
"Makasih banyak ya, Van." Tanpa rasa segan, Sherin mendekati Novan dan menghambur ke pelukannya. Menumpahkan tangis hingga kemeja Novan basah karenanya.
"Kamu jangan begini. Udah nggak apa-apa kok, pria-pria tadi udah pergi."
Novan melangkah mundur, sekaligus menepis halus pelukan Sherin. Meski niatnya sekadar untuk mengurangi rasa takut, tetapi Novan tak mau. Tabu baginya membiarkan wanita lain memeluknya, terlebih tanpa sepengetahuan Tiara.
Mendapat perlakuan seperti itu, Sherin tampak canggung. Kedua tangannya seakan ingin memegang lengan Novan, namun berhenti di udara. Di antara ketakutan yang menghiasi wajah, tersirat keraguan yang mengiri setiap gerakannya.
"Kamu tadi mau ke mana?" tanya Novan sesaat kemudian. Tak enak juga diam terus, karena hari sudah larut dan ia butuh pulang. Sedangkan mau langsung pergi, kesannya juga tidak baik.
"Aku baru pulang dari rumah teman, membahas kerjaan yang mendesak. Sebenarnya, dia menyuruhku menginap. Tapi, aku nggak nyaman kalau nggak tidur di tempatku sendiri. Aku memilih pulang dan ... nggak tahu kalau akhirnya malah dihadang preman. Andai tahu begini, aku nginap aja. Meski nggak nyaman, tapi yang penting selamat." Sherin menerangkan dengan panjang lebar.
Novan mengangguk pelan, menganggap Sherin serius dengan ucapannya.
"Sekali lagi makasih ya, Van. Kalau nggak ada kamu ... nggak tahu bakal gimana nasib aku tadi." Sherin menunduk. "Maaf banget ya untuk kemarin. Aku udah kasar sama kamu. Padahal ternyata ... kamu sebaik ini. Kamu masih mau nolong meski hubungan kita cukup buruk," lanjutnya.
"Kita pernah kenal. Nggak mungkin juga aku abai saat kamu dalam bahaya. Ngomong-ngomong, kok kamu ada di sini?" Novan balik bertanya, penasaran mengapa Sherin sedari tempo hari berkeliaran di kota itu.
"Mama mau buka cabang di sini, dan aku yang bertanggung jawab. Mau siapa lagi, Mama mengurus di sana aja udah kewalahan. Sedangkan Mas Devan juga sibuk dengan usahanya sendiri," jawab Sherin. Kali ini tidak berbohong. Memang dirinya yang bertanggung jawab atas itu semua.
Novan diam sesaat. Pikirannya tertuju pada Tiara. Wanitanya itu sudah berusaha keras melupakan masa lalu, tetapi sekarang keluarga Shaka malah membuka cabang di sana. Kalaupun yang bertanggung jawab Sherin, tidak menutup kemungkinan Devan dan Dewi akan berkunjung ke sana, lantas bertemu dengan Tiara. Ahh, bagaimana perasaan wanita itu jika bertemu lagi dengan salah satu di antara mereka?
"Van! Ada masalah?" tanya Sherin sembari memegang bahu Novan.
"Nggak ada kok." Novan menggeleng ragu. "Ya sudah, pulanglah! Hati-hati! Aku juga akan pulang," lanjutnya.
Alih-alih menuruti perintah Novan, Sherin malah menyambung obrolan dengan pertanyaan lain.
"Kamu tinggal di sekitar sini?"
"Iya. Rumahku di depan sana, nggak terlalu jauh dari sini."
Sherin tersenyum, "Oh. Kalau kafe kemarin?"
__ADS_1
"Itu usahaku."
"Maaf ya, kemarin aku udah angkuh. Lancang menganggap kamu pelayan di sana, ternyata ... kamu adalah bosnya."
"Nggak masalah. Itu juga cuma kafe kecil kok. Mmm ya udah, buruan pulang gih! Udah malem banget, nggak enak kalau terlalu lama ngobrol di sini." Novan kembali menyudahi obrolan mereka.
"Oke. Nanti kalau ada sempat, aku akan main lagi ke kafe kamu."
