
Sentuhan dingin di lengan mengusik tidur Novan yang lumayan lelap pagi itu. Dengan agak berat dia membuka mata dan menepis mimpi yang sejak tadi membuainya.
"Mas, bangun, sudah pagi!" Suara lembut nan merdu perlahan masuk pendengaran, membuatnya lebih semangat untuk membuka mata lebar-lebar.
Senyum ayu langsung memanjakan matanya ketika sudah terbangun sempurna. Sebuah senyum yang menghiasi paras cantik milik sang istri, rasanya tak ada bosan meski setiap saat memandangnya.
"Ayo bangun, Mas. Lekas mandi terus makan, aku udah masak ayam kecap pedas kesukaan kamu," ujar Tiara sembari duduk di samping Novan.
"Udah masak aja kamu, Sayang. Bukankah ini masih pagi?" Novan mengucek-ucek mata yang masih agak ngantuk, sembari melirik ke luar dari balik tirai yang masih tersingkap, matahari masih begitu jingga.
"Iya, emang lumayan pagi. Tapi, hari ini kan kita udah mulai kerja," jawab Tiara.
Memang kini sudah satu minggu penuh mereka menikah. Liburan bak bulan madu sudah berakhir, waktunya kembali bekerja seperti sebelumnya. Mengumpulkan pundi-pundi rupiah untuk masa depan yang lebih baik.
"Udah seminggu aja kita libur. Rasanya masih bentar banget nggak sih." Novan bicara sambil merapatkan tubuhnya dengan Tiara, sekaligus memeluk erat pinggang istrinya itu. Sangat hangat, sulit untuk disudahi.
"Bisa aja kamu, Mas." Tiara tersipu malu. Pelukan Novan yang makin erat mengingatkannya dengan malam-malam yang ia lalui selama ini. Tak ada satu malam pun yang terlewat tanpa bercinta.
Melihat pipi sang istri merona, Novan makin gemas. Lantas tanpa pikir panjang, ia menarik tubuh Tiara dan membawanya dalam pelukan. Keduanya pun kembali berbaring di atas ranjang yang akhir-akhir ini menjadi saksi bisu percintaan mereka.
"Mas, nanti kesiangan loh," protes Tiara.
"Lima menit aja." Alih-alih melepaskan, Novan justru mencari kenyamanan di ceruk leher Tiara.
Untuk sesaat, keduanya kembali larut dalam alunan cinta yang teramat indah, sampai tak sadar jika detak jam terus berjalan, pun dengan sang surya di luar sana. Lima menit yang diucap Novan, nyatanya lebih dari setengah jam. Akhirnya mereka tak sempat makan. Sarapan yang sudah tersaji pun ditata dan dibawa ke tempat kerja masing-masing.
Untuk sementara, Tiara memang tetap bekerja di butik. Nimas telanjur cocok dengannya, dan tak rela Tiara berhenti sebelum menemukan pengganti yang cocok pula.
_______
Bertemankan musik akustik, Novan dan dua kawannya berkutat di dapur kafe, menyiapkan bahan-bahan untuk membuat kentang goreng, sandwich, dan juga pastry. Mumpung belum ada pengunjung. Memang begitulah suasana pagi, sepi. Terkadang satu dua yang datang, terkadang tidak ada sama sekali. Barulah ramai ketika hampir tengah hari.
__ADS_1
Di sela kesibukan itu, tiba-tiba ada satu lelaki yang datang dan meneriakkan nama Novan. Sontak ketiganya menolah, lantas melemparkan senyum selebar mungkin. Mereka semua memang mengenal lelaki itu, Juna.
"Tumben pagi-pagi udah ke sini, duduklah!" sambut Novan dengan ramah.
Namun, balasan Juna sekadar senyum kecut. Wajahnya pula ditekuk, nyaris tak ada semangat untuk melalui hari.
"Mau minum apa, sekalian ngobrol. Kayaknya ... lagi ada masalah nih," ujar Novan sambil menilik wajah Juna, yang amat sangat tidak sedap dipandang. Ahh, jika diperhatikan, rambut dan pakaian pula tampak kusut. Mungkin sebelum pergi ia mengabaikan mandi dan menyisir rambut.
"Terserah kamu aja. Aku nggak tahu pengin minum apa," jawab Juna sekenanya.
Untung saja ia dan Novan sudah lama kenal, jadi Novan tahu apa kesukaannya—black coffe dengan sedikit gula.
"Kamu ada masalah apa, ceritalah!" Novan kembali bicara usai menyuruh Ferdi membuatkan dua black coffe.
