Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Bertemu Sherin di Tengah Malam


__ADS_3

Sejak datang dengan segala teka-tekinya, Juna menghilang selama dua minggu. Bukan hanya lewat nyata, melainkan via maya juga. Ditelepon, dikirim pesan, tak ada satu pun tanggapan darinya. Ketika Novan bertanya pada Bagas, katanya Juna mulai kerja ikut proyek. Namun, tidak tahu detail bagian apa yang dia pegang, juga tak paham proyek siapa yang dia ikuti. Sikap Juna yang tertutup, membuat Bagas enggan untuk bertanya lebih lanjut.


Novan pun tak terlalu memikirkan hal itu lagi. Karena sekarang, hubungannya dengan Tiara juga baik-baik saja. Malah makin hari makin mesra saja mereka. Yang penting tetap menjaga komitmen, begitulah pikir Novan. Selagi dua hati tidak membuka celah, godaan dari luar tak akan bisa masuk dalam bahtera.


Namun, Novan tidak bicara panjang lebar soal itu. Dia hanya mengatakan bahwa Juna memberikan nasihat, tanpa embel-embel yang membingungkan dan penuh teka-teki. Bukan bermaksud menyembunyikan, melainkan tak ingin mengusik ketenangan Tiara. Sebisa mungkin Novan berusaha membuat Tiara nyaman dan tanpa beban.


'Van, besok kafe buka, nggak?Setelah beberapa hari hilang kabar, malam itu tiba-tiba Juna menghubungi Novan.


'Buka, kenapa?'


Balas Novan.


'Temenku ada yang mau reservasi tempat untuk rayain ulang tahun pacarnya. Tapi, malem sekitar jam sepuluhan, karena harus lembur dulu.'


Novan berpikir sejenak. Selama ini, kafe tutup paling lambat pukul 10.30 malam. Sedangkan reservasi barusan dimulai pukul 10.00, otomatis akan selesai tengah malam, karena tak mungkin satu jam kelar.


"Kenapa, Mas?" tanya Tiara yang kala itu duduk di samping Novan.


"Temannya Juna ada yang mau reservasi tempat, tapi malem banget, jam sepuluh baru mulai." Novan menatap Tiara. Wanita itulah yang membuat dia bimbang. Jika dia menjaga kafe sampai malam, otomatis membiarkan Tiara sendirian di rumah. Mau diajak juga tidak tega, dia sudah bekerja seharian. Waktunya istirahat, masa masih berada di kafe yang tidak ada tempat tidurnya.


"Kamu ragunya karena apa, Mas?" Pertanyaan Tiara membuyarkan renungan Novan, menarik kembali pikiran sehatnya untuk mengambil kesempatan.


"Kamu nanti gimana kalau aku jaga kafe sampai malam?"


Belum sempat Tiara menjawab, ponsel Novan sudah kembali bergetar. Lagi-lagi Juna yang mengirimkan pesan.


'Dia nggak masalah meski harganya lebih tinggi, yang penting dapat tempat. Mau merayakan siang masih belum ada izin untuk libur. Kalau bisa usahakan, Van, kasihan dia.'


Jari Novan belum bergerak, sekadar matanya yang tak henti menatap tulisan tersebut.


"Ambil aja, Mas, aku nggak apa-apa. Tetangga di sini kan banyak, lagi pula ... kamu juga nggak semalam suntuk di kafe. Nggak perlu lah terlalu mengkhawatirkan aku," ujar Tiara.

__ADS_1


Novan masih diam, agak ragu dengan permintaan istrinya. Meski dulu Tiara juga sering di rumah sendiri, tapi sekarang kan sudah menikah. Dirinya punya tanggung jawab penuh atas keselamatan dan keamanan wanita itu.


"Tapi___"


"Aku nggak apa-apa, percayalah!" pungkas Tiara sambil menggelayut manja, meyakinkan Novan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Baiklah kalau begitu, ini akan kuterima."


"Jangan lupa kasih tambahan juga untuk Ferdi dan Dika, kasihan udah di luar jam kerja."


Novan tersenyum, "Iya, Sayang. Makasih ya atas dukungan dan pengertian kamu."


Tiara mengangguk, lalu ikut tersenyum setelah ciuman Novan mendarat manis di keningnya.


Sementara itu, di tempat yang berbeda Juna juga tersenyum lebar. Setelah mendapat balasan 'oke' dari Novan, ia serasa mendapat angin segar. Satu tugasnya sudah rampung, dan tentunya ada upah atas keberhasilannya itu.


