Mr. Tajir Jatuh Cinta

Mr. Tajir Jatuh Cinta
Suami Tanggung menjawab


__ADS_3

Mungkin karena sangat penasaran, Langit sampai menemani Biru memperbaiki ponsel. Ia beberapa kali geleng-geleng kepala sampai bersorak melihat keterampilan Biru mencari tahu penyebab ponsel Mas Parmin tak menyala.


"Jadi kemungkinan karena korosi. Apalagi ini hape lumayan lama," jelas Biru.


Langit duduk bersila di samping suaminya. "Masih bisa dibenerin?"


"Kalau cuman korosi masih bisa dibersihkan oleh tiner. Hanya saja kalau terlalu parah lebih baik diganti," saran Biru.


Tangan Biru begitu cekatan membongkar bagian-bagian hape, membersihkan dengan cairan tiner. "Hape merk ini kalau mati total biasanya masalah ada di CPU. Ini, kamu bisa coba tekan sedikit? Goyangkan?"


"Iya sih, terasa sedikit memang ada goyangan."


"Kalau begini, sepertinya harus lepas dan soldier lagi. Masalahnya aku gak punya multitesternya." Biru memandang Langit. "Kalau aku pinjem uang sama Randy buat beli alatnya boleh. Dicicil gitu bayarnya?"


"Terserah kamu, sih. Kalau memang butuh. Lagipula, itu uang gaji kamu, kan?"


Biru menyimpan komponen ponsel di atas meja lipat. "Uangku kan uang kita berdua. Uangmu baru jadi uangmu. Makanya kalau pakai uang, harus tanya kamu dulu," jelas Biru.


"Kalau memang buat kebutuhan rumah tangga dan sudah kamu perhitungkan, kenapa tidak?"


Wajah Biru berbinar. Ia takjub dengan Langit yang selalu mendukungnya. "Tahu gak, La? Apa benda yang paling aku sukai di dunia?" tanya Biru.


"Apa?"


"Pulpen. Andai kalau waktu itu pulpen tidak jatuh dan aku tak melihatmu mengambilnya, apa aku bisa jatuh cinta sama kamu?" tanya Biru.

__ADS_1


Ia ingat adegan saat hening di kelas Langit, tiba-tiba terdengar pulpen jatuh. Ketika berbalik, Biru melihat Langit mengambil pulpen dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengaitkan rambut ke belakang telinga. Wanita tercantik saat mengambil pulpen, pikir Biru.


Langit melipat tangan di depan dada. "Jadi kalau bukan karena pulpen, kamu gak akan jatuh cinta sama aku gitu?"


Biru menggeleng. "Tadinya kupikir begitu. Ternyata aku salah. Kamu cantik waktu goreng telur, waktu cuci piring, waktu ngejemur baju juga," jelasnya polos.


"Ampun, sedih banget aku, tuh. Sekalinya disebut cantik malah lagi nginem," protes Langit.


Kekehan Biru memecah obrolan mereka. "Jadi ingin tidur cepat-cepat terus ngecor bagunan," kode Biru sambil mencolek pinggang Langit.


"Benerin dulu ponsel Mas Parmin. Orangnya pasti nunggu." Langit mencubit pipi suaminya.


Lekas Biru mengangkat CPU ponsel setelah direhot dengan blower. Setelah terlepas, ia bersihkan pinnya lalu disolder ulang.


Mencoba peruntungan, Biru merangkai ponselnya kembali. Syukurlah, begitu ia menekan tombol power, hape kembali menyala.


Langit bersorak hingga memeluk Biru dengan erat. "Kamu hebat banget, suamiku. Aku bahagia punya suami seperti kamu. Merasa jadi wanita paling beruntung di dunia," puji Langit.


"Cium sekali," pinta Biru.


Langit mengecup bibir Biru meski hanya beberapa detik. "Biar dapat dua kali harus apa?" pinta Biru lagi.


"Gak usah minta apa-apa," timpal Langit lalu mengecup bibir Biru lagi.


"Ah, ini hapenya butuh dicharge. Yang perbaikinya juga sama." Biru mengambil charger ponsel lalu mengisi daya ponsel Mas Parmin.

__ADS_1


Ia sudah bersiap untuk mendekap istrinya. Jelang beberapa detik sebelum dekapannya mendarat di tubuh Langit, terdengar ketukan pintu.


"Langit buka pintu dulu, ada tamu." Dengan rasa sedih, Biru biarkan Langit pergi keluar kamar untuk membuka pintu depan.


"Sumpah, ya. Orang yang ngetuk pintu minta dikatai. Orang mau ibadah malah dihalangi. Gak takut dosa apa?" protesnya


Begitu daun pintu terbuka, Langit kaget melihat seorang pria berpakain jas yang rapi. Ia menunduk saat melihat Langit.


"Saya Roni, sekretaris Tuan Bagaskara Bamantara, kakeknya Tuan Muda Biru," jelas Roni melihat wajah bingung Langit.


"Silakan masuk, biar saya panggilkan Tuan Muda," tawar Langit.


Roni menggeleng. "Tidak perlu Nyonya Muda. Saya hanya mengantar ini saja. Hadiah pernikahan dari Tuan besar. Karena Tuan Muda menolak dibelikan rumah."


Roni berbalik. Langit kaget bukan main melihat ada beberapa orang yang datang membawa sebuah kasur besar. Melihat itu, Langit bukannya senang. Wanita itu malah bingung akan disimpan di mana benda itu. Apalagi kamarnya sempit.


Syukur Biru keluar karena aneh istrinya lumayan lama membuka pintu. Melihat Roni di sana, Biru tersenyum. "Ada apa, Bang Roni?" tanya Biru.


Roni menunjuk sebuah kasur king size yang sedang di angkat beberapa orang. "Tuan Besar bilang supaya kalian lekas punya keturunan, harus punya kualitas tidur yang baik. Dengan kasur ini akan meningkatkan kualitas tidur kalian," jelas Roni.


Biru melipat tangan di dada. "Bukannya aku tak tahu diri menolak pemberian kakek. Hanya saja kalau kasur itu masuk kamar kami, malah kami harus tidur di luar akibat satu ruangan penuh olehnya," tolak Biru.


Jelas Roni kebingungan. "Ukuran kamar kami kecil, makanya tempat tidur juga kecil. Bilang pada kakek tak perlu khawatir. Justru karena tempat tidur kecil, makin rajin produksi bayi. Habis tiap malam tidur pasti dempetan," kilah Biru.


Biru menunjukkan pada Roni kondisi kamarnya. Di sana Roni mengerti apa yang dimaksud Biru. "Apa perlu saya bangun rumah ini agar lebih besar?" tawar Roni.

__ADS_1


Biru menggeleng. "Gak perlu kamu, biar aku berjuang sendiri untuk istriku. Baik itu pangan, sandang hingga urusan atap sekali pun. Aku mau berjuang dengan keringatku sendiri," tegas Biru.


🌱🌱🌱


__ADS_2