Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Usaha Melawan Devan


__ADS_3

"Sherin! Sherin!"


Suara Karel menggema memenuhi ruang tamu. Memanggil sang istri yang masih berada di kamar. Tidak ada keramahan dalam raut wajahnya, malah gurat amarah yang tercetak jelas.


"Sherin!" teriak Karel untuk yang kesekian kalinya.


Dengan langkah cepat ia menuju ke tempat Sherin. Bukan tanpa alasan Karel demikian, melainkan karena sudah menemukan dugaan atas masalah yang terjadi barusan. Dari sekian banyak orang, Devan-lah satu-satunya pihak yang patut dicurigai. Mengingat hubungan baiknya dengan Tiara, dia pasti sudah merencanakan ini semua lewat wanita itu.


Sementara Sherin, entah bekerja sama atau tidak dengan kakaknya, yang jelas Karel akan membuat perhitungan. Kalaupun dia tak terlibat, tapi setidaknya bisa dijadikan umpan untuk melawan Devan.


"Ada apa sih, Mas, kok teriak-teriak? Ada yang ketinggalan?" tanya Sherin yang baru keluar dari kamar.


Tanpa basa-basi, Karel langsung menyeret kasar tangan Sherin dan mendorongnya ke sofa, di ruang keluarga. Sherin terkejut. Namun, belum sempat ia protes, sang suami sudah membentaknya.


"Apa yang kamu lakukan di belakangku, hah?"


Sherin tampak kebingungan.


"Lihat ini! Kamu kan yang mengambil foto ini secara diam-diam? Atau ... kamu malah menaruh kamera tersembunyi di rumah ini? Jawab!" bentak Karel sambil menunjukkan foto di layar ponselnya, yang menampilkan dirinya bersama sopir pribadi Dewi.


"Mas, kamu ini kenapa sih? Aku dari tadi di kamar sama anak kita, mana ada fotoin kamu. Memangnya itu gambar apa sih, kok kamu sampai tega nuduh aku pasang kamera segala?" Sherin hanga melihat ponsel Karel sekilas, selebihnya menatap lelaki itu dengan lekat.


"Kamu jangan pura-pura, Sherin!" Suara Karel masih meninggi, meski tidak sekasar tadi.


"Pura-pura apa sih, Mas? Aku beneran nggak ngerti tahu nggak. Emang foto apa sih itu, hanya kamu lagi gaji pak sopir, kan? Terus apa anehnya? Kenapa sampai marah-marah kayak kesambet syetan gitu?" jawab Sherin. Ia memberanikan diri untuk bangkit dan membantah tuduhan Karel.


Namun, bukan Karel namanya jika menyerah. Lagi-lagi dengan gerakan kasar, ia mendorong Sherin hingga jatuh kembali ke sofa. Sherin berteriak dan protes, tetapi Karel tak acuh.


"Di belakangku kamu sering berhubungan dengan Devan, kan?" tuduh Karel. Antara yakin dan tidak, tapi ia ingin memastikannya saat itu juga.


Pikir Karel, sudah ada orang yang mengusik rencananya. Jadi, untuk apa diam-diam lagi, lakukan saja dengan terang-terangan.


Sherin menggeleng cepat, "Sejak dia fitnah kamu, aku udah blokir semua akun dan kontak yang berhubungan dengan dia, Mas. Meski dia kakakku, tapi aku udah telanjur kecewa. Nggak pernah aku berhubungan dengan dia lagi."


"Kamu membohongiku, Sherin?" desak Karel.


"Bohong apa sih, Mas?" Mata Sherin berkaca-kaca. "Aku nggak pernah sedikit pun meragukan kepercayaan kamu, Mas. Tapi, kamu malah nggak ada kepercayaan sama sekali ke aku. Sebenarnya kamu ini kenapa sih, Mas? Aku tuh beneran nggak ngerti sama sikapmu pagi ini," lanjutnya dengan suara pelan, pun dengan tatapan yang memelas.


Namun, bibir Karel malah mengulas senyum licik. Tanpa memedulikan tatapan ataupun penjelasan sang istri, ia langsung menarik tangan Sherin dan memaksanya bangkit.


"Mas!"


Panggilan Sherin hanya dianggap angin lalu. Kaki Karel terus saja melangkah, seiring cengkeramannya di lengan Sherin.


Wanita itu pun berteriak, hingga mengundang perhatian pelayan dan sopir yang bekerja sama dengan Karel.


"Jangan ada yang berani ikut campur urusan kami, jika tidak ingin menyesal nanti!" ancam Karel sembari melayangkan tatapan tajam.


Mereka pun saling pandang satu sama lain dengan bibir yang mengatup rapat.


