Mr. Tajir Jatuh Cinta

Mr. Tajir Jatuh Cinta
Rindu


__ADS_3

"Minara!" bentak Nila dengan suara tinggi. Ara terkejut mendengarnya. Lekas Nila masuk ke dalam kamar lalu memegang tangan anak itu dengan kasar dan menariknya keluar kamar. Baru sampai pintu, ia baru sadar ada suara anak ayam di dalamnya.


"Dasar anak iblis! Keluarkan mereka sekarang!" umpat Nila.


Ara hanya diam saat dikatai begitu dengan bentakan dan kerasnya suara Nila. Namun, suara itu bisa terdengar oleh Biru yang baru keluar dari lift. Cepat ia berlari ke sumber suara dan menemukan Minara mulai menangis.


"Diam kamu!" Tangan Nila hampir menoyor Ara jika saja Biru tak menepisnya.


"Kamu yang diam!" balas Biru.


Tatapan matanya begitu tajam menatap Nila. "Ini sudah keterlaluan! Aku nggak akan biarkan anakku dekat denganmu lagi!" bentak Biru.


"Aku nggak peduli! Aku juga nggak akan biarkan anak kamu yang kurang ajar ini mendekati milikku!"


"Nila!" Biru menunjuk wajah perempuan itu. "Aku nggak terima anakku dihina seperti ini. Jangan lupa! Aku ini siapa! Aku pemilik rumah ini dan putriku pewarisnya. Kalau aku mau, aku bisa usir kamu dari sini!"


"Jangan lupa tanpa bantuan aku, kamu nggak jadi pimpinan di BG. Kalau kamu macam-macam dan kita bercerai, aku akan minta kolegaku mundur dan kamu nggak akan dapat dukungan!"

__ADS_1


"Jangan lupa juga, jika aku tak menjadi Chairman di BG. Lawanmu yang akan naik dan kalian akan kalah satu per satu. Kita saling membutuhkan. Jadi jangan macam-macam," tegas Biru.


Napas Nila semakin kencang. Ia merasa kesal hingga ke ubun-ubun. "Lalu apa yang mau kamu lakukan?"


"Bawa anakku menjauh darimu! Pernikahan kita hanya di atas kertas kerjasama dan selamanya akan seperti itu. Selama kamu masih menguntungkanku. Pastikan kamu masih bisa begitu. Karena kalau tidak, aku akan membuangmu dan mengganti dengan yang lain!" tegas Biru.


Ia menggendong Minara dan kembali ke kamar. Nila menendang pintu dengan kesal. "Rencanaku mendekati Biru semua hancur karena monster kecil itu!" teriaknya kesal sampai menghentakkan kaki ke lantai. Tak pernah Nila sangka ia akan hancur hanya karena anak kecil nakal berusia tiga tahun.


Di kamar, Biru membersihkan wajah Minara dengan air hangat. Ia tersenyum agar Minara lebih cepat berhenti menangis. "Siapa yang ajari kamu dandan? Kamu lihat di YT? Anak hebat," puji Biru.


Minara mengusap matanya. "Pa, Bunda mana? Ala mau Bunda. Bunda nggak malahin Ala," tanya anak itu. Ia memeluk Biru sambil menangis.


"Bunda nggak akan ke mana-mana. Ada di hati kamu juga di hati Papa," jawab Biru.


"Kapan Bunda puang? Ala mau Bunda."


Kaki kecil itu naik ke tempat tidur. Ia merangkak ke nakas di mana foto Langit terpajang di sana. Ia peluk foto itu. "Bunda puang, ya? Ala mau Bunda." Tersedu-sedu sudah Ara memanggil Langit.

__ADS_1


Biru tak bisa melakukan apapun selain diam di sana menatap putrinya. Setinggi apapun kekuasaan di dunia ini, tak akan bisa mengembalikan orang tercinta yang telah kembali pada Tuhannya.


"Ara, kita pindah ke rumah baru, ya? Kita tinggal di sana. Kamu boleh pelihara anak ayam, anak bebek, anak kambing lagi seperti di Amerika. Bu Aini dan Pak Karjo akan jaga kamu kalau Papa kerja," goda Biru.


Ara mengusap air matanya. Ia masih memeluk foto Bundanya. Namun, tangisnya sedikit berhenti karena tawaran papanya. Anak itu begitu sederhana, hal kecil bisa menghapus sedihnya walau sesaat.


"Boleh sapi juga?" tanya Ara.


"Sapi badannya besar. Kalau sama Ara main berantem-beranteman, nanti Ara ketindih," tolak Biru.


"Ara nggak napas. Sapi gedut," timpal anak itu.


"Iya. Jadi nggak sapi, ya?" tanya Ara. Meski masih tersedu-sedu ia bisa menjawab pernyataan Biru.


"Benar. Hanya binatang kecil yang Bu Aini nggak takut kalau memberi makan. Mungkin kelinci," saran Biru.


🌱🌱🌱

__ADS_1


__ADS_2