Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Sah


__ADS_3

'Novan Andreano, pemilik Kafe Latte. Lusa akan menikah dengan Mutiara Danisha. Janda muda yang sekarang bekerja di Lovelia Fashion, butik yang berada di sebelah Kafe Latte.'


Mata Sherin membelalak ketika membaca pesan dari orang suruhannya—lengkap dengan foto Novan dan Tiara. Novan, lelaki yang dia kira hanya menjadi pelayan, ternyata adalah pemilik dari kafe tersebut. Sialnya lagi dia akan menikah dengan Tiara, mantan calon ipar yang menjadi racun dalam rumah tangganya.


"Kebetulan macam apa ini? Bisa-bisanya mereka menjalin hubungan sampai menikah. Memangnya tidak ada calon lain apa?" gerutu Sherin dengan napas yang memburu. Bahkan saking kesalnya, ia melempar begitu saja ponselnya ke atas ranjang.


Jujur, lima tahun ini dia belum sepenuhnya menerima kejadian waktu itu. Meski kebencian untuk Karel teramat besar, tapi belum cukup menghapus semua cinta dan kenangan yang pernah ada. Sehingga kini, dia tak bisa memaafkan siapapun yang pernah terlibat dalam masalah itu, termasuk Tiara.


"Harusnya kamu juga mendapat sanksi yang berat, bukan malah berkeliaran bebas dan bahagia kayak gini. Aku nggak rela, Tiara, nggak rela!" Deru napas Sherin makin tak karuan, seiring mata yang kian berkaca-kaca. Sedih, benci, kecewa, semua campur aduk menjadi satu.


Setelah cukup lama merenungi alur hidupnya sendiri, Sherin beranjak dan membasahi tenggorokan dengan segelas air. Lantas, ia kembali ke ranjang dan telentang di sana. Sembari menatap langit-langit kamar, Sherin kembali memikirkan 'sesuatu' yang ia temui hari ini. Sesuatu yang mungkin akan membuatnya terjaga sepanjang malam.


______


Riuhnya percakapan, pagi ini mewarnai rumah Novan yang biasa sepi. Semua karena sang empunya akan menikahi wanita berparas cantik yang sekian lama ia damba.


Acara pernikahan itu memang dilangsungkan di rumah Novan, dan ke depannya Tiara juga akan terus tinggal di sana. Tidak banyak yang diundang dalam acara tersebut, hanya Bagas, Nimas, Juna, dan tetangga-tetangga terdekat. Selain itu, ada paman dan bibi Tiara yang datang sejak semalam.


"Cantik." Satu pujian yang lolos dari bibir Novan membuat Tiara tersipu malu.


Dia pun menunduk sembari mencengkeram ujung kebaya yang sedang ia kenakan. Di balik rasa bahagia, perlahan timbul ketakutan yang membuatnya berdebar tak karuan.


Pernikahan, pada masanya ia pernah hampir menyentuh acara itu. Yang kemudian gagal karena maut yang tak terelakkan.


Detik ini, Tiara juga memiliki ketakutan yang sama. Meski Novan sudah duduk di sebelahnya, tapi penghulu belum datang. Terselip kemungkinan akan terjadinya hal-hal buruk. Ah, semoga saja tidak.


"Kenapa tegang?" tanya Novan. Ia menangkap perubahan raut wajah sang calon istri.

__ADS_1


Namun, Tiara hanya menggeleng. Lantas, mengembuskan napas berat. Dari sana, Novan bisa menebak apa gerangan yang dipikirkan Tiara.


"Jalan hidup nggak akan selalu sama. Jadi, kamu nggak perlu mengkhawatirkan apa yang udah kamu lalui, karena belum tentu itu akan terjadi dua kali. Positive thinking aja, kebahagiaan pasti ada untuk setiap orang. Ya?"


Tiara menoleh dan menatap Novan, yang barusan telah membisikkan kalimat indah. Senyum manis pun Novan ulurkan, dan akhirnya merambat ke bibir Tiara juga. Keduanya saling menatap dengan senyuman tulus. Sangat manis, sungguh sedap dipandang.


"Makasih," ucap Tiara sesaat kemudian.


Tidak salah ia memilih Novan sebagai calon suami. Lelaki itu tak hanya tahu bagaimana cara menyanjung, namun juga tahu caranya menenangkan dan membuat nyaman.