"Kamu, urus mereka!" perintah Karel pada sopir Dewi.


"Baik, Tuan."


Usai menyerahkan urusan pelayan pada sang sopir, Karel menyeret Sherin dan membawanya ke kamar. Kebetulan anak mereka sudah diasuh oleh baby sitter, jadi hanya mereka berdua yang ada di sana.


"Mas! Kamu apa-apaan sih, Mas?" teriak Sherin. Tidak terima ketika tubuhnya dihempas kasar ke atas ranjang.


Alih-alih memedulikan teriakan Sherin, Karel malah dengan cekatan melepas dasinya. Lantas, menggunakan barang tersebut untuk mengikat tangan Sherin, sangat erat.

__ADS_1


"Mas, lepasin aku, Mas! Kamu udah gila ya!" Sherin memberontak.


Kedua kakinya berusaha menendang-nendang tubuh Karel. Namun, tenaga lelaki itu terlalu kuat, sehingga berulang kali tendangan tidak membuatnya goyah.


Usai mengikat tangan Sherin, Karel mengambil lakban yang ada di laci meja dan menggunakannya untuk mengikat kaki Sherin.


Sampai akhirnya, Sherin hanya telentang di ranjang, tanpa bisa melakukan gerakan apa pun.


"Mas, lepasin aku, Mas! Kamu ini kenapa, Mas?" Sherin mulai menangis, meratapi sikap kasar suaminya yang begitu mendadak.


"Katakan padaku apa yang dilakukan Devan! Maka, kamu akan kulepaskan," ujar Karel, tanpa rasa bersalah.


"Aku mana tahu apa yang dilakukan Mas Devan. Sejak kejadian waktu itu, aku nggak pernah lagi berhubungan dengan dia."


Karel membungkuk dan mendekatkan wajahnya, "Kamu jujur atau tidak, pada akhirnya aku akan tetap tahu apa jawaban dari pertanyaanku barusan."


"Apa maksudmu, Mas?"


Karel kembali berdiri tegak dan merapikan jas yang ia kenakan, "Nanti kamu akan tahu."


Setelah berkata demikian, Karel melangkah pergi dan meninggalkan Sherin sendirian. Lalu menemui sopir yang masih berada di ruang dapur. Rupanya, pria itu sedang bicara serius dengan salah seorang pelayan.


"Kenapa dia?" tanya Karel, dingin dan tegas.


"Dia mencoba mengambil foto ketika Tuan Karel membawa Nona Sherin ke kamar."


Jawaban sopir membuat rahang Karel mengeras. Sepertinya, dia sudah mendapat titik terang atas masalah yang menghampiri.


"Kemarikan ponselmu!" ujar Karel sambil mendekati pelayan itu.


"Jangan, Tuan, ini bukan apa-apa. Saya hanya ... hanya___"


Sekali usap, Karel sudah menemukan galeri foto milik pelayannya. Selain foto sewaktu dirinya membawa Sherin ke kamar, juga ada foto yang sama persis dengan foto yang beberapa saat lalu dikirimkan ke ponsel Karel.


"Jadi kamu yang mengambil foto ini?" tanya Karel, pelan tapi terdengar mengerikan.


Pelayan yang ditanya hanya menunduk, kemudian melangkah mundur ketika Karel makin mendekat ke arahnya.


"Apa tujuanmu mengambil foto ini?" lanjut Karel.


"Saya ... saya___"


"Cepat, katakan!"


Pelayan langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai, lalu memeluk kaki Karel dan memohon ampun.


"Maafkan saya, Tuan. Saya hanya butuh uang," ratapnya di sela derai air mata.


Karel masih tak acuh. Dia fokus dengan ponsel milik pelayan itu. Satu lagi yang ia cari setelah melihat galeri foto adalah riwayat pesan. Bodohnya, tidak dihapus bersih. Jadi, Karel bisa melihat jelas ke mana pelayannya mengirim gambar tersebut—satu kontak dengan nama 'Tuan Devan'.


"Jadi, benar dia. Heh, bodoh," gumam Karel.


"Ada yang perlu saya lakukan lagi, Tuan?" tanya sopir.


"Urus dia dan semua pelayan di sini! Jangan biarkan satu pun dari mereka ikut campur urusanku. Paham?" jawab Karel, memberikan perintah yang sangat licik.


"Baik, Tuan."


Setelah pelayan ditarik paksa oleh sopir, Karel kembali ke kamar Sherin. Sedikit lega perasaannya karena orang yang bekerja sama dengan Devan sudah ada dalam kendalinya. Setelah ini, Devan tidak akan bisa berkutik lagi.

__ADS_1


Tak cukup di situ saja hal baik yang terjadi pada Karel. Sekitar lima belas menit setelah ia masuk kamar dan berusaha menghubungi Devan, ponsel Sherin berdering nyaring. Ada telepon dari ibunya.


