Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Secarik Kertas


__ADS_3

"Haid Anda lancar?" Dokter kembali melayangkan pertanyaan, dan Tiara menanggapinya dengan gelengan.


"Hanya sedikit, Dok, seperti flek saja," lanjut Tiara.


"Flek kemerahan atau kecokelatan, terkadang juga bisa menjadi tanda awal kehamilan. Tapi, saya belum bisa memastikan juga. Sekarang, Anda saya infus saja dulu. Nanti menunggu dokter kandungan untuk memeriksa lebih lanjut."


Alih-alih bahagia, Tiara malah merasa waswas. Sejak menikah, dia dan Novan tidak pernah mencegah kehamilan, dan sampai dua bulan lebih waktu berlalu, dia belum juga mendapatkan itu. Takutnya yang ia alami sekarang juga bukan kehamilan, melainkan sesuatu yang lain.


"Dokter, kalau bukan hamil ... kira-kira apa, Dok?" tanya Tiara.


"Haid yang hanya berupa flek, terkadang bisa juga menjadi tanda-tanda masalah lain dalam kandungan. Tapi, semoga saja bukan."


Tiara terdiam.


"Dalam waktu-waktu terakhir, apa ada yang berubah dengan kebiasaan Anda? Misalkan ... mual ketika makan sesuatu atau mual ketika mencium sesuatu, padahal biasanya tidak. Atau mungkin, Anda jadi menyukai sesuatu yang biasanya Anda hindari?" tanya dokter.


Lagi-lagi Tiara menggeleng. Memang dia tidak merasakan itu, bahkan nyeri punggung atau lelah ketika melakukan sesuatu juga tidak. Semua yang berkaitan dengan tanda-tanda kehamilan, sama sekali tidak ia rasakan.


"Jangan berpikir yang macam-macam dulu ya, Bu. Kita tunggu saja hasil pemeriksaan dokter nanti. Harus optimis, yakin hasilnya akan positif." Dokter tersenyum seraya memasang infus di tangan Kiri Tiara.


"Dokter benar, Sayang. Jangan mikir yang macem-macem, harus positif thinking." Novan turut menimpali, sembari menggenggam hangat jemari Tiara, agar istrinya itu tenang dan tidak gelisah lagi.


Kendati demikian, Tiara tak lantas menyudahi kekhawatirannya. Ia tetap takut akan hasil yang bisa saja negatif. Mengingat masa lalunya, dia pernah hamil dan mengalami pendarahan, sampai anaknya meninggal sebelum lahir. Tidak menutup kemungkinan, itu menjadi awal dari masalah dalam kandungannya.


"Ahh, semoga saja nggak," batin Tiara diiringi embusan napas berat.


Lantas selanjutnya, tidak ada perkataan lagi yang keluar dari bibir Tiara. Ia betah membisu meski berulang kali Novan melontarkan kalimat-kalimat panjang.


_______


"Apa yang terjadi dengan istri saya, Dokter?" tanya Novan dengan tak sabar. Bahkan, ia sampai mengamati setiap gerakan dokter yang kini duduk di hadapannya.

__ADS_1


Dokter kandungan yang bernama Arumi itu tersenyum, "Selamat ya, Pak, istri Anda hamil, sudah berusia empat minggu. Flek merah yang dialami Bu Tiara adalah pendarahan implantasi. Ini biasa terjadi pada awal kehamilan. Tidak apa-apa. Tapi ... mengingat kondisi Bu Tiara yang sekarang masih lemah, saya sarankan untuk menjalani rawat inap di sini. Nanti sambil saya pantau fleknya berhenti atau tidak, karena normalnya ini hanya berlangsung antara satu sampai tiga hari saja."


Mulut Novan menganga. Rasanya ingin mengucap kata, tetapi tak tahu kata mana yang harus diucap lebih dulu. Dia terharu, sangat terharu. Sejak cintanya baru saja diterima oleh Tiara, menikah dan punya bersama wanita itu adalah impian terbesarnya. Lantas sekarang, Tuhan telah memberikan jawaban atas mimpi dan doa-doa yang setiap saat ia panjatkan.


"Ini resep obat dan vitamin yang harus diminum rutin. Saya sarankan juga untuk mengonsumsi su-su khusus untuk ibu hamil. Karena dalam trimester pertama, seringkali mengalami mual dan tidak naf-su makan," lanjut Dokter Arumi.


"Ahh, iya, terima kasih banyak, Dokter." Dengan senyuman yang sangat lebar, Novan mengambil resep yang diserahkan oleh dokter.


Kemudian, ia bangkit dan meninggalkan ruangan dokter dengan langkah ringan. Hatinya luar biasa bahagia, rasanya sudah tak sabar untuk memberitahukan kabar baik tersebut kepada sang istri.


"Kamu akan menjadi ibu lagi, Sayang," batin Novan di sela-sela langkahnya.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Novan untuk menebus obat, hanya hitungan menit saja. Lalu, dia kembali ke ruangan tempat Tiara dirawat. Saking bahagianya, Novan sampai melupakan makan pagi. Pikirnya, masih bisa nanti. Sekarang yang penting menemui Tiara dan membantunya minum obat terlebih dahulu.


