
Terhitung sudah satu minggu Juna mendengar kabar pernikahan Sherin. Selama itu pula pikirannya kacau tak menentu. Di satu sisi ingin menyerah, namun di sisi lain ingin terus berusaha sebelum kata 'sah' diteriakkan oleh para saksi.
Ada banyak pertimbangan yang terus berkecamuk, salah satunya keadaan dan perasaan yang tidak selaras. Perasaan begitu menggebu, tetapi keadaan tidak memungkinkan. Dia berada jauh di bawah Sherin. Lantas, pantaskah ia berjuang?
"Dia udah nggak pernah ngaktifin nomornya. Apa mungkin ... udah nggak mau lagi ngomong sama aku?" gumam Juna pada malam itu. Untuk kesekian kalinya, ia kesulitan memejamkan mata, hanya karena teringat dengan Sherin. Wanita rapuh yang terkesan angkuh, yang selalu membayangi tanpa tahu tempat dan waktu.
Desa-han napas kasar pun kembali keluar dari bibirnya, entah sudah keberapa kalinya itu. Sesaat setelahnya, ia memejam, tetapi tidak tidur, sekadar meresapi gejolak yang memenuhi isi kepala. Maju demi hasil yang masih abu-abu, atau justru menyerah dan siap kalah. Entahlah.
Sementara itu, di kediamannya Sherin sedang duduk berhadapan dengan Devan, yang pulang sejak kemarin. Ia sengaja menginap di rumah Dewi karena suasana hati Sherin sangat buruk dalam beberapa hari terakhir. Devan berpikir, mungkin perlu bicara empat mata agar adiknya itu paham akan maksudnya.
"Masih marah sama aku?" tanya Devan setelah cukup lama saling diam.
"Nggak." Hanya jawaban singkat, tanpa tatapan apalagi senyuman.
"Terus ... kenapa di dalam kamar doang? Mama udah ngomong loh sama aku, katanya kamu jarang keluar. Bahkan, makan dan main sama Bian aja juga di kamar."
Mendengar ucapan Devan, Sherin hanya menatap sekilas. Lantas, mengembuskan napas berat sembari mengusap wajahnya.
__ADS_1
"Aku nggak marah, cuma ... nggak tahu aja lah mau gimana. Aku udah ngomong sama Mas Devan kalau aku ada rasa sama Juna. Tapi, Mas Devan malah kayak gini."
Sherin agak keberatan dengan keputusan Devan, yang melarangnya kembali ke Malang juga melarang mengaktifkan nomor lama. Terlebih setelah tahu bahwa Devan mengabarkan berita pernikahan yang jelas bohong, makin enggan saja Sherin.
"Aku begini juga demi kamu. Aku ingin tahu sejuah mana perasaan Juna dalam mencintai kamu."
"Itu kan bisa dilihat dengan pas pacaran nanti, Mas. Kalau belum-belum aja Mas Devan udah ngomong aku mau nikah, yang ada dia malah menjauh. Nggak akan tahu tulus nggaknya," bantah Sherin.
"Pacaran?" Devan menaikkan kedua alisnya. "Kamu dulu dua tahun lebih pacaran sama Karel, hasilnya gimana? Kamu juga tetap nggak tahu kan dengan sifat aslinya?" lanjutnya.
"Aku nggak ngelarang kamu pacaran sama Juna, tapi sebelum itu ... aku ingin tahu dulu, sejauh mana cinta yang dia punya. Kalau dia berani datang ke sini, ngomong terang-terangan sama aku dan Mama, terus berani bawa keluarganya, oke ... aku izinin kamu menjalin hubungan sama dia," sambung Devan.
"Tapi, dia itu orangnya suka pesimis. Mana berani langsung ke sini, apalagi tahunya aku udah mau nikah." Sherin masih tetap pada argumennya.
"Jadi ... kamu maunya gimana? Langsung pacaran kayak sama Karel dulu? Nggak takut hal sama terulang lagi?"
Sherin menunduk.
__ADS_1
"Aku begini karena nggak mau kamu sakit hati untuk kedua kali. Kemarin ada temenku yang niat mau ngelamar kamu, aku berani ngasih kesempatan karena tahu dia seperti apa. Tapi, kamu yang nggak mau, katanya udah mulai nyaman sama Juna. Oke, aku maklum. Hati emang nggak bisa dipaksa. Tapi, jangan hanya karena cinta yang kamu sendiri baru menyadari itu, lantas langsung menjalin hubungan tanpa mau tahu dulu cinta yang dia punya sebesar apa," lanjut Devan dengan suara lembutnya.
Sherin masih diam.
"Aku tahu, nggak mudah untuk kamu move on dari Karel. Luar biasa Juna, patut diacungi lima jempol. Dalam waktu singkat, dia bisa bikin kamu move on. Tapi, dari situ juga aku bersikap kayak gini. Aku nggak mau, nantinya kamu udah telanjur jauh sama dia, dan ternyata nggak jauh beda dari Karel. Kamu kalau udah sakit hati sembuhnya lama. Aku takut hatimu nggak bisa kembali lagi ketika gagal untuk kedua kali. Makanya, aku mau tahu dulu sebesar apa cintanya ke kamu, karena aku nggak mau kamu gagal lagi." Devan kembali bicara, sembari menatap Sherin yang masih setia dalam diamnya.
Lagi-lagi hanya embusan napas berat yang keluar dari bibir Sherin.
"Jadikan cintamu itu sedikit mahal. Jangan mudah luluh hanya karena kata-kata, lihat dulu buktinya. Kamu tahu, makin sulit sesuatu didapat, makin berat juga untuk melepas. Coba renungkan ... gimana awal mula hubunganmu dulu dengan Karel. Mudah nggak dia dapetin kamu?"
Kali ini mata Sherin memanas. Dia teringat dengan jalan cintanya bersama Karel. Tidak ada yang sulit. Setiap rayuan berbalut canda yang dilontarkan lelaki itu, selalu ia tanggapi. Pun dengan kata cinta, langsung ia terima tanpa syarat apa pun.
"Tapi ... kalau Juna nggak berani ke sini?" ujar Sherin dengan suara tertahan. Sedikit tidak rela jika lelaki yang sudah membuatnya sadar dan nyaman, mundur teratur dan memilih wanita lain sebagai pendampingnya.
"Berarti cintanya nggak sebesar yang kamu bayangkan. Ada baiknya nggak usah lanjut dari pada membuat luka lagi di kemudian hari. Kemarin aku udah bilang kalau kamu nikah dengan lelaki pilihan Mama, yang otomatis bukan pilihanmu sendiri. Kalau dia memang benar-benar mau memperjuangkan kamu, pasti berani datang dan mempertanyakan pilihanmu," jawab Devan dengan tegas.
Bersambung...
__ADS_1