Tak lama setelah suasana tegang itu berakhir, penghulu datang bersama hakim yang akan menjadi walinya Tiara.


"Jangan tegang, yakinlah semua akan lancar," bisik Novan sebelum memulai prosesi akad.


Tiara mengangguk. Lalu berulang kali menarik napas panjang, berharap jantungnya bisa berdetak normal. Namun, sulit. Hati dan perasaannya terus tak karuan. Bahkan ketika penghulu mulai menjabat tangan Novan, tubuh Tiara sampai terasa lemas. Detik-detik dirinya menyandang status istri, amat-sangat menegangkan untuk dilalui.


Barulah ketika para saksi berteriak 'sah', Tiara bisa menghela napas lega. Saking bahagia dan terharunya, ia sampai menitikkan banyak air mata. Bahkan tak segan tergugu, ketika Novan memeluk dan mencium keningnya.


"Ini hari bahagia kita, tersenyumlah!" bisik Novan di sela-sela dekapannya.


Ia pun turut merasa lega karena wanita pujaannya kini sudah sah menjadi istri. Ke depannya mereka akan hidup berdua, menghabiskan setiap waktu bersama.


Setelah akad itu selesai, semua yang hadir menikmati jamuan sederhana yang telah disediakan. Canda dan tawa mewarnai suasana itu, melukiskan betapa bahagia mereka atas bersatunya dua insan yang saling mencinta.


Ucapan selamat, hadiah, serta amplop, mereka berikan untuk Novan dan Tiara sebelum meninggalkan tempat. Tak terkecuali Seno dan Yanti, keduanya juga menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu ketika menyalami Tiara.


"Paman dan Bibi beneran nggak nginap?" tanya Tiara ketika acara sudah usai, dan paman bibinya berpamitan pulang.

__ADS_1


"Ada kerjaan yang nggak bisa ditinggalkan lama-lama, Ra. Jadi, kami harus pulang. Nanti saja kalau ada waktu senggang, Bibi dan pamanmu akan berkunjung lagi ke sini," jawab Yanti.


"Ya udah kalau gitu, Bi. Hati-hati ya, makasih banyak untuk hari ini."


"Iya. Kamu baik-baik ya di sini!" Yanti mengusap pundak Tiara, lalu beralih menatap Novan. "Van, jaga Tiara ya!" ucapnya.


"Iya, Bi, itu pasti."


"Kalian jaga diri di sini. Paman akan pulang," pamit Seno.


"Iya, Paman, hati-hati!"


Tiara dan Novan mengantar mereka sampai ke halaman. Lalu tetap di sana sampai mobil yang membawa paman dan bibinya melaju pergi. Hingga tinggallah Novan dan Tiara saja di sana. Berdua dalam satu atap yang sederhana, namun cukup luas.


"Mulai sekarang, jangan nangis lagi ya. Istriku harus selalu tersenyum," ujar Novan ketika keduanya duduk bersama di tepi ranjang.


"Tangis itu nggak melulu tentang kesedihan kok, kadang untuk kebahagiaan juga," sahut Tiara sambil tersenyum lebar, sedikit menggoda lelaki yang baru hitungan jam menjadi suaminya.


Ternyata benar apa yang dikatakan Novan tadi, jalan hidup tak selalu sama. Buktinya, pernikahan dengan Novan terhitung lancar. Tidak ada kendala apa pun. Mungkin, memang dialah takdir yang sudah digariskan untuknya.


"Ya ... itu maksudku. Nggak boleh sedih lagi. Kalau ada apa-apa yang nggak pas di hati kamu, bilang aja. Ada aku, yang selalu ada untuk kamu, siap menjadi sandaranmu."


Pipi Tiara merona. Rayuan ketika masih pacaran dengan resmi suami istri, ternyata berbeda jauh. Lebih menyentuh hati dan membuatnya berbunga-bunga. Tiara sampai kehabisan kata-kata dan hanya mampu menanggapi dengan pelukan erat.


Sampai akhirnya, pelukan perlahan berubah menjadi alunan cinta yang menjadi ciri khas malam pengantin. Meski Tiara tak bisa mempersembahkan mahkota pertamanya, tapi Novan tetap bangga dan menganggapnya istimewa.


Bahkan dalam setiap gerakannya, Novan berharap buah cinta tumbuh dalam rahim Tiara. Dialah wanita paling berharga yang akan dipercaya melahirkan keturunannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2