
Bahkan sampai akhir pun tak ada yang mau bertanggung jawab akan bayi itu. Disusul oleh ketua RW, mertua Elina ternyata pulang kampung ke luar kota. Sedang orang tuanya, hanya mau menerima Elina, tidak dengan bayinya.
Fakta menyedihkan seperti ini sering terjadi dan di sini sisi kemanusiaan tetangga harus bergerak.
Orang tua pasangan itu tak sepenuhnya salah, posisi Elina sejak awal juga sudah salah. Suaminya apalagi. Orang tua tentu kecewa karena sejak kecil membesarkan anak mereka agar setelah besar menjadi orang yang sukses.
Sementara anak yang jelas sudah dewasa dan tahu hal baik atau buruk justru lebih memilih mengecewakan orang tuanya dengan melakukan hubungan terlarang di luar tali pernikahan. Hanya bayi itu lahir dalam keadaan suci. Ia tak pantas mendapat hukuman atas kesalahan orang tuanya.
"Pak, biar bayinya dibawa ke rumah kami saja. Biar aku yang bayar biaya persalinan juga pemakamannya," Biru menawarkan diri.
"Iya, Pak. Kami mau punya bayi juga. Siapa tahu dengan ini akan membawa kebaikan untuk calon bayi kami ke depannya," tambah Langit.
Pak RT mengangguk-angguk. "Kalian memag pasangan sepadan, ya? Sama-sama baik di paras juga di hati. Semoga hidup kalian selalu diberikan berkah ke depannya," puji Pak RT.
__ADS_1
Jenazah bayi itu digendong Biru sampai rumah. Air mata tak hentinya mengucur dari mata Biru. "Maafkan dunia ini ya bayi kecil. Mungkin kamu dibawa kembali karena Allah tahu, Dia lebih menyayangimu dari siapa pun. Aku juga tak diterima keluargaku, dengan begini kamu gak akan mengalami apa yang aku alami," ucap Biru.
Ia mengusap kepala bayi dalam gendongannya yang sudah dikafani. Biru sempat menyingkap kain kafan dan melihat wajah bayi itu. Begitu mungil dan lucu. "Bagaimana bisa orang tua yang sudah dewasa dengan pemikirannya menganggap bayi suci seperti ini sebagai pembawa sial."
Tetangga menunggu di rumah Langit untuk mendoakan jenazah bayi tak berdosa itu. Banyak orang yang datang satu per satu bergantian memberi doa serta sumbangan untuk pemakaman bayi itu juga biaya rumah sakit Elina.
Biru tak menyangka. Ia yang tadinya terpaksa akan mengambil tabungannya, mendadak batal akibat uang sumbangan justru malah jadi berlebih. Akhirnya Biru memberikan sumbangan itu untuk diatur Pak RT.
Iring-iringan yang mengantarkan bayi itu kepemakaman juga banyak. Lagi-lagi Biru yang menggendongnya. Langit tak ikut. Bukan karena mitos wanita hamil tak boleh ke makam. Dalam agama, wanita memang disarankan tak ikut.
"Terus keluarganya gimana?" tanya Fitri saat rumah sudah mulai kosong ditinggal pelayat.
"Orang tua Teh Elina datang, tapi gak mau lihat Zahra. Kalau mertua dan suaminya sedang dicari polisi. Aa Biru keukeuh mau laporin mereka atas tidakan penelantaran. Dia dendam karena dari kecil kurang perhatian. Melihat Zahra dibegitukan, singanya langsung keluar," cerita Langit.
__ADS_1
Fitri tak mau banyak ikut campur masalah keluarga Biru. Ia tahu semua itu, hanya tak pernah mengungkapkannya pada Langit. Keberadaan Biru di rumahnya membuat Fitri lega, setidaknya ia memenuhi janji untuk menjaga Biru.
Fitri berjalan ke dalam kamar. Ia ambil sebuah kotak di dalam lemarinya. Dari kotak itu ada sebuah kalung berbentuk bulan sabit. Masih ingat dalam benak Fitri terakhir kali bertemu dengan Mira.
"Teh, kalau suatu hari nanti Biru punya istri. Tolong berikan kalung ini untuknya. Ini restuku. Aku takut tak bisa menemani Biru hingga dia menikah," ucap Mira seakan tahu ajal tak lama akan menjemputnya.
Keesokan hari Fitri yang bekerja di keluarga Marga mendengar Mira kabur dari rumah keluarga Bamantara. Kemudian beberapa hari setelah itu, Fitri mendapat kabar kematian Mira.
Sedih rasanya tak bisa melihat sahabat sejak kecil untuk terakhir kali. Berniat izin datang ke pemakaman Mira, Fitri malah jatuh terpeleset di tangga dari lantai dua rumah itu. Ia tak mau buruk sangka, anggap saja memang ada pelayan lain yang lalai dalam bekerja dan menumpahkam air di sana.
Fitri menarik napas panjang. Tidak pernah ia sangka, putrinya sendiri yang akan berjodoh dengan Biru.
š±š±š±
__ADS_1