
BANTU PROMO DONK. NOVEL LAEN SELALU ADA NONGOL DI BERANDA GRUP FB. BIRU GAK PERNAH KAN AKU NGIRI š
š±š±š±
"Ada yang lihat Biru?" tanya Langit pulang kuliah saat itu. Biasanya Biru akan mengantar berjalan sampai persimpangan. Baru dia akan naik angkot menuju bank. Hanya menunggu lima belas menit di kelas dan Biru tak kunjung datang, akhirnya Langit putuskan menyusul Biru ke kelas.
"Laki-laki itu memang aneh, pas pacaran manis, awal nikah baik, sudah istrinya hamil mulai aneh-aneh," batin Langit.
Tiba di kelas Biru, ia tak menemukan pria itu. Teman sekelasnya bilang Biru hari ini tak masuk kelas. Di sini Langit merasa kepalanya nyut-nyutan. Tak tahu apa lagi yang dilakukan suaminya kini.
Tak mau direndam rasa penasaran, Langit akhirnya putuskan pergi ke gudang. Biru biasanya sering di sana untuk menyervis hape. Ketika turun menuju gudang bawah tanah, ia mendengar suara orang-orang yang sedang berdiskusi.
"Pokoknya sampai kampus menyerah, kita harus terus usaha," tekan sebuah suara yang jelas Langit hafal milik siapa.
Langit mendekati pintu. Mata Langit mengintip dan melihat Biru duduk di sebuah kursi sementara mahasiswa pria lainnya duduk bersila di lantai.
"Jadi ceritanya suamiku ini kembali lagi ke habitat?" pikir Langit.
"Katanya mereka sedang buat selebaran untuk dibagikan langsung." Salah satu kaki tangan Biru mengangkat tangan lalu menyampaikan informasi.
"Ternyata mereka tak menyerah juga. Pokoknya kalian pastikan filenya tak sampai ke percetakan umum," tegas Biru.
__ADS_1
"Lakukan! Kalian tahu sendiri kalau tak menurut pada Tuan Muda Biru, apa yang akan terjadi," ancam Miki.
"Kalau berhasil, kita akan traktir kalian makan di restoran Thailand!" seru Roland.
Langit menggelengkan kepala. Ia masuk ke ruangan itu sambil berkacak pinggang. "Bagus, ya! Aa ini katanya mau taubat! Ini apa? Masih saja ngerjain anak orang!" omel Langit.
Jelas Biru mencelat dari posisi duduknya. Para mahasiswa itu langsung berdiri dan menutupi tumpukan kertas di ruangan itu.
"Apa itu?" tanya Langit yang menangkap sesuatu yang salah. Tumpukan kertas sobek yang coba ditutupi kaki tangan Biru mengundang rasa penasaran.
Langit terus mendekati tumpukan itu dan mahasiswa lain masih mencoba menutupi. "Awas!" bentak Langit.
"Ila, mendingan pulang, yuk. Sudah sore. Aku mau dinas dulu," ajak Biru sambil meraih tangan Langit.
Satu per satu mahasiswa bergeser memberikan Langit jalan. Wanita hamil itu meraih satu sobekan kertas lalu melihat tabel di dalamnya. "Inikan daftar mahasiswa dengan nilai tertinggi semester ini? Jadi kalian pelakunya!"
"Langit, kita bisa jelaskan. Ini tak seperti yang kamu pikir. Kita hanya menjalankan misi," jelas Roland. Biru menunduk pasrah saja karena bagaimanapun ia sudah ketahuan.
Langit meraih sobekan kertas lain dan membacanya. Di sana Langit mematung. Ia berbalik dan menatap Biru dengan mata kosong.
"Ini beneran, A?" tanya Langit.
__ADS_1
Biru menggaruk kepalanya. "Aku juga gak tahu, kayaknya kampus ngeprank atau ini kerjaan kakek. Kayaknya aku gak bisa segitu. Maksudku, ngerjain tugas saja jarang," jelas Biru sambil terbata-bata.
"Aku malu, La. Rasanya gak pantas ada di situ. Makanya segala usaha aku lakukan supaya nggak ada yang tahu," tambah Biru.
Langit memegang pipi Biru lalu mengusapnya. Ia menggeleng dengan mata berkaca-kaca. "Nggak, kok. Aa keren. Ini bagus! Selamat, A!" ucap Langit bangga.
"Dia malah malu, La. Katanya gak mau kamu lihat IP sama rangkingnya," ungkap Randy sambil tersenyum geli. Dari sejak ia terlibat masalah pengumumam rank itu, Randy sudah merasa geli sendiri dengan alasan Biru yang bilangnya malu.
"Ngapain malu, A. Kemarin kamu masuk daftar nilai terendah saja selalu percaya diri. Sekarang jadi nomor satu di kampus, salahnya apa? Artinya kamu jauh lebih berkembang," puji Langit.
"Aku malu, La. Kamu sama teman sekelas lain mungkin percaya aku pintar, tapi mahasiswa lain pasti mikirnya itu sudah dimanipulasi keluargaku." Biru meremas-remas lengan kemeja Langit.
Jelas Langit tersenyum gemas. "Kenapa harus peduli sama orang lain? Paling penting Langit percaya, kan?"
Biru mengangguk. Ia pegang tangan Langit yang memegang pipinya. "Makasih banyak, La. Padahal tadi aku takut tahu. Pasti aku dihajar Sarah akibat nurunin peringkat dia."
"Tumben takut sama Sarah. Biasanya juga berantem terus."
"Uhuks! Tolong kondisikan, ya. Di sini jomlo semua, lho!" protes Roland.
š±š±š±
__ADS_1
Kalau ada yang nyari bilang aku nggak bisa main, nggak ada sandal ššš