
"Apa yang membuatmu ingin menikahi Tiara? Kamu tahu kan siapa dia?"
Suara Seno terdengar tegas dan berat, memenuhi ruangan tempat mereka duduk saat ini. Meski dulu tidak ikut campur dalam kasus Karel, tapi dia tahu siapa Novan. Dia ikut terlibat dalam lingkup masalah itu, dan pastinya tahu benar bagaimana masa lalu Tiara.
"Saya tulus mencintai dia. Saya tahu siapa dia, dan saya tidak masalah dengan itu."
Jawaban Novan yang juga tegas membuat Seno terdiam sesaat.
Kesungguhan Novan kali ini, mengingatkannya pada sosok Shaka. Dulu lelaki itu juga begitu serius saat melamar Tiara. Sayangnya, keponakannya malah bodoh, selingkuh dengan lelaki biadab macam Karel.
"Kamu mencintai dia, yakin juga bisa menerima anaknya?" tanya Seno.
"Maaf, anak Tiara sudah tidak ada."
Spontan, Seno menoleh ke arah Tiara dan mendapati mata wanita itu berkaca-kaca.
Lalu belum sempat Seno bicara lagi, Yanti sudah datang sambil membawakan minuman. Sepintas dia mendengar tentang anaknya Tiara, dan menanyakan lagi karena takut salah dengar.
"Anakku udah nggak ada, Bi. Dia meninggal selagi dalam kandungan," ujar Tiara.
Wajah Yanti berubah sendu. Pikirannya kini melanglang tak tentu arah, membayangkan betapa sulitnya hidup Tiara selama di kejauhan sana. Seberkas rasa bersalah pun mulai hinggap di benaknya. Berandai-andai tentang masa lalu yang mungkin saja akan mengubah keadaan sekarang.
Eskpresi tersebut tertangkap mata Seno. Sekilas saja pria itu tahu apa yang dirasakan sang istri, pasti merasa sedih dan tersentuh. Akhirnya, Seno pun melunakkan hati. Mengesampingkan ego dan memberi kemudahan untuk Tiara dan Novan.
"Aku merestui hubungan kalian. Kamu, Novan, aku sudah memberimu kepercayaan besar, jangan sekali-kali dinodai. Dan kamu, Tiara, jangan mengulang kebodohan yang sama."
Senyum Tiara langsung merekah ketika mendengar ucapan Seno. Pria itu memberi restu serta nasihat untuknya. Ahh, rasanya ia mendapatkan kembali keluarga yang telah hilang. Saking senangnya, Tiara langsung menghambur memeluk Yanti, juga berterima kasih kepada pamannya.
Tak jauh beda dengan Tiara, Novan pula merasakan hal yang sama. Dia bahagia karena niat baiknya sudah mendapat restu. Dalam hatinya ia berjanji, sampai kapanpun tidak akan mengecewakan mereka yang telah memberi kepercayaan.
__ADS_1
"Jadi, kapan tepatnya hari pernikahan kalian?" tanya Seno beberapa saat kemudian.
"Bulan depan." Novan menjawab sambil menyerahkan selembar kertas, yang mana tertera hari dan tanggal pernikahannya.
Yanti turut melihat. Senyumnya pun terkulum sempurna. Selain senang karena keponakannya akan menikah, dia juga senang karena hubungan mereka mulai membaik. Mungkin, ke depannya mereka bisa harmonis seperti dulu lagi.
"Kami berharap, Paman dan Bibi bisa hadir di pernikahan kami nanti," lanjut Novan.
"Tidak janji, tapi ... akan kuusahakan," jawab Seno usai menatap lama kertas yang diberikan Novan.
Ucapan terima kasih pun berulang kali terlontar dari bibir Tiara dan Novan. Keduanya benar-benar lega mendapat sambutan sebaik itu.
Rasanya masih seperti mimpi bagi Tiara, bisa mendapat 'maaf' dari paman dan bibinya, setelah dikecewakan terlalu dalam. Mungkin, berjauhan selama lima tahun itu telah meluluhkan kemurkaan yang ada dalam diri mereka. Pun membuat dirinya sadar akan kesalahan yang fatal.
Terkadang ... memang hanya ruang dan waktu yang bisa menyembuhkan luka dan kecewa.
______
Mungkin, itulah ilusi jika menunggu sesuatu yang baik dan sangat diharapkan.
