Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Rahasia Hati Juna


__ADS_3

Di tengah bisingnya pengerjaan proyek, dua orang sedang duduk bersama di dalam ruangan di sekitar proyek tersebut, tidak terlalu luas tetapi cukup rapi, sehingga siapapun betah berlama-lama di sana. Tak terkecuali wanita cantik yang menjadi pemilik dari proyek itu.


Di sela kesibukannya dalam memeriksa laporan pelaksanaan proyek, ia memilih tempat tersebut untuk berbincang dengan bawahan sekaligus mitra kerja sama dalam urusan pribadinya. Siapa lagi kalau bukan Juna.


"Aku nanti mau ke Kafe Latte," ujar Sherin setelah Juna duduk cukup lama di hadapannya.


Juna tak langsung menyahut, sekadar melepas helm putihnya dan kemudian menarik napas panjang, menunggu Sherin bicara lagi.


"Tiara nggak lebih baik dari aku. Jadi, nggak mungkin Novan terus setia dengannya, sedangkan ada aku yang mendekatinya."


"Terkadang cinta itu nggak bisa dijelaskan dengan logika. Nggak melulu yang sempurna yang mendapatkan cinta. Terkadang ... malah mereka yang banyak kekurangan," sahut Juna, berusaha menyadarkan wanita yang cukup menarik menurutnya.


"Dari kemarin kamu selalu bilang kayak gini ke aku. Sebenarnya kamu itu ada di pihak mana sih? Jangan lupa ya, aku sudah membayar kamu dengan mahal, juga udah ngasih jabatan yang bagus." Seperti biasa, Sherin mengeluarkan kalimat angkuhnya.


"Meski aku berdiri di pihak kamu, tapi dari awal aku hanya bisa membantu, bukan memastikan hasil sesuai seperti yang kamu inginkan. Aku hanya takut kamu kecewa, itu aja," ucap Juna.


"Terus maksudmu lebih baik aku menyerah gitu?"


"Aku nggak bilang gitu. Cuma mengingatkan aja, kalau kemungkinan hasil akan sama seperti sekarang. Kalaupun berubah, mungkin nggak banyak," jawab Juna.


Sherin mendengkus kesal. Meski apa yang dikatakan Juna ada benarnya, tetapi ia tidak mau berhenti begitu saja. Ambisinya untuk membuat Tiara sakit hati sudah telanjur menggebu, tak akan padam hanya karena nasihat sepintas lalu.


"Kalau memang cara halus nggak bisa buat dia bertekuk lutut. Aku masih punya cara jitu yang nggak akan mungkin gagal." Sherin tersenyum licik. Entah apa yang sudah merasuki hatinya, hingga berani berpikir jauh hanya demi memuaskan dendamnya.


Juna menelisik wajah Sherin, lantas memikirkan sesuatu yang mungkin juga dipikirkan oleh wanita itu.


"Apa yang kamu rencanakan?" tanyanya.


"Tunggu aja nanti, kamu akan tahu sendiri. Aku akan membayarmu dua kali lipat jika ini berhasil."

__ADS_1


Juna mengembuskan napas panjang. Lantas, mengambil sebatang rokok dan menyulutnya. Cukup lama ia diam. Setelah mengepulkan beberapa asap, barulah ia bicara.


"Kuharap kamu nggak hanya fokus dengan dendammu saja, tapi juga pikirkan kakakmu. Jangan sampai kamu bertindak di luar batas hingga membuat dia kecewa."


"Mas Devan nggak akan tahu kalau kamu nggak bicara macam-macam."


"Aku sih nggak mungkin bicara macam-macam, kenal aja nggak." Juna menyahut sekenanya.


Sherin tidak bicara lagi, justru sesaat kemudian asyik dengan ponselnya. Sementara Juna tetap duduk di tempat, dengan tatapan yang tak lepas dari Sherin. Menurut Juna, makin hari wanita itu makin manis saja, membuatnya betah memandang lama.


"Sebenarnya sayang sih kalau kamu membuang banyak waktu hanya demi dendam, sedangkan di sisi lain pasti banyak yang siap mencintai kamu dengan tulus. Yang nggak hanya mencari keuntungan seperti mantan suamimu dulu. Tapi ... kadang memang perlu mencoba agar tidak penasaran. Ya udah lah, lakukan apa saja untuk menaklukkan Novan, dan di sini ... aku akan selalu berusaha untuk menggagalkan semua rencanamu," batin Juna.


