
"Anak baik. Main sama Ala, yuk," ajak Ara. Terdengar menggema suara anak ayam masuk ke dalam rumah.
Beberapa pelayan yang melihatnya kontan mendekati Ara. "Nona Minara, ayamnya diajak main di luar saja, ya? Kalau dibawa ke dalam, nanti kotor," saran pelayan itu.
Ara mengangkat tangannya. Kemudian dia menggeleng dengan mantap. "No! Ala nanti suluh cuci kaki!" tolaknya.
Pelayan itu tak kuasa menolak saat Ara menggembala sekumpulan makhluk kuningnya masuk ke dalam rumah. Mereka semua begitu penurut. Bahkan saat Ara meminta mereka satu per satu naik ke lift mereka dengan menurutnya melangkah mengikuti Ara.
"Ayo! Kita main cana, ya!" ajak anak itu lagi. Ia turunkan ayamnya dari lift lalu berjalan di lorong kamar.
"Cuci kaki dulu! Mana ya?" pikir Ara.
Di ujung lorong ia melihat pintu kamar Nila terbuka. Ara mendorong pintunya agar terbuka semua lalu mengajak anak ayamnya masuk. Ia menggiring mereka untuk masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Ayo! Cuci kaki sama tangan!" titah Minara. Ayamnya masuk ke dalam kamar mandi. Ia nyalakan air di bathub lalu menaikan ayamnya satu per satu. Niatnya hanya mencuci kaki ayam-ayam itu.
"Hmm, nggak ada tangan. Ini wing, tayap!"
Minara melihat ke sekeliling. Ia menemukan sabun mandi milik Nila. Lekas sabun itu ia gunakan untuk memandikan ayam-ayamnya. Satu per satu kemudian ia bilas anak ayam itu dan ia turunkan dari bathub.
"Semua wangi!" serunya.
Tak lama Ara merasa ada yang janggal. Anak ayamnya semua bertubuh basah. Anak itu kembali menengok ke sekitar. Ada handuk terlipat rapi di dalam lemari handuk. Ara menggunakannya untuk mengeringkan anak ayamnya. Setelah kering dia bawa keluar kamar mandi.
"Main sini, yuk! Jangan nakal-nakal. Ala mau dandan dulu." Ia memberi instruksi pada anak ayamnya yang masih setengah basah.
Lekas Ara mendorong kursi rias ke dekat meja rias lalu naik ke atasnya. "Wow, dandan Bibi banyak!" Terlihat sekali mata Ara yang berbinar melihat semua itu. Ia tersenyum senang lalu mulai dengan prosesi berdandannya.
__ADS_1
Ara sering melihat cara memakai make up di internet. Hanya anak kecil namanya. Ia tahu make up itu digunakan di mana, tapi tak tahu bagaimana cara menggunakan dengan benar.
Bukan satu tetes. Ia gunakan setengah botol foundation di wajah. Lalu mengoles blush on dengan tangan akibat tak menemukan kuas. Tentu saja, kuasnya tersimpan di laci dan Ara tak bisa membukanya akibat berat. Tak ketinggalan dengan eye shadow juga lipstick.
Seusia itu, anak memang suka dengan warna yang mentereng. Tentu saja Ara memilih warna merah lalu mengoleskannya ke bibir sambil memanyunkan organ itu ke arah cermin. Sukses dengan dandannya, Ara melihat bedak. Ia buka bedak padat itu dan menepuk-nepuk ke muka.
"Ala catik, ya," pujinya walau dengan make up yang bukan lagi menor, tapi mengarah seperti riasan badut pesta.
Tak puas dengan make up, Ara mencari aksesoris. Ia turun dari meja rias dan pergi ke walking closet. Di sana ia melihat isi lemari Nila. Matanya lagi-lagi terbelalak melihat banyak pakaian juga tas dan aksesoris.
Ara memilih kalung mutiara yang ketika ia kenakan sampai ke perutnya. Jepitan bunga yang melebihi besar kepalanya juga ia kenakan. Tak lupa tas mahal Nila bermerk H3rmes seharga tiga milyar.
Ara bergaya di depan cermin lalu ia berjalan keluar dengan langkah elegan seperti wanita bangsawan. Di saat bersamaan, Nila baru tiba dari kantor. Ia terdiam di depan pintu melihat anak-anak ayam di atas tempat tidur dan karpet kamar. Bagian yang membuat dia syok tentu saja wajah Minara yang memancingnya untuk melirik ke arah meja rias. Tempat itu berantakan, terutama lipstick dan bedak yang patah.
__ADS_1
š±š±š±