
Setelah menemani Tiara yang dirawat di rumah sakit selama empat hari penuh, lalu dilanjut dengan istirahat total di rumah selama empat hari, kini Novan kembali beraktivitas seperti biasa, yakni menjaga kafe. Setelah kemarin hanya mengandalkan Dika dan Ferdi, sekarang dia ikut berkecimpung lagi dalam kesibukan itu.
Satu hal yang membuat Novan sangat antusias pagi ini adalah Juna. Sahabat yang ia kenal sejak menjadi narapidana itu akan menemuinya. Tak hanya mengobrol santai, melainkan akan membahas tentang Sherin. Kemarin malam dia sudah mengaku bahwa antara dirinya dengan Sherin ada hubungan yang tak biasa.
Ternyata, Juna tak membuat Novan menunggu lama. Setengah jam setelah kafe dibuka, dia sudah datang ke sana. Namun, wajahnya tak sumringah seperti kemarin, lebih terlihat masam.
Satu embusan napas berat langsung meluncur dari bibir Juna, ketika dirinya mendaratkan tubuh di atas kursi kafe. Suasana yang masih sepi seakan menambah kegundahan hatinya selama empat hari terakhir.
"Dateng-dateng udah kusut begitu. Gimana aku mau nanya-nanya coba," gerutu Novan sambil menyuguhkan sebungkus rokok lengkap dengan koreknya.
"Ya udah sih nanya aja." Juna menjawab asal seraya mengambil sebatang rokok, seakan sengaja mengalihkan perhatian Novan yang sedari tadi menatapnya.
"Kamu tahu apa yang akan kutanyakan. Jadi ... kamu aja yang duluan cerita. Nanti aku tanya kalau ada bagian yang nggak kupahami."
Juna melirik novan sekilas, lantas kembali hanyut dalam nikmatnya nikotin yang mulai meracuni tenggorokan. Sekali dua kali ia mengepulkan asapnya, berharap beban hati ikut menguar bersamanya. Namun, salah. Beban yang ia rasa justru makin mengimpit dadanya, menyisakan rasa sesak yang membuatnya tidak nyaman.
Sampai akhirnya, beban itu jua yang mendorong Juna untuk menceritakan segala hal yang berkaitan dengan Sherin. Mulai dari pertemuan pertama yang membuatnya terpaksa bekerja sama, sampai nasihat terakhir yang membuat Sherin mengurungkan niat buruknya, hingga menitipkan buah dan ucapan selamat kepada Tiara.
"Sorry, kalau aku nggak ngomong masalah ini dari awal. Pikirku, yang penting kamu dan Tiara aku jamin baik-baik aja. Gitu doang. Ya mau gimana lagi, aku butuh duit. Tahu sendiri kan ... aku tuh pengin tinggal sendiri, pengin punya modal masa depan," ujar Juna di akhir ceritanya.
Novan menyandarkan punggungnya, sekaligus mengangkat satu kaki dan menyilangkannya di kaki yang lain.
"Bisa maklum sih, tapi ... gila aja tahu nggak. Reservasi malem-malem, terus Sherin yang diganggu preman, ternyata kamu dalangnya. Sialan," ucapnya.
"Yang penting kamu sama Tiara nggak apa-apa, kan?
" Ya hampir salah paham lah."
__ADS_1
"Cuma hampir doang, kan? Buktinya sekarang udah sukses bikin bocah." Juna tersenyum miring. "Lagian aku juga udah mikir panjang sebelum deal sama Sherin. Aku pastiin dia nggak akan berhasil godain kamu, apalagi sampai bikin kamu dan Tiara cerai," lanjutnya.
"Aku belum gila," sahut Novan dengan cepat.
"Makanya aku berani ambil."
Sesaat kemudian, keduanya terdiam, sekadar fokus dengan kopi masing-masing, yang baru saja diantarkan oleh Dika.
"Ngomong-ngomong ... kok wajahmu kusut gitu dari tadi. Ada masalah lain? Atau ... ada sesuatu yang timbul atas kerja samamu dengan Sherin itu?" tanya Novan dengan sejuta rasa penasarannya.
