Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Kata Cinta dari Novan


__ADS_3

"Mas Devan."


Dua kata yang terlontar pelan dari bibir Tiara membuat Novan mengernyitkan kening. Sayangnya, lelaki barusan sudah menghilang dari pandangan, jadi Novan tak bisa melihat lebih jeli, benar Devan atau bukan.


"Mungkin kamu salah lihat. Dia tinggal di Surabaya, jadi nggak mungkin ada di sini." Meski aslinya ragu dengan ucapannya sendiri, namun Novan tak menunjukkan itu.


Dia hanya bertanya-tanya dalam hatinya, benarkah kiranya apa dikatakan Tiara barusan?


Selama lima tahun ini, perusahaan ekspedisi milik keluarga Devan berkembang pesat, masuk akal andai membuka cabang di kota yang berbeda. Namun, dari sekian banyak tempat, kenapa harus Malang? Sesempit itukah dunia hingga mereka dipertemukan lagi?


"Iya, mungkin aku salah lihat," ucap Tiara, sesaat kemudian. Bukan sebuah keyakinan, melainkan harapan yang benar-benar ia inginkan.


Melihat Tiara sudah mulai tenang, Novan pun turut lega. Lantas, ia gandeng tangan Tiara dan kembali melanjutkan langkah yang sempat terjeda.


"Kalaupun tadi beneran Devan, kamu harus tetap tersenyum kayak gini, Ra. Sudah cukup kamu menangis selama ini, ke depannya air mata itu jangan ada lagi. Jika keadaan masih tak baik untukmu, biarlah aku yang menjadi orang terdepanmu untuk menghadapi itu. Kamu, cukup berdiri dengan tenang di belakang, hingga tak ada satu pun hal buruk yang bisa menyentuhmu," batin Novan.


_______


Sesuai dengan rencana, keesokan harinya Tiara dan Novan jalan berdua. Belanja, juga mengunjungi beberapa tempat wisata. Dalam sehari itu, nyaris tak ada kesedihan yang terlintas di benak Tiara.


Segala canda yang Novan hadirkan, mampu menepis semua kegundahan. Mengubahnya menjadi senyum dan tawa tanpa dipaksa.


Karena waktu yang mereka habiskan cukup mengasyikkan, Tiara tak menolak ketika Novan mengajaknya singgah di salah satu restoran mewah, meski kala itu sudah pukul 08.00 malam.


Dengan memilih tempat duduk di lantai dua, Novan dan Tiara bisa menikmati suasana kota yang indah. Kebetulan, meja yang mereka pilih memang berada di dekat jendela.


"Ra!" panggil Novan di sela-sela aktivitas mereka yang sedang menyantap makanan.


"Iya, Mas," sahut Tiara sambil menoleh sekilas.


"Kamu ... gimana sekarang?"

__ADS_1


"Gimana apanya?"


"Udah ada rencana untuk menjalin hubungan lagi, nggak?" tanya Novan dengan hati-hati.


Tiara membuang napas kasar, lantas mengulas senyum masam sebelum mengutarakan jawaban.


"Aku yang kayak gini, memangnya masih layak menjalin hubungan? Udahlah, Mas, jangan bahas itu. Aku cuma mau fokus kerja dan memikirkan diri sendiri aja, bukan yang lain. Aku nggak mau kecewa," ucapnya setelah beberapa detik berlalu.


"Kalau orang itu bisa tulus mencintai kamu, sama sekali nggak mempermasalahkan masa lalumu, gimana?"


Tiara menggeleng sambil tertawa kecil. Omongan Novan barusan, rasanya seperti lelucon. Bagaimana tidak, dirinya sudah pernah hamil di luar nikah, itu pun dengan calon adik iparnya, bukan calon suami. Lantas, lelaki mana yang masih mau, sedangkan kebanyakan dari mereka mencari gadis yang benar-benar perawan.


"Di luar sana, masih banyak yang masa lalunya lebih buruk dari kamu, dan banyak juga lelaki yang tulus menerimanya. Karena sebenarnya, nilai dari seseorang tidak berpacu pada masa lalunya, melainkan pada sikapnya setelah itu," sambung Novan.


Tiara terdiam seketika, bahkan makanan yang sudah disendok pun gagal disuap.


"Aku nggak mau bermimpi tinggi," ujarnya.


"Apa maksudmu?"


Novan tersenyum tipis. Lantas, meraih kedua tangan Tiara yang berada di atas meja.


"Aku mencintai kamu."


