Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Bukan Melupakan, Tapi Berdamai


__ADS_3

Lelaki yang tak lain adalah Novan, akhirnya berteduh di teras toko, meski aslinya percuma karena tubuhnya sudah basah kuyup.


Sembari mengibas-ibaskan tangan di antara baju dan celana, dia berulang kali menatap jalanan di ujung, sebuah tempat yang belum lama menampilkan sosok Tiara.


"Pasti ada waktunya nanti ketemu lagi sama dia," batin Novan sambil mengacak rambutnya, guna mengurangi tetes-tetes air yang masih membasah di sana.


Kemudian, Novan masuk ke dalam toko dan berbelanja kebutuhan sehari-hari, untuk bekal seminggu ke depan.


Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, Novan kembali pulang. Dengan bantuan Juna—seseorang yang ia kenal semasa di tahanan, Novan ada peluang untuk memulai hidup yang lebih baik di sana. Mau di mana lagi, sudah tidak ada harapan di tempat lama, sekadar luka yang tersisa.


Setibanya di rumah sederhana—rumah yang ia beli beberapa hari lalu, Novan bergegas ganti baju dan membuka ponsel yang tadi ia tinggal. Bayangan Tiara kembali berkelebat, membuatnya enggan menyantap sarapan yang sudah tersaji sejak tadi.


"Tadi dia jalan kaki, harusnya tempat kerjanya ada di sekitar sini. Kira-kira ... tepatnya di mana ya?" gumam Novan sambil menopang dagu.


Namun karena tak juga ada jawaban dari tanya yang memenuhi pikiran, akhirnya Novan menepisnya perlahan. Lantas, kembali fokus dengan perencanaan usaha yang akan ia mulai dalam waktu dekat.


"Fokus dulu lah dengan Om Bagas. Ini penting, jangan sampai ketunda-tunda," gumam Novan, menyudahi sendiri pikiran yang mendadak tak berarah.


Bagas adalah ayah sambung Juna. Dialah yang memberi jalan untuk Novan membuka usaha di sana—mendirikan kafe di sebelah butik besar miliknya. Kebetulan bangunan yang kosong lama itu dijual, lantas Novan yang akan membelinya. Beruntung, rumah peninggalan orang tuanya cukup untuk menutup biaya itu.


"Berangkat aja lah, mumpung hujannya agak reda. Diam begini, lama-lama pikiranku semakin ngawur." Sambil bergumam, Novan beranjak dari tempat duduknya. Lalu, keluar rumah dan menuju butik milik Bagas, yang kebetulan tidak jauh dari rumahnya.


________


Wanita cantik dengan rambut yang dikuncir tinggi, menyambut Novan ketika pertama kali menginjakkan kaki di butik Bagas.


"Tiara," gumam Novan. Antara senang dan terkejut karena dipertemukan lagi dengan Tiara, setelah tadi sibuk memikirkan di mana tempat kerjanya. Tak disangka, ternyata malah di butik milik Bagas.


Terlalu mudah bukan, Tuhan mempertemukan mereka?

__ADS_1


"Kamu ngapain ke sini?" tanya Tiara dengan wajah yang ditekuk. Dia tak suka dengan kehadiran Novan, karena lelaki itu tahu bagaimana kelamnya masa lalu. Sedangkan Tiara ingin jauh-jauh dari semua saksi hidup akan masa itu.


"Aku ingin menemui Om Bagas. Benar, kan, di sini tempatnya?"


Lidah Tiara kelu seketika. Sejak semalam dia sudah mendengar kabar tentang seseorang yang akan membeli bangunan kosong di sebelah. Lelaki muda dari luar kota, begitulah Bagas menyebutnya. Namun, sedikit pun Tiara tak menduga jika lelaki itu adalah Novan.


Ah, terkadang dunia memang begitu sempit.


"Masuklah, kamu sudah ditunggu di dalam!" ujar Tiara. Masih tak ada senyuman di bibirnya, terlalu benci dengan keadaan saat ini.


Ia pun mengantar Novan ke tempat Bagas tanpa mengucap satu kata pun. Mulut mungil itu tertutup rapat karena hati bergejolak hebat.


Sementara Novan, juga tak banyak bertanya. Meski belum tahu pasti apa yang membuat Tiara diam, tapi ia yakin sedikit banyak ada hubungan dengannya.


"Kamu baik-baik saja, Tiara?" tanya Nimas—istri Bagas.


Tiara sekadar mengangguk. Sekalipun wanita paruh baya itu sudah menjadi majikannya selama tiga tahun terakhir, tapi Tiara masih enggan terbuka. Dia tetap menjadi pribadi yang tertutup. Rahasianya tetap tersimpan rapat kendati banyak yang menaruh simpati padanya.


