Mr. Tajir Jatuh Cinta

Mr. Tajir Jatuh Cinta
Hantu di gang


__ADS_3

sebelum baca mohon baca dulu ceramah dariku. Tolong hafalkan nama ini šŸ˜† biar kalian gak suudzon nyebutin pelakor.




Perempuan yang muncul di sini suatu hari nanti akan menolong Langit.




Kisah perempuan ini terinpirasi dari sebuah video viral di IG 🤧😁 Jadi jangan bawa-bawa ikan terbang. Segala kejadian di novel ini terinpirasi dari artikel-artikel sebagai sumber riset author. šŸ˜‰




Kenapa videonya tak diungkap? Karena memang sudah dihapus oleh yang bersangkutan. šŸ™




Kami, urang Bandung menyebut pasar tumpah adalah pasar pagi yang dibuka di luar lahan pasar, misal di trotoar dengan dijual secara emperan atau meja yang mudah dipindah-pindahkan. Biasanya buka dari pukul 02 pagi sampai jam buka toko. Karena biasanya pedagang ini berjualan di lahan parkir toko atau pasar.



__ADS_1


🌱🌱🌱


"Jam segini seger, ya? Masih tercium bau embun." Biru merentangkan tangannya. Langit masih gelap dan suasana gang masih sepi. Keduanya terpaksa lewat gang belakang untuk memotong jalan menuju pasar agar lebih cepat.


"Ih, bau apa ini?" keluh Biru. Ia baru lewat jalan ini karena memang berbeda RW. Jadi kalau ronda malam tidak ia lewati. Tangannya menutup hidung.


"Bau tai kotok kalau kata orang sunda alias kotoran ayam," jelas Langit.


"Apa ayamnya kalau ke WC gak pernah disiram apa? Baunya sampai begini," protes Biru.


Kalau saja Langit tak ingat Biru suaminya, ingin tangannya melayang untuk menabok pria itu hingga sadar. Tetapi tak boleh, dosa.


Gang hanya terang dengan lampu di teras rumah. Mahalnya lampu neon, membuat rumah-rumah memilih lampu kuning biasa. Makanya nyalanya tak begitu cerah.


Saat berbelok Langit tertegun. Ada seorang wanita duduk di teras sebuah rumah. Tas besar tersimpan di sampingnya. "Aa, itu siapa?" tanya Langit ingin menghampiri, tapi langsung ditahan Biru.


"Jangan, La. Kalau hantu gimana? Katanya hantu gang suka makan perempuan hamil muda," larang Biru.


Biru berkacak pinggang. "Kamu itu kalau kata suami harus nurut. Ilu sudah riset dari SD baca komik horor karya Tatang .S, tahu! Jelas-jelas disitu ceritanya begitu. Banyak hantu dijelasin dari Wewegombel, kuyang sampai kutilanak," jelas Biru.


"Bagus, ya. Sekolah malas, tapi baca gituan rajin banget. Mau jadi apa sudah besar nanti?" omel Langit.


Biru nyengir kuda. "Kan jadi suami kamu," celetuknya.


Langit geleng-geleng kepala. "Sudah! Kasian itu ibunya," protes Langit langsung menghampiri perempuan hamil itu.


"Teh, lagi apa di sini? Mau ke yang punya rumah?" tanya Langit.


Perempuan itu menggeleng. "Gak apa, Teh. Saya dari isya di sini kok. Mungkin nanti pintunya dibukain," jawab perempuan itu.

__ADS_1


Langit terkejut. Apalagi melihat perutnya sudah terlihat besar. Sesama orang hamil tentu Langit bisa merasakan bagaimana sulitnya keadaan saat itu.


"Ya Allah, Teh. Kenapa gak coba ke tetangga saja. Kenapa nunggu di teras semalaman? Kasian banget."


Biru sepertinya mulai percaya kalau perempuan itu benar-benar orang. Buktinya perempuan itu tak langsung melepaskan kepala dan isi jeroan ketika Langit mendekat.


"Tunggu di rumah kami saja, Teh. Sekalian nanti diberi teh hangat. Dingin loh," saran Biru.


Langit membantu perempuan itu berdiri. Tangannya terasa dingin sekali saat menyentuh tangan Langit. "Hayu Teh ke rumah," saran Langit.


Biru membawakan tas perempuan itu sementara Langit membantu perempuan itu berjalan. Sepertinya akibat itu, Langit lupa akan ngidamnya.


Sampai di rumah, perempuan itu diminta duduk di sofa rumah sementara Biru membawakan teh manis hangat. Minuman ampuh kalau Langit muntah-muntah dan merasa lemas.


"Minum, Teh," tawar Biru. Perempuan itu mengangguk lalu meminum teh hangat yang Biru buat. Habis setengah, ia simpan gelasnya di atas meja.


Sesekali perempuan berambut panjang itu menatap Langit dan Biru. Matanya mulai berlinang. "Terima kasih sudah mau menerimaku. Aku diusir dari rumah mertua. Mau pulang juga gak berani. Orang tuaku sudah gak mau menerima aku lagi," ceritanya.


Air mata menetes ke pipi. Ia hapus air mata itu. Mendengarnya membuat Langit juga Biru merasa tersayat. Sisi kemanusiaan mana yang bisa merasa tak terluka mendengar keadaan seorang ibu hamil diusir hingga duduk di teras semalaman sementara dia tak punya tempat pulang.


"Kok bisa, Teh. Kalau itu keluarga suami bisa dimaklum. Kalau keluarga Teteh sendiri kok bisa setega itu?" tanya Biru bingung.


Perempuan itu kembali mengusap air matanya. Sementara Langit yang duduk di sampingnya hanya bisa mengusap punggung perempuan itu. "Teteh namanya siapa?" tanya Langit.


"Elina," jawab perempuan hamil itu.


"Namanya bagus. Aku Langit, itu suamiku Biru. Kami siap kok bantu Teteh. Biar kami bantu bicara dengan keluarga teteh kalau memang mereka gak mau menerima teteh lagi. Masalah mertua, nanti pagi biar kami lapor RTnya," saran Langit.


Elina menggeleng. "Gak bisa Teh Langit. Aku sudah gak tahan di sana. Apalagi sebelum mengusir, beliau ancam saya. Katanya kalau sampai bayi ini lahir caesar, itu bukan cucu kandungnya," jelas Elina.

__ADS_1


🌱🌱🌱


Kalau nanya menciptakan karakter Biru dapat dari mana? Dari banyak karakter cowok-cowok bucin di drama Korea.


__ADS_2