Pernikahan, keduanya sama-sama menanti itu. Walau berawal dari perasaan takut dan ragu, kini cinta dan kepercayaan sudah tertanam begitu dalam di benak Tiara. Dia telah berhasil meyakinkan hati bahwa Novan adalah lelaki yang pantas ia damba.
Restu pun tidak hanya dari Seno dan Yanti, melainkan juga dari Bagas dan Nimas. Dua orang itu sangat mendukung hubungan Tiara dan Novan. Bahkan, mereka menghadiahi kebaya dan jas untuk dikenakan dalam acara akad, lusa nanti.
Selain itu, Nimas juga memberikan cuti lebih panjang. Tiga hari sebelum nikah, sampai satu minggu setelahnya. Katanya, agar lebih banyak waktu untuk mengurus hal-hal yang diperlukan. Toh selama ini, Tiara juga tak pernah mengambil cuti.
Sedangkan Novan, ia tutup kafe mulai besok. Hari ini masih buka, karena kebetulan siang tadi ada yang mereservasi tempatnya untuk acara reuni.
"Rencananya tutup berapa hari, Bang?" tanya Ferdi—barista yang bekerja di kafe milik Novan.
__ADS_1
"Mungkin lima hari, tapi ... belum pasti juga. Nanti saja aku kabari lagi," jawab Novan sambil membantu menyiapkan pastry untuk pengunjung.
Usahanya memang belum besar, hanya dua orang yang dia rekrut untuk membantu. Jadi, tak heran dirinya juga sering turun tangan jika pengunjung sedang ramai.
"Bang, meja nomer sembilan itu boleh tolong antar nggak? Aku mau bersihin lantai dulu, ada yang numpahin minuman," ucap Dika sambil menunjuk ke meja sudut, di sana ada pengunjung yang membawa anak kecil. Mungkin, dialah yang menumpahkan minuman itu.
"Ya udah, kamu lanjut aja. Ini biar aku yang ngantar." Novan mengiakan, tanpa kesal sedikit pun. Malah dia bahagia jika kafe ramai seperti itu, karena pemasukan pula akan bertambah, dan cita-cita untuk membahagiakan Tiara juga akan terwujud.
Dengan senyuman yang ramah, Novan membawa nampan yang berisi pastry dan americano ke meja nomor sembilan.
"Silakan!" ujar Novan setelah tiba di sana dan menyajikannya ke atas meja.
Novan terlalu fokus dengan apa yang ia kerjakan, sampai tak sadar dengan siapa ia berhadapan.
"Ternyata kamu."
Barulah ketika mendengar itu, Novan mengalihkan tatapannya, dan sesaat beradu pandang dengan wanita yang tak lain adalah Sherin.
"Sherin," gumam Novan.
Wanita yang disebut namanya langsung tersenyum miring, lalu melipat tangan di dada sambil menatap remeh.
"Dunia ternyata begitu sempit. Nggak nyangka aku bisa berkunjung ke kafe, yang mana kamulah pelayannya. Padahal, udah bertahun-tahun nggak pernah ketemu. Konyol sekali," ucapnya.
"Silakan dinikmati!" Alih-alih menanggapi ucapan Sherin, Novan malah tersenyum dengan sopan, layaknya melayani pengunjung pada umumnya. Kemudian, berlalu pergi dan meninggalkan Sherin yang masih kesal.
Novan tak ingin ada keributan di sana. Tak apa meski Sherin menganggapnya pelayan, yang penting pengunjung lain tetap merasa nyaman tanpa ada kegaduhan. Dia juga tak ambil pusing mengapa Sherin ada di sana. Pikirnya, biar saja meski seandainya Sherin tinggal atau membuka bisnis di sekitar. Yang penting dia tidak mengusik. Hidupmu hidupmu, hidupku hidupku.
Namun, lain halnya dengan Sherin. Dia tak bisa mengabaikan begitu saja pertemuan barusan. Lelaki itu pernah mengkhianati kakaknya, Sherin ingin tahu bagaimana kehidupannya sekarang.
__ADS_1
"Dalam hitungan jam, aku akan tahu semua tentangmu, Novan," batin Sherin sambil meraih ponselnya. Mencari nama kontak yang ia yakini bisa memberi banyak informasi.
Bersambung...