
Yang nanya kenapa Biru makan puding nggak ikut ngantuk, bukan karena pudingnya diberi obat tidur. Itu reaksi akibat obat penenang yang diminum Nila dengan kafein coklat.
Permen Minara itu real, kok. Bisa kalian cek di google atau online shop. Harganya memang mahal. Kalau mau coba aku rekomendasikan.
Nominee \= pinjam nama orang untuk beli saham. Kasus ini terinspirasi dari kasus ASABRI yang dulu viral. Juga masalah pencurian data Lion Grup beberapa tahun lalu.
🌱🌱🌱
"Gimana?" Biru berpose di depan David. Ini hari pertama ia pergi bekerja dan duduk di singgasana pimpinan tertinggi grup perusahaan milik keluarga Bamantara.
Ia mengangkat satu tangan ke belakang leher dan satu lagi berkacak pinggang tubuhnya dimiringkan ke kanan. Tujuan Biru ingin membuat David tertawa. Nyatanya, pria itu biasa saja. Wajahnya masih datar.
"Apa itu nggak lucu?" tanya Biru.
David masih diam, dingin seperti biasa.
"Heh, di sini Chairmannya aku. Harusnya aku yang tegas dan dingin. Kenapa kau malah lebih arogan dan kaku dariku!" protes Biru.
Di situ Biru merasa humornya lebih garing dari pada kerupuk kulit. Ia kembali berdiri normal lalu duduk di kursi kebesarannya. "Bagaimana hasil investigasinya?"
David menunduk. Ia kemudian berjalan maju dan duduk di kursi yang berhadapan dengan Biru. David menunjukkan hasil investigasinya pada Biru.
"Aku melihat ada pola nominee yang sama dilakukan oleh salah satu perusahaan jasa yang mengatur jalannya investasi. Untuk kali ini mereka sedang menyiapkan nominee baru," ungkap David.
Biru melihat diagram yang David buat. Ada sekiranya dua puluh nama dan ia tahu mereka pengusaha kelas teri dalam bidang bisnis. "Jumlah yang besar. Aku yakin mereka tak akan mungkin membeli saham tanpa bantuan pengusaha kelas kakap."
David mengangguk. "Hanya ini butuh waktu lama untuk diungkap. Setidaknya sampai terjadi jual beli saham."
__ADS_1
"Berapa lama?" tanya Biru santai.
"Bisa sampai enam tahun," jawab David.
Biru memijiti temgkuknya. "Dan sampai saat itu aku harus tinggal dengan siluman ular itu?"
"Apa anda sudah mendapatkan benda yang saya sebutkan?"
Biru merogoh sakunya. Ia mengeluarkan sebuah kartu magnetik yang disebutkan oleh David sebelumnya.
David tertegun. "Bagaimana anda bisa mendapatkan ini?"
"Itu mudah," timpal Biru.
"Aku harap istri anda tak menyadari jika benda itu hilang. Kalau sampai terjadi, ia akan mencium rencana kita."
David mengangguk. "Di dalamnya ada 6 juta data pribadi orang yang dibeli secara ilegal. Kebocoran data ini sebelumnya sempat diungkap oleh perusahaan keamanan siber di Moscow atas surat permintaan yang kita buat tiga tahu lalu."
"Untuk apa itu?"
"Menurut anda untuk apa? Tuan Roni sempat tertipu oleh penjaga keamanan yang ditugaskan untuk menjaga anda. Padahal ia sudah melakukan pengawasan ketat terhadap berkas dan latar belakang orang-orang yang ia tunjuk."
Biru meremas-remas jemarinya sendiri. "Kejahatan tingkat tinggi. Tidak kusangkan akan serumit ini."
"Mereka sudah tahu sejak awal kalau anda orang yang sangat sulit untuk dilawan. Mereka sudah mengantisipasinya."
"Mereka sudah tahu sejak awal aku akan duduk di posisi ini?"
__ADS_1
David mengangguk untuk menjawab pertanyaan Biru itu. "Sejak awal posisi anda sudah mereka bidik. Tidak bisa melalui jalan menduduki langsung, mereka mencoba menciptakan pemimpin sendiri."
"Dengan cara menikahkan keluarga Marga denganku?"
David menggangguk. "Hati-hatilah. Aku yakin dia akan melakukan banyak cara untuk mengelabui anda agar mendapat keturunan."
Biru mengangguk. Sudah berapa kali ia menangkap basah pelayan memasukan obat tidur dan perangsang ke dalam makanan dan minumannya. Mengingat itu, Biru bergidik.
"Untung aku bukan kaleng-kaleng. Strategi semacam itu tak akan mempan untukku. Jadikan aku harus makan di warteg setiap hari. Untung juga minimarket buka jual air mineral dua puluh empat jam."
Hanya sedikit terangkat bibir David mendengar itu. "Anda tak perlu sampai begitunya, Pak. Aku yakin tak setiap hari dia melakukan taktik seperti itu."
Biru menggeleng. "Mencegah lebih baik daripada tidak mencegah," tegasnya.
David terbatuk-batuk. "Maaf, Pak. Itu mengobati maksudnya."
Biru mengipas-ngipas tangannya. "Tak apa. Lagi pula perkataanku tak akan tercatat dalam sejarah."
"Karena kartu itu sudah ada di tanganmu. Artinya aku sudah boleh pisah rumah dengannya. Benarkan?"
"Sesesuai dengan apa yang saya katakan. Pancing amarahnya dan gunakan alasan psikologis putri anda," jawab David.
Biru mengangguk-angguk. Artinya ia harus menunjukkan jalan sesat lagi pada Minara. "Ampun Langit. Aku nggak bermaksud apapun. Aku janji setelah ini berakhir, aku akan mengasuh Minara dengan cara yang lebih beradab."
David membongkar kartu itu lalu mengambil chip di dalamnya. "Ini saya ambil untuk mencari data apa saja yang sudah digunakan."
🌱🌱🌱
__ADS_1