Sesaat lamanya tidak ada jawaban, sekadar embusan napas kasar yang keluar dari bibir Juna. Bahkan, ditunggu lagi, tetap tak ada kata yang ia lontarkan. Malah dengan santainya dia mengambil rokok dan menyulutnya.
"Minumlah dulu!" perintah Novan ketika dua black coffe dan sandwich sudah tersaji. Pikirnya, mungkin masalah Juna terlalu berat, jadi butuh lebih banyak waktu untuk memulai kalimat.
Juna mengangguk, lalu menyeruput kopi yang masih panas itu.
Novan mengernyit. Sama sekali tak paham dengan maksud Juna.
"Tiara wanita yang baik, sangat cocok menjadi istrimu. Kamu pun mencintainya. Jadi ... jangan pernah goyah dengan segala macam godaan dari luar," lanjut Juna, makin membingungkan.
"Maksudmu apa sih? Jujur loh, aku nggak ngerti. Ya ... nasihat bagus emang. Tapi ... nggak mungkin kan kamu nasihatin aku kayak gini tanpa ada sebab?"
Juna tersenyum sambil menjentikkan abu rokok, lalu menyilangkan satu kaki dan kembali menatap Novan.
"Dalam keadaan tertentu, terkadang seseorang nggak bisa memilih jalan yang dikehendaki. Dengan terpaksa memilih jalan lain demi kebaikan hidupnya. Tapi ... apa pun itu, percayalah, aku tetap sahabatmu."
"Hei, kamu kesambet apa?"
__ADS_1
"Aku yakin kamu lelaki sejati, yang nggak mungkin menodai pernikahan hanya karena wanita lain. Ingat perjuanganmu ketika meyakinkan Tiara, cukup sulit kan? Lihat juga betapa besar cinta yang ada di hati kamu. Terkadang, sesuatu memang terasa biasa kalau udah dimiliki. Tapi asal kamu tahu, dia akan terasa berharga kalau udah lepas dari genggamanmu. Maka dari itu, jangan biarkan milikmu lepas hanya karena mengejar sesuatu yang bukan milikmu. Jangan sampai menyesal di kemudian hari, Van." Juna terus bicara dengan sendirinya, tak menjawab kebingungan Novan yang makin menjadi.
"Juna, masih pagi. Jangan bikin aku pusing! Katakan aja ada apa," sahut Novan.
"Suatu saat nanti kamu akan ngerti. Aku nggak bisa bilang sekarang, cuma bisa mengingatkan sedikit."
"Tapi___"
"Jika nanti hatimu goyah, ingat kembali nasihatku ini. Wanita sejatimu hanyalah Tiara. Selain dia, itu sekedar ujian yang berusaha menghancurkan kesetiaanmu. Begitupun sebaliknya. Tiara mencintaimu, kamulah lelakinya. Jika ada yang bilang dia main belakang dengan lelaki lain, itu hanyalah angin lalu yang tak perlu kamu dengar. Paham, kan?" pungkas Juna.
Makin ke sini, Novan mulai menangkap sesuatu yang tidak sederhana, yang sedang disembunyikan oleh Juna.
"Kamu mengalami kesulitan?" tanya Novan.
Juna menggeleng, "Nggak."
"Juna, katakan saja ada apa. Aku tahu kamu sedang nggak baik."
"Jika ada kesempatan, aku akan mengatakan semuanya. Tapi yang jelas, itu bukan sekarang. Sudahlah, Van, ingat saja ucapanku tadi! Kalau kamu mengingatnya dengan baik, kita semua akan baik-baik saja." Usai bicara demikian, Juna meneguk habis kopi miliknya.
Novan terdiam.
"Aku percaya kamu bisa," ujar Juna sambil beranjak dan menepuk pelan bahu Novan.
Lantas, pergi meninggalkan Kafe Latte sebelum mendengar tanggapan dari Novan.
Sepanjang langkahnya keluar dari tempat itu, Juna berulang kali menghela napas lega. Dia tahu Novan cerdas, pasti nanti paham dengan apa yang ia katakan barusan.
"Apa pun keputusan yang kupilih, aku nggak pernah mengkhianati persahabatan kita, Van," gumam Juna.
Dengan agak licik, dia memilih bekerja sama dengan Sherin. Berpegang pada kata 'tidak perlu memikirkan hasil', dia bersedia melakukan apa yang diarahkan oleh wanita itu. Namun di belakang, dia juga memastikan bahwa rencana itu akan gagal.
__ADS_1
Ya ... terkadang untuk menghadapi orang licik, kita juga memerlukan cara yang licik.
Bersambung...