Ia tak merasa bersalah meski diam-diam mengkhianati Sherin. Pikirnya, uang yang kemarin diberikan oleh wanita itu, suatu saat akan ia kembalikan. Sedangkan jabatan sebagai pengawas proyek yang sekarang ia duduki, bukan murni sebagai imbalan. Itu tak lebih dari hubungan kerja sama yang saling menguntungkan. Sherin butuh tenaga, dirinya butuh pekerjaan. Meski bukan seseorang dengan pendidikan tinggi, tetapi dirinya sudah hafal dengan seluk beluk proyek. Tidak sulit baginya untuk mengemban tugas itu.


Kalaupun harus membalas budi kepada Sherin, lebih baik lewat tanggung jawab atas tugasnya dalam bidang pekerjaan, bukan melancarkan rencana liciknya. Itu pula Juna lakukan demi kebaikan Sherin sendiri. Karena segala sesuatu yang buruk, imbasnya pasti akan buruk, dan Juna tak mau itu terjadi pada Sherin.


________


Terbukti dari apa yang dialami Sherin saat ini. Ambisinya untuk membalas Tiara telah menutup logika dan pikiran jernih yang selama ini selalu diutamakan. Bahkan, ia sampai melupakan tanggapan Devan andai tahu apa yang ia lakukan saat ini.


Sebenarnya semua itu bukan tanpa dasar, melainkan karena cinta untuk orang yang salah, yang sialnya sampai saat ini masih tersisa—walaupun berselimut benci.


Akhirnya malam itu, Sherin benar-benar datang ke Kafe Latte. Tidak dengan tangan kosong, melainkan sambil membawa kue untuk Novan.


"Selamat datang di Kafe Latte, Nona," sambut Dika.


Sherin hanya menyunggingkan senyum tipis. Lantas, menanyakan keberadaan Novan, yang ternyata ada di dapur kafe. Tanpa basa-basi, Sherin langsung ke sana, seolah tempat itu sangat familier baginya.


"Hai," sapa Sherin ketika tiba di dekat Novan, yang kala itu sedang menata pastry.

__ADS_1


Mendengar sapaan Sherin, Novan mendongak dan mengernyit ketika tahu siapa yang datang. Untuk apa dia kemari? Pikir Novan.


"Aku tadi iseng-iseng cobain resep baru. Kamu bantu cobain ya," ujar Sherin sambil meletakkan kotak makan yang berisikan kue.


Novan melihatnya sekilas, tampak menarik. Namun, tak keinginan dalam hatinya untuk memakan atau sekadar mencicip.


"Harusnya nggak usah repot-repot."


"Nggak repot kok. Aku ke sini juga sambil nyantai, sekalian mau minum kopi." Sherin menjawab sambil memamerkan senyum termanisnya.


"Terima kasih kalau gitu. Mmm ya udah, kamu duduk di sana gih! Mau kopi apa biar dibuatin sama Ferdi." Novan menunjuk ke arah meja pengunjung, masih ada beberapa yang kosong.


"Kamu ikut duduk ya," pinta Sherin.


"Aku masih sibuk di sini, kasihan kalau Ferdi sendirian yang ngerjain." Novan menjawab ramah meski dalam hati sudah tidak nyaman. Sepertinya sikap Sherin bukan hanya tentang rasa terima kasih karena kemarin sudah ditolong, melainkan ada hal lain yang mungkin saja berhubungan dengan omongan Juna tempo hari.


"Aku butuh temen ngobrol loh."


Kan, makin mencurigakan.


"Biar Dika saja yang temani kamu. Kebetulan memang dia yang lebih banyak berinteraksi dengan pengunjung," tolak Novan secara halus.


"Aku nggak kenal dia, mana bisa ngobrol."


Novan diam dan tetap fokus menata pastry.


"Ayolah! Istrimu nggak mungkin marah hanya karena kita ngobrol bareng, kan?" ucap Sherin, lagi.


"Dia nggak mungkin marah, tapi aku yang ingin menjaga sikap atas kemauanku sendiri," jawab Novan dengan tegas.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2