Mr. Tajir Jatuh Cinta

Mr. Tajir Jatuh Cinta
pemaksaan


__ADS_3

Pukul tiga sore motor Biru tiba di parkiran bank. Ia tercengang melihat perempuan yang ia tolong duduk di kursi dekat pintu masuk. Kursi itu biasa digunakan satpam jika sedang berjaga. Biru mendengus. Ia berjalan menuju pintu, tapi langsung dicegat perempuan itu.


"Pak Firman masih kenal aku? Aku Nila, yang kemarin Pak Firman tolong," ucap perempuan itu sambil memperlihatkan senyum manisnya.


Biru mengangguk. "Namanya bagus, mbak. Kayak nama kembaran mujair." Tak jelas menyindir apa memuji.


Nila manyun. "Pak Firman, kebetulan aku ke sini ingin memberikan makan siang sebagai tanda terima kasih," ungkap Nila.


Biru melihat ke arah langit. "Ini sudah sore, mbak," tolaknya tegas.


"Aku sudah ke sini dari siang, tapi Pak Firman belum ada. Jadi aku tunggu dan baru ketemu sore," alasan Nila.


Biru menggeleng. "Saya sudah makan." Lagi Biru mengeluarkan alasan untuk menolak.


Nila menunduk dengan wajah kecewa. "Padahal saya bela-belain menunggu di sini cuman ingin memberikan tanda terima kasih ini," keluh Nila. Ia mengasongkan kotak bekalnya pada Biru. "Terima, ya?"


Kotak bekal itu berupa wadah plastik tupperw*re yang Biru tahu sangat disukai para emak. Pastinya itu harus dikembalikan, tapi dia tak mau bertemu dengan perempuan itu lagi. Biru menggeleng. "Takut ada peletnya," celetuk Biru.


Nila terkekeh. "Nggak sampai begitu juga, Pak. Ini hanya makanan biasa." Nila menggerak-gerakkan kotak bekalnya.

__ADS_1


Biru melipat tangan di depan dada. "Begini saja, mbak. Saya sudah makan dan ini nanti mubazir. Jadi saya terima, tapi saya kasih ke teman lain. Nanti wadahnya ambil saja di teman saya," tegas Biru.


Benar saja, Biru mengambil kotak bekal itu lalu memberikannya pada satpam yang berjaga di sana sebelum dirinya. Nila terlihat kesal diperlakukan seperti itu. Seumur hidup, baru kali ini dia ditolak habis-habisan.


"Pak Firman!" panggil Nila masuk ke dalam kantor satpam. Ia tarik lengan Biru dan seketika tangannya langsung Biru tepis. "Aku sudah berusaha baik, loh. Kenapa sedikit saja Pak Firman tidak menghargai pemberianku?"


"Saya sudah terima. Salahnya apa lagi?" Kalimat Biru sangat datar, malah terkesan dingin.


"Kenapa jual mahal sekali, sih? Aku kurang apa coba? Bapak tahu aku ini siapa? Aku putri keluarga Marga. Pemilik perusahaan besar. Semua orang ingin dekat denganku. Harusnya bapak bersyukur bisa aku baiki." Nila berkacak pinggang.


"Siapa?"


"Maksud saya siapa yang nanya? Mau mbak dari keluarga Marga kek, keluarga Markonah dan Martini sekali pun, manfaatnya buat saya apa?" Biru tak mau kalah. Posisinya keluarga dia tentu berada di atas keluarga itu. Hanya Nila saja yang tidak tahu.


"Saya bisa berikan pekerjaan yang jauh lebih layak untuk Pak Firman," Nila masih belum menyerah juga.


Biru menggelengkan kepala. Ia tarik lengan Nila dan menyeretnya keluar kantor. "Bisa baca? Lihat di dinding tulisannya apa! Yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Maaf, mbak tidak penting buat saya!"


Biru melepaskan tangannya dari lengan Nila lalu berjalan masuk ke dalam kantor. Nila memencak. Wajahnya berubah kesal akibat diperlakukan secara tidak hormat untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Nila masih belum menyerah. Ia masuk ke dalam ruangan Biru lagi. "Pak Firman, aku yakin suatu hari nanti pasti Pak Firman akan  bertekuk lutut di depan saya!" tegas Nila.


Biru yang sedang membuka jaket sampai melirik tajam ke arah pintu yang sedang ditahan Nila untuk tidak tertutup. "Mbak sebelum ke sini sudah makan obat belum?" sindirnya.


"Memang kamu pikir aku orang gila?" protes Nila.


"Kalau mbak orang waras, diusir sekali pasti langsung pergi. Bukannya teriak-teriak di sana!"


"Aku suka Pak Firman. Aku mau Pak Firman jadi milik aku," ungkap Nila. Akibat keinginannya selalu dituruti, Nila selalu bersikap seenaknya.


Biru mendekati Nila dan menatapnya lekat-lekat. "Mbak sedang menyatakan cinta sama saya?" tanya Biru dengan suara yang menggoda.


Nila tersenyum. Ia simpan tangannya di bahu Biru. "Kamu pria pertama yang menarik perhatianku," timpal Nila.


Biru mendekatkan wajahnya ke wajah Nila. Hampir menyentuh bibir perempuan itu, Biru membelokkan wajahnya ke telinga. "Mulutnya bau, mbak. Habis makan pete, ya?" bisik Biru.


Nila langsung mendorongnya. "Kurang ajar ya kamu!" umpat Nila sambil berjalan keluar kantor sementar Biru tertawa puas.


🌱🌱🌱

__ADS_1


MOHON MAAF YA KALAU SAMPAI NANTI TAMAT SIKAP BIRU SAMA NILA AKAN SELALU BEGINI. JANGAN PERNAH KALIAN HARAPKAN BIRU DAN NILA AKAN ADA UWU-UWUNYA!


__ADS_2