________


"Makasih ya, Van, udah ngasih tempat untuk mereka. Semalam tuh sempat bingung, mau reservasi di mana. Karena sebelumnya, pacarnya itu udah nyoba tanya ke dua tempat, tapi nggak bisa," kata Juna di sela bisingnya perbincangan kawan-kawan yang berjumlah banyak.


"Santai aja. Tapi ngomong-ngomong ... kamu kerja di mana sekarang?" Novan memanfaatkan kesempatan untuk mencari tahu tentang Juna sekarang.


"Eh, aku ke teman-teman bentar ya." Alih-alih menjawab, Juna malah bangkit dan menjauh dari Novan. Kemudian berkumpul dengan kawan-kawannya, hingga sulit untuk ditanyai lagi.


"Memang ada yang aneh dengannya. Nggak mungkin nggak ada apa-apa," batin Novan sambil menatap Juna.


Sepanjang acara itu, Novan berulang kali mencuri pandang ke arah Juna, juga ke pengunjung lain yang katanya adalah teman-teman Juna. Novan berusaha mencari tahu siapa sebenarnya mereka, karena wajah-wajahnya sangat asing. Namun sayang, sampai acara berakhir tak ada jawaban yang memuaskan. Baik tentang identitas mereka ataupun rahasia yang masih disimpan Juna. Semua masih rapi seperti sebelumnya.


"Sudahlah, penting mereka nggak membuat masalah, nggak perlu lah memikirkan yang lain. Kalaupun benar ada masalah, tapi jika nggak mau cerita, ya sudah. Mungkin, dia bisa mengatasi masalahnya sendiri," batin Novan sambil membereskan sisa-sisa acara barusan.


Karena dilakukan bertiga, pekerjaan tersebut tidak memakan waktu lama, sekitar dua puluh menit saja. Lantas setelah selesai, ketiganya pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


Dengan mengendarai motor matic yang dibeli usai menikah kemarin, Novan meninggalkan bisnisnya yang makin berkembang. Cukup kencang ia melaju, sudah tak sabar untuk tiba di rumah dan menemani istri tercintanya, yang mungkin sekarang sudah tidur. Wajarlah, jarum jam sudah menunjukkan angka dua belas tepat. Bahkan kini, jalanan sudah lengang. Hanya ada satu-dua kendaraan yang melintas di jalan utama.


Kesunyian itu pun makin menjadi ketika Novan memasuki gang yang menuju rumahnya. Meski bangunan penuh sesak, tapi semua sudah tertutup rapat. Hening. Hanya suara motor Novan yang menjadi satu-satunya suara.


Tak lama setelah itu, Novan melihat gerombolan orang sedang berdiri di pinggir jalan. Makin diperhatikan makin mencurigakan. Mereka berdiri di dekat mobil mewah dengan seorang wanita yang merapat di sana.


"Ada apa itu?" batin Novan sambil melambatkan laju, guna melihat jelas apa yang sedang mereka kerjakan.


'Tolong lepaskan aku!'


Sebuah permohonan menyambut pendengaran Novan ketika sudah menghentikan motornya.


Kini sudah tampak jelas apa yang terjadi, wanita yang tak lain adalah Sherin sedang diganggu oleh empat pria yang entah siapa namanya. Yang Novan tahu, Sherin terlihat ketakutan saat itu.


"Lepaskan dia!" teriak Novan sambil turun dari motor.


Sejenak dia melupakan masalah-masalah yang pernah melibatkan dirinya dengan Sherin.


Pikir Novan, kalaupun yang berdiri itu adalah wanita asing, dia juga tak akan diam saja. Pasti ditolong.


"Kau siapa? Jangan ikut campur urusan kami!" bentak salah seorang dari mereka, lengkap dengan tatapan tajam dan wajah berang.


"Lepaskan dia, maka aku tidak akan ikut campur lagi!" jawab Novan tanpa rasa takut. Karena soal bergulat, dia memang cukup andal.


"Bedebah!" Sembari melontarkan umpatan, lelaki itu langsung menyerang Novan. Beberapa pukulan keras dia layangkan, namun tak ada satu pun yang tepat sasaran. Novan berhasil menghindar dan memberikan serangan balik, hingga lawan terkapar tak berdaya.


Kekalahan itu membuat yang lain murka, sehingga tak segan untuk mengeroyok Novan. Pukulan dan tendangan dari orang yang berbeda terus menghampiri Novan. Untungnya, dia masih bisa menangkis.


Entah Novan yang terlalu hebat, atau preman-preman itu yang terlalu lemah, begitu mudahnya memukul mundur mereka dan membuatnya kalang kabut.


Setelah mereka kabur dengan motor yang memekakkan telinga, di tempat itu tersisa Sherin dan Novan saja. Keduanya berdiri berhadapan dengan mata yang sempat beradu pandang—sekejap saja.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2