
kalau isi chapternya sedikit harap dimaklum ya kakak-kakak. Di sini aku nggak dapat bayaran. Jadi harus juga nyabang di ijo demi dapat lembaran. Aku juga harus bagi waktu dengan pekerjaanku. š
Harap kita bisa saling pengertian. Author lain hanya fokus di satu aplikasi sedang aku harus berjuan di tiga tempat. Maklum aku ini remahan. Bawa pembaca semua ke lapak hijau saja masih mikir keras. Jadi kita saling pengertian saja, ya? aku bisa upload panjang, tapi seminggu sekali. š¤£š¤£š¤£
š±š±š±
"Papa pergi kerja dulu, ya?" pamit Biru yang sekarang mengganti ke shift pagi lantaran tak ingin bertemu kembaran mujair kurang obat. Ia lebih suka diganggu staff wanita lain. Paling tidak kalau ditolak mereka mengomel sebentar, tidak mengekor seperti anak bebek ke induk angsa.
"Pa pa pa!" jawab Minara mengadukan hidungnya ke hidung papanya. Biru mengangkat tangan dan menyentuh tangan Ara. Kaget bukan main ketika bayi itu mencium tangan Biru.
"Wah, dia tahu harus salim," ucap Biru dengan wajah senang dan bangga.
Langit sama tertegunnya. Ritual cium punggung tangan itu sering mereka lakukan setiap Biru pergi kuliah dan kerja, tapi tak disangka kini Ara mampu melakukannya sendiri.
"Putrinya Bunda pinter!" puji Langit.
Ara mengernyitkan alisnya. Kedua matanya memejam menggemaskan dan bibir yang ikut mengerut. Tak lama Ara tertawa renyah.
"Anaknya papa makin hari makin lucu. Ini Ateng sama Iskak saja kalah, lho!" puji Biru.
Ara menaikan sebelah alisnya. "Ala anak milenial mana tahu mereka siapa. Pokoknya itu idolanya papa selain Bunda Suzanna," jelas Biru.
Langit terkekeh. "Jangankan Ara, Bunda saja nggak tahu mereka siapa. Kalau Kakek Bokir sih kenal."
__ADS_1
Biru memberikan Ara pada Langit. Ia melambai pada istri dan putrinya itu. "Dadah Ara! Papa pergi, ya?" pamit Biru dengan mengecup kening Ara dan juga Langit.
Langit dan Ara melambai. Sedang Biru berjalan mundur terus menatap mereka berdua. "Aa! Hati-hati nanti nabrak!" Baru Langit berkata, Biru benar saja tersandung hingga hampir terjungkal jika saja ia tidak berpegangan pada tembok rumah orang lain.
"Tuh, kan! Lihat jalan!" omel Langit.
Biru nyengir. Ia lagi-lagi melambai. Kini ia berbalik dan berjalan pergi. Tak lama Biru kembali berbalik memandang keluarga kecilnya.
"Ara! Papa mau pergi kerja, jangan halangi Papa." Seperti biasa lebaynya Biru kembali muncul. Ia sampai pura-pura memegang tembok seakan benar ditahan Ara untuk tidak pergi.
Ara menepuk wajahnya. Ia pasti banyak mengucap istighfar dalam hati melihat kelakuan papa kandungnya. Sedang Langit yang sudah terbiasa dengan hal itu hanya manyun.
"Nah! Nah!" ucap Ara sambil menggerakkan tangan seolah mengusir Biru.
Kini Langit tertawa. "Tuh kata Ara, sana pergi!" kelakar Langit
"Papa kenapa itu Ara?" tanya Langit tak kuasa menahan tawa.
"Da wi!" jawab Ara.
Langit tertawa. "Nggak ada duit?" terkanya.
Motor Biru diparkir di lapangan yang dibangun pemerintah daerah setempat. Lapangan itu dibenteng dan dijaga 24 jam oleh hansip kampung. Ini ide Biru untuk mengurangi angka kehilangan motor di kampung ini. Sebelum lapangan ini ada, dalam semalam pernah terjadi dua kali curanmor. Kini selama tiga bulan dibangun, motor aman. Bahkan Biru mendapat penghargaan atas idenya.
__ADS_1
Sebagai gaji hansip, siapa yang menitipkan motor wajib membayar iuran bulanan. Dua kampung menyimpan motor di lahan itu. Uang iuran juga digunakan membayar sewa pada pemilik lahan.
Dengan motor itu, Biru menyusuri jalanan kota. Tentu ia sudah punya sim C jalur resmi tanpa nembak, apalagi nembak ibu polwannya untuk menyatakan cinta. Bahaya!
Sampai di parkiran bank dan menurunkan standar motor, Biru membuka helmnya. Ia terkejut melihat Nila berdiri di pintu masuk bank.
"Memang tak ada pilihan lain untuknya selain dikirim ke RSJ!" pikir Biru. Ia melenggang pergi hendak masuk ke kantor satpam.
"Selamat pagi Tuan Muda Biru Bamantara!" sapa Nila. Panggilan itu membuat Biru berbalik dan menatap wanita itu heran.
"Saat kakak saya dan kakak anda menikah, saya tidak hadir karena masih di luar negeri. Sungguh sangat menyesal saya tidak menyapa anda dengan baik," ucap Nila sambil menunduk hormat.
"Kamu sakit jiwa?" tanya Biru dengan nada tajam.
"Anggap saja begitu. Hanya saya sangat kagum dengan anda. Di saat kakak tertua anda menjadi pimpinan di perusahaan, anda malah susah payah menjadi satpam di sini," ucap Nila.
Biru tak mau menghiraukannya. Ia berbalik dan berjalan ke pintu ruang satpam lalu membuka kuncinya.
"Aku akan membantu anda mengalahkan Surya Bamantara. Dengan satu cara, menikah dengan saya dan kita gabungkan saham milik keluarga kita," tegas Nila.
Biru masuk ke dalam kantor. Ia berbalik. "Tunggu di sini!" tekan Biru. Nila diam di depan pintu. Tak lama Biru datang dan menaburkan garam di depan pintu. Garam itu ia dapatkan dari wadah garam milik Pak Seta. Satpam itu memang sering makan dengan nasi yang ditaburi garam.
Nila hendak melangkah, tapi langsung Biru larang. "Berhenti di situ! Aku sarankan. Siluman ular kalau melewati garam akan binasa!" ancam Biru.
__ADS_1
"Satu lagi! Jangankan menikah. Dekat denganmu saja, bisulku bisa kambuh!" tambahnya lagi. Bukan Biru namanya kalau tidak bisa membuat Nila darah tinggi.
š±š±š±