Papa pasti lelah. Harusnya papa istirahat," tambah Nindy.


Angga mengangguk. Ia lagi menatap Biru yang masih mematung di sana. "Pulang!" seru Angga dengan nada dingin seperti biasanya.


Biru tak melawan. Ia berbalik lalu berjalan pergi dengan langkah lunglai. Sementara Angga berjalan mengikutinya bersama Surya dan Nindy.


"Tak perlu pikirkan dia. Fokus pada pekerjaanmu. Ingat kita punya banyak target. Aku tak ingin kamu kecewakan aku lagi. Apalagi kalau sampai pemegang saham yang lain berbalik melawanmu," tegas Angga.


"Iya, Pa," jawab Surya. Ia masih berjalan di samping papanya. "Lalu bagaimana dengan peninggalan kakek? Tentu kakek punya banyak saham, kan?" tanya Surya lagi.


Seketika Surya tercengang. Tangan Angga menampar keras pipinya. "Mau jadi apa kau? Kakekmu baru meninggal dan kamu membahas warisan? Apa jika aku yang mati, kamu juga akan bertanya begitu?"

__ADS_1


Surya menunduk. "Maafkan aku, Pa. Aku hanya takut jika ada yang mencuri asetnya. Apalagi kalau sampai kakek tidak meninggalkan wasiat."


Angga mendengus. Sama sekali ia tak menyangka akan membesarkan anak yang begitu ambisius akan harta. Ia hanya ingin Surya naik jabatan dan memperlihatkan betapa menakutkannya ia sebagai penerus Angga. Nyatanya ....


"Jangan permalukan dirimu sendiri dengan kalimat bodoh seperti itu! Apa perlukau dengan warisan kakekmu? Yang kaubutuhkan itu otak. Kalau kamu tidak menggunakan itu, uang triliyunan milik perusahaan lenyap karena masalah kemarin," omel Angga.


Ketika papa dan Surya sibuk bicara tentang perusahaan, Biru sudah sampai di parkiran makam keluarga Bamantara. Ia terkejut melihat Nila berdiri di samping mobilnya.


Perempuan itu menunduk. "Saya turut berbelasungkawa atas kematian kakek anda. Saya dengar anda sangat dekat dengan Tuan Besar. Saya yakin, beliau akan mendukung anda menjadi penerusnya di masa depan. Bukankah itu sangat menguntungkan untuk kita berdua?"


Biru meremas sisi bingkai foto kakek yang ada di pelukannya. "Menjijikan! Dasar sampah!" hina Biru.


Ia mendorong tubuh Nila ke sisi agar tak menghalangi jalannya. Perempuan itu bergeser dan hampir terjungkal. Biru lekas masuk ke dalam mobil dan menutup pintu.


"Tuan, itu Nona Marga. Beliau putri rekan kerja Tuan Angga," ucap Roni.


Biru mendengus. "Bagiku dia hanya wanita jal*ng!"

__ADS_1


🌱🌱🌱


__ADS_2