
Masalah yang dialami Devan berangsur usai ketika mendapat suntikan dana dari perusahaan orang tuanya. Proyek mulai berjalan seperti rencana. Tidak ada kendala, kecuali keberadaan Novan yang sampai saat ini belum ditemukan. Padahal, sudah terhitung tiga bulan sejak ia melaporkan kasus itu. Namun, masih jalan di tempat.
Kendati begitu, Alina dan Devan berusaha sabar dan berpikir positif. Setidaknya, saat ini keuangan mereka sedikit membaik. Selain proyek dengan Burhan yang sudah berjalan setengah, Devan juga sudah memegang proyek lain yang akan berjalan mulai bulan depan.
"Sayang, gimana kalau ... kita ngasih Tiara lagi?" tanya Devan pada malam itu.
Berbeda dengan sebelumnya yang langsung setuju, kali ini Alina hanya mende-sah berat.
"Lagi?" jawabnya, singkat dan datar.
"Aku hanya kasihan. Perutnya sekarang udah besar, nggak lama lagi lahiran. Pasti butuh biaya banyak."
"Tapi, kita juga punya banyak kebutuhan. Uang yang waktu itu pinjam di perusahaan Mama aja baru dikembalikan setengah. Lagian ... udah sering kan kita bantu dia? Udah tiga kali loh kita ngasih uang. Belum lagi beras dan kebutuhan pokok lainnya. Kemarin juga pas dia sakit, kita yang bayar biaya rumah sakitnya. Masa sekarang mau ngasih uang lagi? Dia juga kerja loh, Mas." Alina tak mau kalah.
Entah mengapa mendadak hatinya cemburu. Menurut dia, perhatian Devan terlalu berlebihan. Mengundang kecurigaan yang dulu tak pernah ada.
"Aku cuma takut dia kekurangan. Selain kita, nggak ada lagi yang peduli ke dia. Paman dan bibinya udah nggak mau, Mama juga nggak mau ngakuin itu cucunya. Dia sendirian, Sayang," sahut Devan.
"Kasihan boleh, peduli boleh, tapi ya jangan berlebihan. Sikapmu yang kayak gini itu malah bikin curiga tahu nggak, Mas. Aku jadi mikir, jangan-jangan Mama memang benar. Yang dikandung Tiara itu bukan anak Shaka." Alina melipat tangan di dada, merasa muak dengan pembelaan suaminya terhadap Tiara.
Hamil, kasihan, selalu itu yang dikatakan. Apa lelaki itu lupa jika kehamilan adalah sesuatu yang sangat sensitif bagi istrinya?
__ADS_1
"Kok kamu ngomongnya malah gitu, Sayang. Kamu ikut nganggap Tiara hamil anak orang lain?" Devan menatap lekat ke arah Alina.
Wanita itu malah mendelik tajam, "Iya, dan orang itu kamu."
Selagi Devan masih terperangah, Alina sudah bangkit dan meninggalkan sang suami dengan langkah kasarnya.
"Ahh!" Devan mengusap wajahnya dengan telapak tangan.
Banyak beban yang berputar di otaknya, seperti benang ruwet yang tidak jelas mana pangkal-ujungnya. Sekian lama menumpuk, belum ada satu pun yang berhasil ia urai.
_________
Tak beda jauh dengan suasana di rumah Alina, di rumah Dewi pun banyak emosi yang menyelimuti. Hal itu bermula dari informasi yang dibawa Karel—setelah tiga bulan mencari, terkait masalah antara Devan dengan Novan.
Dewi dan Sherin terperangah ketika menatap lembar demi lembar itu. Pasalnya, latar pengambilan gambar adalah kantor Devan, sedangkan selama ini tidak ada kabar yang menyebutkan bahwa Nala bekerja di kantor tersebut.
"Aku nggak berani ambil kesimpulan yang lebih jauh, Ma. Aku cuma bisa ngomong kalau foto ini dapat dari karyawan sana. Dan dari informasi yang kuterima, katanya mereka berselisih ya gara-gara Nala ini. Mas Novan nggak mau adiknya jadi orang ketiga," ucap Karel, menambah ketegangan di hati Dewi. Tak menyangka jika anak sulung yang pernah ia banggakan, berani berbuat seperti itu.
"Mas ... ini beneran akurat? Aku nggak bisa percaya Mas Devan kayak gini," sahut Sherin.
"Aku juga nggak percaya, Sayang, tapi itulah informasi yang kuterima. Jujur ... sekarang ini aku masih berharap semua hanya salah paham." Karel menunduk penuh sesal.
__ADS_1
"Tapi ... Novan, sampai saat ini belum ditemukan. Dia bukan orang besar. Jika Devan benar-benar melaporkan, pasti sekarang sudah tertangkap." Dewi menimpali.
"Kayaknya udah waktunya kita ajak dia bicara, Ma. Kita dengar langsung gimana penjelasan dia," kata Sherin.
"Aku setuju. Lebih baik memang begitu, Ma. Udah cukuplah kita menyelidiki sampai sejauh ini." Karel membenarkan saran sang istri. Dalam hatinya, dia juga berharap semua masalah ini segera clear.
Setelah selesai berbincang serius dengan istri dan mertuanya, Karel bangkit dan izin pergi. Ada teman yang mengajaknya makan di luar, sambil membahas rencana kerja sama.
Sepeninggalan Karel, Sherin masuk ke kamar, dan kini tinggallah Dewi seorang diri. Dalam diam itu, dia merenungi kejadian demi kejadian yang akhir-akhir ini menghampiri. Mulai dari kehamilan Tiara, sampai kebohongan Devan.
"Kenapa? Aku sudah sungguh-sungguh mendidik mereka. Menanamkan akhlak dan moral sejak dini, tapi ... kenapa berakhir begini?" batinnya.
Dalam detik ini, Dewi teringat kembali akan penolakannya terhadap Tiara. Lantas terselip tanya dalam hati, apakah dia sudah salah menilai? Apakah benar yang dikandung Tiara adalah anak Shaka?
Menyadari kegagalannya dalam mendidik Devan, Dewi jadi gelisah, takut jika dia juga gagal dalam mendidik Shaka.
'Besok malam kamu ke sinilah! Ada hal penting yang ingin Mama bicarakan.'
Dewi mengembuskan napas panjang usai mengirim pesan untuk Devan.
"Aku berharap, besok ada jawaban yang baik. Tolong jangan kecewakan Mama, Devan," gumamnya sembari menutup wajah dengan kedua tangan.
__ADS_1
Bersambung...