Novan menghela napas panjang, "Dia pulang ke Surabaya, sehari setelah aku ke rumah sakit jenguk Tiara. Dan ... sampai sekarang nggak ada kabar. Nomornya nggak aktif."
Novan menangkap sesuatu yang lain dalam kalimat yang Juna lontarkan. Bukan sekadar khawatir soal pekerjaan, melainkan lebih pada masalah yang lebih pribadi.
"Terus?" tanya Novan.
"Masalahnya di kamu apa? Dia nggak mungkin nggak ada orang kepercayaan, kan? Pasti ada, yang tetep tinggal di sini dan ngarahin pekerjaan kalian. Jadi ... ada atau nggak ada dia, sama aja kan?" ujar Novan penuh selidik.
Cukup lama tidak ada jawaban, hanya embusan napas kasar yang berulang kali terdengar.
"Aku lancang," ucap Juna beberapa saat kemudian.
"Kamu mencintainya?" tebak Novan.
Juna mengangguk.
Novan mende-sah kasar. Meski dalam hati keberatan karena Sherin adalah adiknya Devan sedangkan Juna adalah temannya, tetapi Novan tak bisa berbuat banyak. Tak ada hak baginya untuk melarang Juna mau jatuh cinta dengan siapa.
__ADS_1
"Tapi aku sadar diri sih, kami berbeda. Cuma ya ... nggak enak aja kalau tiba-tiba hilang kabar gini." Juna berkata sambil membuang puntung rokok ke dalam asbak, lalu menatap Novan sekejap.
"Aku kenal Devan cukup lama. Di keluarga dia, perbedaan sosial itu bukan masalah. Dan kurasa Sherin juga berprinsip demikian. Tapi ... kalau Devan tahu kamu itu temanku, mungkin ... dia nggak setuju kamu berhubungan dengan adiknya."
Juna tertawa sumbang, "Pikiran kamu terlalu jauh, Van. Boro-boro Devan, Sherin-nya aja belum tentu mau sama aku."
Novan sekadar menggumam pelan. Bingung mau menjawab apa. Pertimbangan cinta bukan sebatas status sosial, melainkan banyak lainnya, termasuk sifat dan rupa. Dan soal rupa ... Juna kalah jauh dengan Karel. Sementara soal sifat, entahlah bagaimana pandangan mereka. Juna sama seperti dirinya, pernah terlibat tindak kriminal hingga berakhir di jeruji.
______
Keesokan harinya, Juna masuk kerja seperti biasa. Sama seperti empat hari terakhir, ia tak mendapati Sherin di sana. Nomornya pula masih betah di luar jangkauan. Entah apa yang terjadi dengan wanita itu.
Kendati demikian, Juna tetap bekerja dengan baik. Dia tidak mau teledor. Pekerjaan itu sangat penting baginya, jangan sampai hilang dari genggaman.
"Pak Juna, Anda disuruh ke ruangannya Bu Sherin."
Juna yang kala itu hampir menyantap makan siangnya, menghentikan aktivitasnya seketika. Tanpa banyak bicara, dia langsung bangkit dan berjalan menuju ruangan yang biasa digunakan Sherin. Pikirnya, Sherin-lah yang memberikan perintah itu.
Namun, kenyataan tak sesuai dengan apa yang Juna pikirkan. Ketika tiba di sana, bukanlah Sherin yang menyambut di kursi kebesarannya, melainkan seorang lelaki yang hampir seumuran dengan dirinya.
Dalam keterkejutan, Juna membatin dalam hatinya, "Wajah ini ... mirip seperti Devan."
Sejauh ini, Juna memang belum pernah bertemu langsung dengan Devan, sekadar tahu lewat fotonya saja.
"Silakan duduk!"
Juna salah tingkah. Mendadak perasaannya tidak enak. Setelah Sherin hilang kabar, kenapa malah Devan yang datang?
__ADS_1
Bersambung...