Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Ada Apa Gerangan?


__ADS_3

'Selamat atas kehamilanmu, Mbak. Semoga sehat-sehat sampai lahiran nanti.'


Tulisan yang tertera di atas kertas itu.


Tulisan tangan biasa yang rapi dan ciri setiap hurufnya sangat khas—mengingatkan Tiara pada seseorang pernah dia kenal. Terlebih lagi, ada sebutan 'mbak' di sana, yang tidak mungkin dari Juna sendiri. Selama ini Juna selalu memanggil dengan nama saja, tanpa embel-embel apa pun.


Lantas, pandangan Tiara kembali teralih pada buah-buah yang masih teronggok di tempatnya. Selain Novan dan paman bibinya, hanya keluarga Shaka yang tahu apa buah kesukaannya. Karena setelah tersandung masalah kala itu, dia tidak dekat dengan siapapun. Bahkan, Bagas dan Nimas yang notabennya menjadi atasan selama lima tahun, juga tidak tahu banyak mengenai dirinya. Jadi, malah mustahil jika Juna tahu semua itu.


"Sherin," gumam Tiara dengan pelan.


Hanya satu nama itu yang terlintas dalam pikirannya. Selain Sherin-lah yang pernah memanggil 'mbak', dia pulalah yang pernah ada di Kota Malang. Namun, bagaimana bisa dia menitipkan buah dan tulisan kepada Juna. Apakah mereka saling mengenal?


"Ahh." Tiara mende-sah kasar.


Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam hatinya, yang satu pun belum sanggup ia jawab. Saking rumitnya, ia sampai melupakan keinginan untuk mencicip buah-buah itu.


"Nanti aja lah aku tanyakan sama Mas Novan," lanjut Tiara sembari melipat kembali kertasnya. Kemudian, menggenggamnya dengan erat.


Ia duduk dengan punggung yang disandarkan. Diam cukup lama dalam posisi itu, sekadar pikiran yang terus memburu ke segala penjuru. Menebak dan menerka apa gerangan yang ia lewatkan.


Sampai beberapa menit berlalu, Tiara masih betah dengan posisinya. Bahkan, sampai Novan dan Juna kembali masuk dan mendekatinya.


"Cepat sembuh ya, Ra, aku izin pamit. Barusan ditelfon atasan, ada penting katanya."


Tiara tersenyum canggung, "Iya, Mas, makasih banyak ya."


Juna mengangguk. Lantas, berpamitan pada Novan sekaligus menepuk bahunya. Setelah itu, ia melangkah keluar dan pergi meninggalkan ruangan.


"Sayang, kamu tadi makan ini? Kok nggak panggil aku? Tahu gitu kan aku masuk," ujar Novan setelah melihat parsel buah yang sudah dibuka.


"Mas, aku boleh tanya sesuatu?" Tiara malah melayangkan pertanyaan lain.

__ADS_1


"Tanya apa, Sayang?"


"Sherin masih di sini kah? Terus ... dia punya hubungan apa dengan Mas Juna?"


Novan mengernyitkan kening, tanda tak mengerti dengan apa yang Tiara katakan.


"Aku menemukan ini di dalam parsel tadi. Ini jelas bukan milik Mas Juna, aku hafal dengan tulisan yang kayak gini, milik Sherin. Dan lagi ... Mas Juna nggak mungkin tahu apa buah yang kusukai. Tapi ini, ketiganya adalah buah kesukaanku. Aku curiga, sebenarnya ini dari Sherin, Mas," sambung Tiara seraya menyerahkan secarik kertas yang tadi membuatnya mematung lama.


Dengan gerakan cepat, Novan meraih kertas tersebut. Membaca dan mencoba menebak apa maksudnya. Meski yang tertulis di sana jelas sekadar ucapan selamat, tetapi Novan tak menganggap sederhana itu. Mengingat bagaimana sikap Sherin tempo hari, bisa saja itu sebuah perangkap yang tidak baik untuk Tiara maupun dirinya.


"Sayang, tadi udah kamu makan buahnya?" tanya Novan.


Tiara menggeleng.


"Bagus. Kalau gitu biar aku sisihkan saja, nggak usah kamu makan. Nanti kubelikan aja buah yang sama," ujar Novan membuat Tiara keheranan.


Kemudian, Novan menceritakan detail apa yang Sherin lakukan selama ini, yang seolah-olah ingin mendekatinya. Dia juga menceritakan apa yang Juna katakan saat lalu, yang awalnya sulit dipahami.