Lidah Tiara mendadak kelu. Sedikit pun tak pernah ia bayangkan jika Novan menaruh rasa padanya. Meski dalam beberapa waktu terakhir memang dekat, tapi Tiara tak berpikir ke sana. Selama ini Novan tahu detail apa yang terjadi dengannya, jadi seperti mustahil jika mendambakannya sebagai pasangan. Sementara lelaki itu juga masih muda, pun punya usaha, tak akan sulit mencari wanita lain yang lebih sempurna darinya.


"Kenapa?" Akhirnya sekadar pertanyaan singkat itu yang keluar dari bibir Tiara.


"Cinta itu nggak butuh alasan, Ra. Dia datang dengan sendirinya. Tak terkecuali yang kurasakan sekarang. Aku mencintaimu tanpa alasan apa pun," jawan Novan begitu tulus. Baik dalam perkataan, maupun tatapan.


Kendati demikian, Tiara tak lantas percaya.

__ADS_1


"Apa yang membuatmu ragu?" tanya Novan karena cukup lama tak mendapat respon. Entah itu sambutan baik atau penolakan tegas.


"Aku nggak pantes untuk kamu." Tiara menunduk, merasa malu andai bersanding dengan Novan. Meski lelaki itu pernah menjadi narapidana, tapi masih lebih baik dibandingkan dirinya yang hamil di luar nikah dengan suami orang.


"Dari segi mana kamu merasa nggak pantes? Jangan bilang masa lalu lagi, karena aku pun punya sisi buruk di masa itu."


"Tapi___"


"Kamu istimewa, Tiara, sangat istimewa. Andai kita bisa bersama, kamu bukan hanya layak untukku, tapi lebih dari itu. Aku akan menjadi lelaki beruntung karena bisa memiliki wanita hebat sepertimu," pungkas Novan dengan sungguh-sungguh, membuat Tiara tak bisa berkata-kata.


"Memang nggak banyak yang bisa kujanjikan, karena keadaanku masih begini. Tapi, satu hal yang pasti kupegang sampai akhir nanti. Aku nggak akan pernah menyakiti kamu. Aku mencintaimu tulus, terlepas dari siapa kamu, aku selalu menganggapmu berharga dan istimewa," lanjut Novan, terdengar begitu manis.


Setelah cukup lama terdiam, Tiara menarik napas panjang berulang kali. Selain untuk menenangkan hati yang bimbang, dia juga menenangkan jantung yang detaknya tak beraturan. Semua bermuara pada kata cinta dari Novan.


"Kamu ... serius dengan semua ini, Mas?" tanya Tiara sembari melayangkan tatapan lekat, mencari titik-titik dusta yang mungkin saja ada di sepasang mata itu. Namun, tidak. Hanya ketulusan yang terpancar di sana.


"Sangat serius, Ra. Bahkan___" Novan menjeda kalimatnya sejenak, lalu mengambil sesuatu dari dalam saku celana. "Aku udah mempersiapkan ini, khusus untuk kamu," sambungnya sembari mengulurkan cincin permata. Amat indah.


"Mas ... kamu___" Tiara tertegun. Perasaan hangat perlahan menjalar dalam hatinya, setelah sekian lama beku karena cinta sudah mati.


"Jika kamu bersedia, aku akan menyematkan cincin ini di jarimu. Anggap saja lamaran sederhana, sebelum nanti aku menikahimu. Tiara ... cinta yang kukatakan barusan, sama sekali bukan main-main. Aku sangat serius," ucap Novan, kembali meyakinkan wanita pujaan yang beberapa waktu terakhir ini benar-benar mengusik hatinya.


Bibir Tiara bergerak pelan, namun belum ada kalimat atau sekadar kata yang keluar dari sana.


"Kalau kamu butuh waktu, nggak apa-apa. Pikirkan aja dulu, aku nggak buru-buru," kata Novan.


"Aku cuma bingung harus jawab apa. Di satu sisi, aku nyaman sama kamu, Mas. Aku bahagia andai kita bersama. Tapi di sisi lain, aku takut. Aku belum seyakin itu untuk membuka hati dan benar-benar mencintai lelaki."


Novan langsung bangkit dan mendekati Tiara. Sembari berlutut tepat di hadapan Tiara, Novan menyematkan cincinnya di jari manis wanita itu.


"Bersamaku, kamu jangan takut lagi dengan apa pun. Aku tahu sebesar apa lukamu, dan aku nggak akan pernah mengulangi itu. Mencintaiku nggak akan membuatmu sakit, Tiara, karena cinta itu pasti kusambut dengan cinta yang lebih besar lagi." Novan tersenyum manis, binar-binar matanya menyiratkan bahagia yang tak terkira, dan Tiara juga bisa melihat semua itu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2