Mr. Tajir Jatuh Cinta

Mr. Tajir Jatuh Cinta
Tegas


__ADS_3

Nila menendang dasboard mobilnya. Napasnya naik dan turun dengan cepat. Beberapa kali ia memaki dan mengeluarkan umpatan kasar. "Aku nggak terima dia memperlakukanku seperti ini! Harus aku beri dia pelajaran!"


Ia berusaha mencari tahu siapa orang yang berada di balik bank tempat Biru bekerja. Senyumnya terkembang ketika tahu putra pemilik bank itu ia kenal baik.


Nila tak mau menunggu terlalu lama. Ia telpon kenalannya itu. "Arif apa kabar?" sapa Nila begitu telponnya diangkat.


"Ada apa, Nila?" tanya Arif. Ia merasa senang ditelpon gadis cantik itu. Apalagi selama sekolah dulu, Nila memang menjadi idama para siswa di sekolah mereka. Tidak hanya wajahnya yang ayu, tubuhnya berlekuk layaknya jalanan menuju puncak gunung Manglayang dan pasti latar belakang keluarganya yang terhormat lagi kaya.


"Aku mau minta tolong, please!" pintanya sambil memelas mengeluarkan suara yang menggoda.


Arif di sini mulai goyah. Ia mengusap tengkuk beberapa kali akibat merinding sudah tubuhnya minta bertemu dengan pemilik suara seksi di telpon. "Apa saja buat kamu," jawab Arif yang tak lagi Arif akibat godaan Nila.


"Bank Milis Center itu milik keluarga kamu, kan?" tanya Nila.


"Iya, itu salah satunya."


Nila mengangguk. "Kamu bantu aku, donk. Tolong pecat salah satu pegawai! Dia sudah bertindak nggak sopan sama aku!"

__ADS_1


Arif menundukkan wajah. Ia menarik napas. "Kamu ada buktinya dia bertindak nggak sopan?"


Nila tertegun. "Memang harus ada buktinya?" tanya Nila bingung.


"Para pegawai itu dilindungi undang-undang ketenagakerjaan. Aku mana bisa memecat sewenang-wenang. Bisa-bisa bisnis keluargaku jadi taruhannya," jelas Arif cukup bijaksana.


"Halah! Memang pekerja itu tahu hal kayak gitu? Kalau dipecat ya paling suruh pergi saja! Dia nggak akan melawan," ucap Nila seenak jidat.


Arif menggeleng. Setahunya Nila kuliah di luar negeri, tapi aturan seperti itu saja ia sepelekan. "Maaf, Nila. Aku nggak bisa. Lagi pula pemilik usaha jasa itu papaku, bukan aku," tolak Arif.


Nila mematikan ponsel lalu melempar ke atas dashboard. "Dasar laki-laki nggak bisa diandalkan!"


"Ru! Ini beneran buat aku?" tanya Pak Firman yang memakai seragam milik Biru.


"Makan saja, Pak. Saya takut ada pelet atau obat perangsangnya. Nanti hidup saya jatuhnya kayak di novel-novel legend kalau nggak sinema iklan tenggiri," timpal Biru.


Pak Firman tak memedulikan alasan Biru tak memakan pemberian Nila itu. Ia yang melihat sushi di dalamnya langsung main sikat saja.

__ADS_1


Di dalam wadah itu ada selembar kertas berwarna merah. Ada tulisan tangan di atasnya. Terima kasih sudah menolongku, Pak Firman. Mudah-mudahan kamu suka makanannya.


Pak Firman terkekeh. Ia mengusap kumisnya. "Enak gini tukeran seragam sama Si Biru. Bisa dapat surat cinta. Seumur hidup saja nggak pernah. Mana ini dalamnya ada makanan jepang juga. Apa namanya Susi Susanti apa susilowati, ya?" pikir Pak Firman.


Ia ambil sumpit dan mencoba menggunakan alat makan itu. Akibat tak berhasil dengan cara dicapit, Pak Firman tusuk sushinya kemudian langsung ia makan.


"Aduh, rasanya kayak lemper," ucap Pak Firman setelah beberapa kali mengunyah.


Biru masuk ke dalam ruangan satpam yang pintunya masih terbuka. Ruangan itu hanya satu petak berada di luar gedung bank dan pintunya langsung menghadap ke sisi pintu masuk bank.


Tangan Biru mengambil topi yang dikaitkan di gantungan jaket. "Enak, pak?" tanya Biru.


Pak Firman mengangguk. "Ini pertama kali aku makan beginian, Ru. Mau makan nggak? Ini masih banyak," tawar Pak Firman.


Biru menggeleng. Makanan seperti itu sudah menjadi menu sehari-harinya selama tinggal di keluarga Bamantara. Kadang ia sengaja mengundang kokinya datang langsung ke rumah. Bahkan Biru sudah merasa bosan.


"Nggak usah, Pak. Aku mau ngosongin perut. Nanti habis maghrib Langit mau datang sama Ara nganter makanan. Aku lebih suka nunggu masakan dia. Mana masak buntil lagi," tolak Biru.

__ADS_1


🌱🌱🌱


__ADS_2