"Mas, apa kata dokter?"


Begitu masuk ke ruangan, Novan langsung disambut dengan pertanyaan yang menyiratkan kecemasan.


Semburat bahagia langsung terpancar di wajah Tiara. Sorot mata yang tadi sendu pun perlahan berbinar. Sebuah keinginan yang sebelumnya hanya terpendam dalam diam, kini sudah dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Sungguh, sebuah anugerah yang sangat indah.


"Kamu serius, Mas?" Tiara memastikan lagi. Takut jika tadi ia hanya salah dengar.


Novan mengangguk, "Serius, Sayang. Kata dokter kandungan kamu sudah empat minggu. Flek itu biasa terjadi pada awal kehamilan, nggak apa-apa. Kamu cukup istirahat dan minum vitamin rutin. Nanti dokternya juga akan ke sini, ngomong sendiri sama kamu. Ini tadi masih ada pasien lain. Aku disuruh nebus obat dan vitamin dulu untuk kamu minum."


Setetes air mata Tiara lolos dari sudut matanya. Ia raba dengan pelan perut yang tertutup selimut. Masih sangat rata, tetapi sudah ada kehidupan yang mulai tumbuh di sana. Tidak ada ketakutan seperti kehamilannya dulu. Malah sudah tak sabar untuk melihatnya tumbuh membesar dan lahir dengan selamat, lantas dia akan bangga menunjukkannya pada semua orang. Ahh, betapa indahnya itu.


"Setelah ini, katakan apa aja yang kamu rasakan, Sayang. Capek atau lelah, bilang aja. Nanti biar aku yang selesein semua kerjaan rumah. Kamu pengin makan apa juga bilang aja, aku akan berusaha mencarikannya untuk kamu. Oh ya, sekalian nanti kita ngomong ke Bu Nimas kalau kamu nggak bisa genepin sampai akhir bulan," ujar Novan sambil menuangkan air putih dari botol.


"Iya, Mas." Tiara mengangguk.


Sebelumnya, dia memang sudah berniat berhenti dari pekerjaan, hanya saja masih menunggu pengganti. Kebetulan, perempuan yang menggantikannya sudah masuk dari minggu lalu. Namun, Nimas menyuruh Tiara untuk tetap bekerja sampai akhir bulan. Sayangnya tidak bisa. Sekarang baru tengah bulan, ia jatuh sakit dan positif hamil. Tentunya akan berhenti lebih awal.

__ADS_1


_______


Tiga hari sudah Tiara dirawat di rumah sakit. Fleknya sudah berhenti dan kondisinya juga jauh lebih baik meski belum stabil. Kata dokter, diperkirakan besok sudah boleh pulang.


Kabar baik itu tidak disimpan berdua saja, tetapi juga dibagi dengan paman dan bibi Tiara. Mereka turut bahagia, dan katanya dalam waktu dekat akan datang menjenguk.


Selain mereka, Bagas dan Nimas juga ikut memberikan selamat. Malahan, Nimas memberi gaji satu bulan full meski Tiara berhenti dari tengah bulan. Dia juga memberikan hadiah berupa pakaian bayi berikut dengan selimut dan bantal kecilnya.


Setelah semalam Bagas dan Nimas yang datang, sore ini Juna yang menjenguk. Ia membawa parsel buah dengan ukuran yang cukup besar, tetapi isinya tiga macam saja; jeruk, mangga, dan alpukat. Ketiganya adalah buah kesukaan Tiara.


"Sayang, mau aku kupaskan buahnya sekarang?" tanya Novan.


"Nanti dulu aja, Mas. Aku masih kenyang." Tiara menolak halus karena memang masih kenyang. Belum lama ia makan dan minum susu.


Setelah berbasa-basi sebentar, Novan pamit keluar. Tidak jauh, sekadar duduk di bangku depan ruangan. Ia akan mengobrol dengan Juna di sana.


"Kalau butuh apa-apa, panggil aku ya, Sayang. Aku cuma di kursi sana."


"Iya, Mas."


Tak lama setelah Novan keluar, Tiara menatap parsel buah yang ada di atas meja, di sampingnya. Sejenak terselip rasa heran di dalam hatinya, kenapa Juna membawakan tiga buah itu. Kota Malang terkenal akan apelnya, tetapi di sana malah tidak ada. Apa karena Juna tahu kalau ketiga buah itu adalah buah kesukaannya? Namun, tahu dari mana?


Berawal dari rasa heran, akhirnya timbul keinginan untuk mencicip. Namun, Tiara tidak memanggil Novan. Ia duduk sendiri dan mengambil buah itu sendiri, tubuhnya sudah tidak selemah kemarin, cukup kuat untuk melakukannya.


"Aromanya seger banget. Kayaknya enak nih," gumam Tiara sambil memilih jeruk yang sebenarnya berwarna sama.


"Ini apa?" Tiara mengernyitkan kening ketika mendapati secarik kertas terselip di bawah buah-buah itu.


Karena penasaran, Tiara bergegas mengambil dan membuka lipatannya. Ada satu kalimat yang tertulis di sana. Sebuah kalimat yang membuat tubuh Tiara serasa membeku.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2