
Di luar sana sudah ada beberapa polisi yang berseragam lengkap, berikut dengan senjatanya. Selain itu, juga ada Dewi yang tampak sehat bugar tanpa terluka sedikit pun, serta Devan yang memegang ponsel dan memandang ke arah kamar, tempat Karel berada saat ini.
Keringat Karel bercucuran dengan sendirinya, seiring cengkeraman tangan yang begitu erat di tirai. Entah di mana letak kesalahannya, mengapa ia kecolongan sampai sejauh ini.
"Dia bermain-main denganku," geram Karel dalam hatinya. Mengingat telepon yang mengaku dari pihak rumah sakit tadi, Karel yakin pastilah ulah Devan.
Lelaki brengsek itu bekerja sama dengan ibunya, bisa juga dengan Sherin sekalian.
"Sial! Kenapa aku nggak menyadari semua ini? Brengsek!" umpat Karel, masih dalam hatinya.
Sherin menatap dalam-dalam ke arah Karel. Bibirnya digigit kuat demi menahan kesedihan yang begitu tajam melukai hatinya. Karel Adiguna, lelaki yang sangat ia cintai. Bisa-bisanya berbuat begitu gila di belakangnya. Bermain wanita, selingkuh dengan Tiara, memfitnah Devan, dan terkahir berencana membunuh ibunya demi menguasai semua harta.
Kenapa?
Apa kurangnya dia selama ini, hingga Karel begitu tega melukainya?
Bohong jika Sherin tidak hancur dan kecewa. Jauh di dalam hatinya ia masih cinta, meski sekarang ada juga kebencian yang menyeruak dan mengingatkannya untuk melupakan cinta itu.
Ketika Karel dan Sherin masih terlarut dalam pikiran masing-masing—belum melakukan apa pun untuk menghadapi keadaan, tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar. Cukup keras, hingga keduanya tersentak dan spontan menoleh ke sumber suara.
"Tuan! Buka pintunya, Tuan! Ini saya, Tuan!" teriak seseorang yang tak lain adalah sopir pribadi Dewi.
__ADS_1
"Cepat, Tuan! Ini penting!" teriaknya, lagi.
Karena sopir tersebut adalah orang yang berdiri di pihaknya, Karel tak berpikir panjang untuk menemuinya. Bahkan, ia mengabaikan sejenak keberadaan Sherin.
"Atasi masalah di___"
Ucapan Karel yang tergesa-gesa, menggantung begitu saja. Bukan hanya sopir Dewi yang kini berdiri di ambang pintu, melainkan juga bersama dua polisi yang mengacungkan senjata ke arahnya.
"Ada apa ini, saya___"
"Ini orangnya, Pak. Dia sengaja menyekap istrinya untuk dijadikan umpan dalam melawan Tuan Devan. Sudah banyak kejahatan yang dia lakukan, sangat pantas dijatuhi hukuman berat," pungkas sopir, spontan membuat Karel membelalak. Rupanya, orang yang paling ia percaya di rumah itu, justru menusuknya dari belakang. Ternyata dia masih berpihak pada Dewi dan Devan.
"Tidak, Pak, ini salah. Saya___"
Karel meronta dan berteriak membela diri, namun tak ada yang peduli. Polisi terus melangkah hingga keluar rumah.
Tepat di teras, Karel bertemu dengan Dewi dan Devan. Dua orang itu melipat tangan di dada sambil menampilkan ekspresi kecewa. Karel begitu muak melihatnya.
"Aku sudah menerimamu sebagai menantu. Tak disangka, kamu malah berniat membunuhku dan merebut harta milik keluargaku. Licik sekali kamu, Karel!" ujar Dewi dengan tegas.
"Pengkhianatanmu terhadap adikku, nggak akan pernah kumaafkan!" timpal Devan, tatapannya serasa menembus jantung saking tajamnya.
__ADS_1
Karel tidak menjawab satu kata pun. Semua terjadi dengan tiba-tiba. Pikiran yang biasanya cerdas dan tangkas, sekarang buntu dan belum bisa mencari titik keluar dari permasalahan itu. Sampai akhirnya, ia tak punya pembelaan yang berarti untuk kabur dari tangkapan polisi. Mau tidak mau dia ikut masuk ke mobil dan membiarkan diri diadili.
"Aku harus tenang dan memikirkan ini pelan-pelan. Masih ada waktu sampai ke kantor polisi sana, aku harus menemukan alasan yang tepat sebelum diperiksa," batin Karel dengan keringat yang membasahi wajah dan sekujur tubuh.
Sementara itu, Tiara sudah lebih dulu di kantor polisi. Jantungnya terus berdetak cepat. Antara takut, gelisah, dan waswas, semua bercampur menjadi satu. Meski polisi sudah dipastikan akan menangkap Karel, tapi bagi Tiara, lelaki itu masih seperti iblis yang bisa menyakitinya sewaktu-waktu. Tiara mengkhawatirkan keselamatannya, juga keselamatan sang anak yang masih ada dalam kandungan.
'Shaka sangat mencintai kamu, dan keluargaku juga menerimamu. Mama dan Sherin itu selalu memperlakukan kamu dengan baik. Meski banyak yang berkomentar karena perbedaan status sosial, tapi Mama dan Sherin nggak pernah mempermasalahkan itu. Tapi, nggak disangka malah begini balasanmu. Kamu selingkuh dengan suami Sherin sampai hamil. Bayangkan gimana perasaan mereka jika tahu kebenaran ini. Jujur, Tiara, aku sangat kecewa sama kamu.'
Ucapan Devan kembali terngiang di ingatan Tiara, ketika pertama kali dia membuat pengakuan terkait ayah kandung dari janin yang ia kandung.
Tiara tak membantah jika Devan kecewa. Kakak manapun pasti juga kecewa jika adiknya diperlakukan seperti itu. Namun, satu yang masih ia cemaskan. Yakni, bibinya. Jika dia tahu fakta yang sebenarnya, pasti juga kecewa. Tidak menutup kemungkinan, akan bersikap sama seperti Seno.
Lantas jika benar itu terjadi, maka Tiara akan benar-benar hidup sebatang kara. Tidak ada satupun keluarga yang bisa dijadikan sandaran.
"Ya sudahlah, apa pun akibatnya nanti, aku akan berusaha menanggung. Ini memang salahku karena mengkhianati Mas Shaka dan keluarganya. Kalaupun aku dikucilkan dan dihina oleh semua orang, ini masih nggak sepadan dengan apa yang kuperbuat pada Mas Shaka," batin Tiara sambil memegangi perut buncitnya.
"Tiara!"
Panggilan yang dibarengi sentuhan di pundak, membuat Tiara terkejut dan langsung menoleh ke belakang.
"Jangan menyesali apa yang sudah terjadi, pikirkan saja apa yang harus di benahi ke depannya," ucap orang itu.
__ADS_1
Tiara tertegun lama. Bukan untuk mencerna apa yang ia dengar, melainkan menilik sosok yang ada di hadapannya.
Bersambung...