________


Di bawah sinar rembulan yang membaur dengan cahaya lampu, Tiara berjalan meninggalkan halaman butik. Karena pandangannya tak memindai sekeliling, ia tak tahu jika di belakang sana ada sepasang mata yang memperhatikan dengan jeli.


Siapa lagi kalau bukan Novan. Mantan narapidana itu sengaja berlama-lama di dalam tempat barunya. Bukan sekadar merancang renovasi yang akan dilakukan dalam waktu dekat, melainkan juga sengaja menunggu Tiara pulang. Dia ingin mencari kesempatan untuk bicara lagi dengannya.


"Tiara!" panggil Novan sembari menjajari langkah Tiara.


Wanita yang dihampiri itu hanya menoleh sesaat sambil melempar senyum sekilas. Lantas, kembali melanjutkan langkah tanpa bicara apa pun.


"Kamu tinggal di mana?"

__ADS_1


"Sekitar sini," jawab Tiara, singkat.


"Aku juga tinggal di sekitar sini. Rencananya, mau buka kafe di sebelahnya Om Bagas tadi. Doain lancar ya." Tanpa ditanya, Novan bercerita dengan sendirinya.


"Kenapa?" Setelah cukup lama diam, akhirnya Tiara melayangkan pertanyaan.


"Kebetulan di sini ada jalan untuk buka usaha. Di tempat lain belum tentu ada, jadi aku nggak berpikir dua kali ketika temanku memberikan tawaran ini," terang Novan. "Ngomong-ngomong ... kamu keberatan ya kalau aku tinggal di sini?"


Novan tak bisa menahan diri karena sejak pagi Tiara terus menyiratkan jarak di antara mereka. Kalau memang ada salah, dia ingin tahu letak salahnya di mana.


"Mau bilang keberatan, itu hak kamu mau tinggal di mana. Cuma ya ... kenapa harus di sini? Aku pindah karena ingin meninggalkan semua masa lalu. Aku nggak mau lagi berurusan dengan itu, termasuk orang-orang yang pernah tahu, seperti kamu. Aku ingin memulai hidup baru bersama orang-orang asing, yang sama sekali nggak tahu tentang aku." Tanpa memikirkan perasaan Novan yang akan tersinggung atau tidak, Tiara bicara panjang lebar. Jujur akan apa yang ia rasakan saat ini.


"Kalau orang itu sekedar tahu, apa harus dihindari juga?"


Tiara hanya bergumam singkat.


Novan menarik napas panjang, "Kurasa itu nggak perlu. Selagi dia nggak masalahin dan nggak ngungkit-ungkit masa lalumu, untuk apa dihindari? Menjalin hubungan pertemanan lagi, menurutku nggak buruk juga kok," ujar Novan mengutarakan pendapatnya. Namun, Tiara hanya tersenyum masam.


Sesaat setelahnya, tak ada perbincangan lagi di antara mereka. Sekadar deru angin malam dan bising kendaraan yang mengiringi langkah keduanya.


"Tiara___"


"Setiap orang punya cara yang berbeda untuk menghadapi masa lalu, termasuk aku. Aku nggak menyalahkan cara pandangmu, hanya menyayangkan kenapa kamu harus ke sini. Kenapa nggak tetap di sana aja, hidup bareng dengan Nala. Dia kan adikmu, kalaupun sekarang udah nikah, bukan berarti harus ditinggal jauh, kan?" pungkas Tiara sebelum Novan melanjutkan kalimatnya.


"Iya, andai dia udah nikah aku nggak akan ke sini. Pasti tetap tinggal di sana meski hubungan dengan keluarga Devan memburuk. Tinggal satu kota tetap bisa kok menghindari mereka. Tapi sayangnya ... Nala udah nggak ada. Jadi, hilang juga alasanku untuk tetap tinggal di sana."


Ucapan Novan kali ini membuat langkah Tiara terhenti. Lantas menoleh ke arah Novan yang kala itu menatapnya. Dalam sekian detik, Tiara dan Novan saling beradu pandang. Saat itu pula Tiara menangkap kemelut sendu yang begitu dalam di kedua mata Novan.


"Aku nggak tahu sesulit apa hidupmu setelah tinggal di sini, tapi dengan kita bertemu lagi, bolehlah berteman kembali. Mana tahu kita bisa seperti dulu, saling mendukung dan sama-sama mencari jalan keluar. Karena yang terbaik dalam menghadapi masa lalu itu bukan melupakan, tapi berdamai," ujar Novan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2