"Sekarang aku udah bisa ambil kesimpulan, Juna dan Sherin pasti ada hubungan yang nggak biasa. Aku yakin dia tahu apa niat Sherin selama ini. Sayang, aku nggak tahu pasti Juna beneran ada di pihakku atau nggak. Nanti aku akan coba ngomong dulu sama dia. Sekarang untuk jaga-jaga, lebih baik jangan memakan buah ini. Kita nggak tahu apa yang ada di balik itu, tulus ucapan selamat atau ada niat lain. Aku nggak mau ambil resiko yang membahayakan kamu," ujar Novan sembari memasukkan kembali jeruk ke dalam keranjang.


Novan menarik napas panjang, "Kita buang aja."


Meski sayang karena jumlah buah itu cukup banyak, tetapi Tiara tak membantah. Entah termasuk berlebihan atau tidak, tetapi terkadang berjaga-jaga memang perlu. Sekarang zaman sudah canggih, apa pun bisa dilakukan, terlebih oleh orang yang banyak uang seperti Sherin.


"Aku berharap kamu baik-baik saja, Nak. Sampai kelak lahir dan melihat dunia," batin Tiara sambil mengusap-usap perutnya. Ada harapan besar yang benar-benar ia panjatkan kala itu. Sudah cukup dia kehilangan anaknya bersama Karel, jangan sampai kejadian yang sama terulang untuk anaknya yang sekarang. Dia bisa gila andai itu terjadi.


______


Melepas dendam dan mengikhlaskan segala hal yang telah terjadi, nyatanya tidak sesakit bayangan. Malah ada ketenangan jika dua hal sudah dilakukan tanpa paksaan.


Ya, seperti itulah yang dirasakan Sherin sekarang. Setelah tempo hari dibuat sadar oleh Juna, sekarang ia benar-benar mengikhlaskan kisah lalunya. Bahkan, tidak ada rasa iri dan benci lagi ketika mendengar kabar bahwa Tiara sedang hamil. Dengan suka rela dia membeli parsel buah yang kemudian dititipkan kepada Juna, sekaligus ia selipkan ucapan selamat di dalamnya.

__ADS_1


Memang hanya itu yang sanggup Sherin lakukan sekarang. Untuk bertemu dan mengajak berbaikan secara langsung, ia belum mampu. Entahlah ... ada banyak rasa yang menahan, termasuk malu dan takut akan sebuah penolakan.


"Saatnya nanti pasti ada lah waktunya. Kalaupun nggak ada, ya udah. Setidaknya aku udah nggak benci lagi sama dia," ujar Sherin malam itu. Tak ada yang menyahut karena dia sedang sendirian, hanya bertemankan secangkir teh yang barusan ia seduh.


Ketika Sherin masih asyik mengingat kilas balik kenangan silam, tiba-tiba ia dikejutkan dengan dering ponsel.


Sherin meliriknya sekilas, ternyata Devan yang memanggil. Tanpa menunggu lama, langsung ia terima.


"Sherin, gimana kabar kerjaan di sana? Ada kendala, nggak?" tanya Devan setelah keduanya saling mengucap salam.


"Nggak ada, Mas. Lancar-lancar aja. Paling lama tiga bulan udah clear semua."


"Kalau gitu ... nggak apa-apa dong ditinggal pulang bentar? Dua atau tiga hari gitu," kata Devan.


"Ya seperti biasa, awal bulan nanti aku pulang, Mas. Sekalian sambil nengokin Bian."


"Pulang besok atau paling lambat lusa, bisa nggak?"


Sherin keheranan, "Memangnya ada apa? Harus banget pulang dalam waktu dekat?"


"Ada hal penting yang mau aku dan Mama omongin sama kamu."


"Hal penting apa, Mas? Nggak bisa diomongin lewat telfon?" tanya Sherin lagi.


"Nggak bisa." Devan menghela napas berat. "Usahain pulang cepat ya. Pasti bisa, kan?" sambungnya.


Jawaban Devan membuat perasaan Sherin tidak nyaman. Ada apa gerangan?


"Iya deh aku usahain, tapi ... nggak bisa apa kasih bocoran dulu gitu, ada hal penting apa?"


"Kamu pulang aja dulu, nanti juga tahu. Udah ya, aku tutup dulu telfonnya," jawab Devan, sama sekali tidak membantu.

__ADS_1


Dengan berat hati, Sherin membiarkan sambungan telepon terputus begitu saja. Lantas, pikiran yang tadi sudah tenang kembali terusik oleh sesuatu yang belum ia tahu.


Bersambung...


__ADS_2