"Selamat pagi, apakah benar ini keluarga dari pemilik nomor?" Begitulah suara pertama yang masuk ke pendengaran Sherin ketika sambungan telepon terhubung dan sengaja di-loudspeaker.


"Kami dari pihak Rumah Sakit Pharma Husada. Ingin mengabarkan bahwa pemilik nomor baru saja mengalami kecelakaan dan sekarang keadaannya sangat kritis. Dimohon kepada keluarga untuk segera datang ke rumah sakit."


Tawa Karel menggema keras setelah telepon berakhir. Rencana liciknya tidak sia-sia. Dewi benar-benar kecelakaan dan sangat kritis. Ia yakin, sebentar lagi pasti mati.


"Mas, Mama kecelakaan, Mas! Tolong lepasin aku, Mas!" teriak Sherin sambil menangis histeris.


Kasihan, peduli? Tentu saja tidak. Hati Karel sudah dibutakan oleh uang dan uang.


"Mas!"


"Sekeras apa pun kamu berteriak, aku nggak akan peduli. Karena semua ini ... memang sudah kurencanakan," ujar Karel dengan tenang.


Tangis Sherin berhenti sejenak, "Apa maksudmu, Mas?"


"Kamu terlalu naif jika menganggapku benar-benar mencintaimu, Sherin."


"Mas___"


"Selain harta, nggak ada lagi yang berharga dalam diri kamu. Makanya, aku akan melakukan apa pun untuk mendapatkan itu, termasuk menyingkirkan mereka yang punya hak atas harta itu."


Sherin gelagapan, "Maksudmu, kecelakaan Mama ini, ada hubungannya dengan kamu, Mas?"


Karel tersenyum miring, "Bukan hanya kecelakaan ini, tapi juga kecelakaan yang menimpa kakak kesayanganmu, Shaka."


Dalam keadaan yang masih terikat, Sherin menangis tanpa suara. Melukiskan betapa dalam sakit yang ia rasakan kala itu.


"Setelah ini, alihkan semua aset menjadi atas namaku. Jika tidak ... kamu dan Devan akan menyusul Shaka," ancam Karel.


Sherin makin sesenggukan, masih tak menyangka jika lelaki yang menikahinya dan setiap hari menggaungkan cinta, dalam sekejap berubah menjadi iblis berwujud manusia.


"Kita udah nikah, Mas, udah punya anak juga. Kenapa kamu setega itu sama aku? Kurang apa aku selama ini, Mas?"


Karel mengabaikan ucapan Sherin dan lebih fokus pada ponselnya sendiri, yang kala itu berdering karen ada telepon dari Devan. Ya, lelaki yang sejak tadi dihubungi tapi tidak dijawab, kini menelepon balik.


Namun, sebelum menerimanya, Karel menunjukkannya dulu pada Sherin.


"Aku penasaran bagaimana tanggapan Devan jika tahu keadaan adiknya sekarang. Mungkin, dia nggak akan berpikir ulang untuk memberikan apa pun yang kuminta, termasuk kantor kecilnya itu."


"Mas! Jangan, Mas! Aku mohon jangan lakukan itu!"


Teriakan Sherin hanya dianggap angin lalu yang tak ada artinya. Karel dengan senang hati menerima telepon dari Devan. Ia sengaja tidak berpindah tepat, agar di sana Devan juga bisa mendengar tangisan Sherin.


"Kamu hanya orang bodoh, berani-beraninya melawanku. Sekarang, nikmati semua hal yang kuberikan. Semoga kamu nggak hancur dalam penyesalanmu, Devan!" ujar Karel setelah Devan menyapa.


"Aku atau kamu yang menyesal?" jawab Devan, terkesan menantang.


"Aku penasaran, angkuhmu itu masih ada atau tidak jika tahu bagaimana keadaan adikmu sekarang."


"Sebelum kamu menceritakan bagaimana keadaan Sherin, lebih baik lihat dulu keadaanmu. Ya ... dengan mengecek ke luar rumah misalnya. Untuk memastikan aman tidaknya." Jawaban Devan sangat santai, dan itu membuat Karel panik seketika.


Ada apa dengan luar rumah? Sebuah pertanyaan yang membuatnya langsung melompat dari tempat semula.


"Apa yang dia mainkan?" gerutu Karel sambil berlari menuju jendela dan menyingkap tirai yang masih tertutup.


Satu pemandangan di luar sana membuat tubuh Karel membeku seketika. Bukan hanya detak jantung yang serasa berhenti, melainkan juga putaran dunianya. Rasanya semua akan berakhir detik itu juga.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2