Mr. Tajir Jatuh Cinta

Mr. Tajir Jatuh Cinta
Simpul


__ADS_3

Biru mengunci pintu mobil. Langit yang selalu berpikir positif mencoba membukanya. Namun, ketika sulit ia dorong pintu, Langit berbalik ke arah suaminya.


"Kenapa, A? Kok pintunya ditutup?" tanya Langit.


"Jangan turun, mereka bukan orang baik," timpal Biru.


Ada sekitar empat orang turun dari mobil. Seorang pria dan wanita turun dari mobil di belakang dan dua orang pria turun dari mobil samping. Pria yang yang turun dari mobil belakang mengetuk pintu. Ia memakai pakaian biasa, hanya kaos dan celana pendek.


"Kayaknya mereka cuman orang biasa," ucap Langit.


"Punteun, turun sebentar. Ini gimana tanggung jawabnya." Pria itu mengetuk kaca kiri sedang dua pria yang lainnya mengetuk kaca kanan.


Langit menepuk bahu Biru. "Aa, itu orang biasa. Mungkin karena tadi kita tiba-tiba banting stir, jadi mereka nggak sempat menghindar. Tanggung jawab kasihan. Kalau itu bukan mobilnya gimana?"


Biru melirik empat orang itu. Dari pakaian memang terlihat normal-normal saja. "Tunggu di dalam, jangan keluar!"


Biru membuka pintu mobil. Ia keluar dari mobil dan menghampiri pria pemilik mobil di belakang. "Gimana, Kang?" tanya Biru.


"Mobil saya rusak, A. Tolong gimana itu. Tadi tiba-tiba banting stir begitu!" protesnya dengan suara tinggi.

__ADS_1


"Tenang, Kang. Saya pasti ganti rugi," jawab Biru yang merasa lega karena memang itu hanya orang biasa.


"Akang ada ponsel, nggak? Tulis nomor hape saya saja. Saya nggak bawa cash, tapi pasti saya ganti."


Pria pemilik mobil itu mengangguk. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya. "Awas ya kalau saya telpon tiba-tiba nggak aktif!" ancamnya.


"Laporin saja sama polisi, Kang." Biru langsung membantu mengetik nomornya di ponsel pria itu.


Tiba-tiba keduanya terkaget-kaget mendengar teriakan dari belakang. Wanita yang bersama pemilik mobil terkapar di trotoar. Lekas keduanya menghampiri. Darah mengalir dari bagian Belakang kepala wanita itu.


"Ya Allah, istri saya kenapa ini?" tanya pria tadi histeris.


Mereka tertawa begitu berhasil membuka pintu mobil lalu menarik Langit keluar dari sana. "Lepas!" teriak Langit. Kakinya menendang-nendang pria itu.


Satu pria lainnya membawa Biru dengan cara dibopong. Terlihat Biru setengah tersadar. Keduanya dibawa paksa dengan mobil ke suatu tempat.


Di sana baik Langit dan Biru diikat di tiang bangunan. Ruangan itu kosong dengan jendela-jendela kecil di bagian atas. Bisa dipastikan oleh Langit kalau itu bangunan bekas pabrik.


Air mata Langit mengalir. Tak tahu apa yang akan terjadi dengannya dan Biru. Ia tatap suaminya yang berusaha untuk sadar. "Aa, bangun. Ayo kita pergi dari sini," pinta Langit.

__ADS_1


Kedua pria yang membawa mereka, pergi keluar bangunan itu dan meninggalkan mereka di sana. Jam demi jam berlalu. Biru akhirnya sudah mulai sadar meski belum sepenuhnya. Ia melirik Langit yang tak hentinya menangis sejak dibawa ke tempat ini.


"Kamu nggak kenapa-kenapa?" tanya Biru.


Langit menggeleng. Hanya dia masih gemetaran.


"Mereka ke mana?" tanya Biru.


"Pergi. Sudah lama. Makanya ayo kita keluar, Aa. Minara bagaimana?"


"Dia akan baik-baik saja. Minara sama Randy. Yang penting kita keluar dulu. Biru melihat sekelilingnya. Ruangan itu sangat luas dan gelas juga lembap.


"Lihat simpul di tanganku. Pasti terlihat dari situ. Kamu tahu nama-nama simpul, kan?" pinta Biru.


Langit mengangguk. "Langit nggak yakin, tapi itu kayaknya pull through," jawab Langit.


Biru mengangguk. Ia mulai melancarkan aksinya. Ia sering mempelajari cara membuka simpul dari banyak film detektif hingga tutorial untuk membela diri. "La, sini. Aku butuh jepitan rambut kamu," pinta Biru.


Langit mengangguk. Ia dekatkan kepalanya. Dengan gigi, Biru mencoba melepas jepitan rambut di sisi kepala Langit. Berhasil, jepitan itu jatuh ke lantai.

__ADS_1


🌱🌱🌱


__ADS_2