Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Kabar Mengejutkan


__ADS_3

"Kamu yang namanya Juna, kan?"


Satu pertanyaan pertama yang meluncur dari bibir Devan ketika Juna sudah duduk di hadapannya.


Anggukan gugup pun Juna lakukan, berpikir itu sudah cukup untuk menjawab pertanyaan Devan.


"Kamu tahu siapa aku?" Devan kembali bertanya.


Juna mengangguk lagi, "Pak Devan, kan?"


"Iya. Aku Devan, kakaknya Sherin," ujar Devan.


Tak ada lagi obrolan di antara keduanya, sekadar diam sampai beberapa saat lamanya. Kendati begitu, pandangan Devan tak lepas dari Juna. Sementara Juna sendiri, lebih memilih menunduk demi menghindari tatapan Devan.


"Tahu kenapa aku datang kemari dan memanggilmu ke sini?" Pertanyaan Devan kembali mengisi sepi dalam ruangan itu.


Kali ini Juna menggeleng karena memang tidak tahu tujuan Devan memanggilnya untuk apa. Entah masalah bisnis, entah masalah Sherin, masih abu-abu.


"Aku ke sini karena Sherin," ujar Devan diiringi embusan napas kasar.

__ADS_1


Meski terkejut, tetapi Juna berusaha menyembunyikannya. Dia tak mau Devan curiga dengan perasaan yang ia pendam untuk Sherin. Masih mending jika nanti direstui, jika direndahkan dan dipaksa mundur? Lebih baik tetap dipendam saja, kan?


"Apa hubungan kalian?" tanya Devan sebelum Juna mengucap satu kata pun.


"Hubungan kami hanya sebatas atasan dan bawahan. Tidak ada yang lebih dari itu," jawab Juna, tidak sepenuhnya berbohong.


"Benarkah?" Devan menatap dengan pandangan remeh, seakan mengatakan bahwa dirinya tak percaya dengan jawaban Juna.


"Iya. Memangnya ... Bu Sherin tidak mengatakan itu pada Anda?" Juna balik bertanya.


"Tidak, dia mengatakan hal lain. Makanya aku butuh kejujuran kamu."


Juna tak bisa berkutik. Dia tak tahu apa yang Sherin katakan terhadap Devan, jadi sekarang juga tak tahu harus bagian mana dijabarkan kepada Devan—perasaannya atau keterlibatannya dalam upaya menggoda Novan tempo hari.


Dalam beberapa detik lamanya, Juna sekadar diam. Sejauh ini dia belum bisa menebak kejujuran mana yang diharapkan Devan. Namun, desakan demi desakan yang terus dilontarkan oleh Devan membuat Juna tak bisa bertahan dalam diamnya.


Pada akhirnya, Juna menerangkan dengan rinci bagaimana dia dan Sherin saling mengenal, tak lupa pula ia ceritakan bagaimana hubungannya dengan Novan.


Tidak ada keterkejutan yang terpancar dari wajah Devan, seolah lelaki itu sudah tahu lebih awal. Ya, wajar. Mungkin, Sherin sudah menjelaskan sejak kemarin-kemarin.

__ADS_1


"Hanya itu?" tanya Devan setelah cukup lama Juna mengakhiri penjelasannya.


Juna tertegun lagi. Sekarang tinggal satu yang belum ia paparkan, yakni perasaan. Apakah Devan juga mengetahui hal itu? Tetapi, dari mana? Bahkan, terhadap Sherin pun Juna tak pernah mengungkapnya.


"Aku memberimu satu kesempatan untuk jujur. Jika sekarang kamu lewatkan, ke depannya tidak akan pernah ada kesempatan kedua."


Juna terkejut mendengar kalimat itu. Perlahan ia teringat kembali dengan senyuman Sherin, yang jujur sangat ia rindukan. Lantas, wajah cantik nan rapuhnya yang membuatnya kesulitan berpaling, kembali menghantui pikiran Juna, memaksanya untuk mengakui semua itu di hadapan Devan. Terlepas dari apa hasilnya, yang penting sudah usaha, begitulah batin Juna.


"Saya mencintai Bu Sherin." Akhirnya, tercetus juga pengakuan cinta yang selama ini dipendam sendiri.


Devan menghela napas panjang, lalu bangkit sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana.


"Lupakan perasaanmu, sebentar lagi Sherin akan menikah!"


Bak petir di siang hari, pernyataan Devan begitu mengagetkan, sekaligus mengusik ulu hati. Sherin ... baru empat lima hari pergi, tetapi sudah berencana menikah. Apakah ini jawaban dari menghilangnya dia?


"Kalau boleh tahu, Bu Sherin menikah dengan siapa?" Juna memberanikan diri untuk bertanya.


"Dengan lelaki pilihan Mama. Dua minggu lagi resepsinya. Jika mau, kamu boleh datang. Aku yang mengundangmu secara resmi," jawab Devan.

__ADS_1


Juna tak bisa berkata-kata. Pikirannya masih kacau. Bahkan, untuk bangkit dan pergi dari sana saja ia butuh usaha sekuat tenaga.


Bersambung...


__ADS_2