Novan menyambut baik ucapan Sherin. Pikirnya, hal bagus jika ada pelanggan baru di kafenya, karena itu akan menambah pemasukan. Dia terlalu polos dalam melihat semua itu. Peristiwa demi peristiwa hanya dianggap kebetulan, pun dengan niat Sherin yang menurutnya sekadar bentuk ucapan terima kasih. Padahal, ada sisi lain yang terselip di balik kejadian-kejadian hari itu.
______
Hampir jam satu dini hari, Novan baru tiba di rumah, dengan tubuh yang berkeringat, juga baju yang membawa aroma lain—wangi parfum Sherin. Entah parfum semahal apa yang Sherin pakai malam itu, mengapa wanginya menempel sempurna, padahal hanya sekilas mereka bersentuhan.
Novan sangat tidak nyaman dengan itu, terlebih saat masuk kamar dan melihat sang istri terlelap di atas ranjang dalam keadaan duduk, dengan buku yang terbuka di pangkuannya. Mungkin, tadi dia sempat menunggu. Namun, rasa kantuk begitu kuat sehingga tertidur sebelum sang suami tiba.
"Maafkan aku, Sayang. Aku nggak bermaksud pulang telat demi wanita lain. Aku cuma nolongin dia aja, nggak lebih," ujar Novan sambil merebahkan tubuh Tiara, sekaligus menyelimutinya.
Namun, gerakan Novan yang amat berhati-hati, ternyata tak mampu mempertahankan Tiara dalam lenanya. Usai diselimuti, mata wanita itu malah mengerjap pelan. Makin lama makin membuka sempurna.
Saat itu pula, aroma asing menyeruak dalam hidungnya. Wangi parfum yang cukup kuat, namun tidak menyengat. Terkesan mewah dan elegan, khas wanita. Di sela aroma itu, tercium juga bau keringat milik suaminya.
Meski diam saja, tetapi perasaan Tiara mulai tidak enak. Apalagi ketika melirik jarum jam yang menggantung di dinding, jarum pendeknya sudah menyentuh angka satu.
Bermacam dugaan mulai memenuhi pikirannya. Tentang aroma parfum wanita mana yang menempel di tubuh suaminya, juga apa yang dilakukan barusan sampai berkeringat begitu banyak. Tak mungkin jika hanya pekerjaan di kafe. Selama ini juga pernah lembur dan melayani pengunjung yang reservasi untuk acara, tetapi keringatnya tidak sampai sebanyak itu.
Sebenarnya apa yang terjadi?
"Sayang! Kamu ... beneran bangun? Nggak setengah mimpi, kan?" Novan bertanya sambil merapikan rambut Tiara yang berantakan.
"Kenapa?" Agak tertahan suara Tiara. Perasaannya bergejolak, makin lama makin membayangkan yang tidak-tidak. Pernikahannya yang baru hitungan hari, akankah berujung luka yang menyayat hati?
"Kalau kamu beneran bangun, aku mau cerita sesuatu. Kupikir ... lebih cepat kamu tahu, itu lebih baik. Aku nggak mau menyimpannya lama-lama."
__ADS_1
"Cerita apa?" Perasaan Tiara makin tak karuan.
Novan menarik napas panjang, "Sebenarnya, aku pulang telat ini karena tadi di jalan ada masalah. Aku ketemu orang yang sedang diganggu preman. Karena kasihan, aku berhenti dan menolong dia."
Tiara mengernyitkan kening. Belum terlalu percaya dengan cerita Novan, karena di wajah lelaki itu tak ada tanda-tanda bekas kelahi. Selain itu, gulat macam apa yang menyisakan wangi khas wanita?
"Orang yang kutolong itu wanita, dan tadi sempat ketakutan. Kupikir cuma nangis biasa, tapi ternyata langsung meluk. Aku terus mundur dan nenangin dia tanpa nyentuh lagi. Cuma ya ... rasanya nggak enak aja kalau nggak bilang sama kamu, Sayang," terang Novan.
Tiara meremas tangannya sendiri. Tidak tahu harus percaya atau tidak. Sejak cinta dan kepercayaannya pada Karel ternodai, dia sensitif dengan sesuatu yang menjurus pada perselingkuhan.
"Sayang, kamu nggak meragukan aku, kan?" Novan memegang kedua bahu Tiara. Agak takut jika istrinya itu tidak percaya.
Namun, menyembunyikan juga bukan hal yang baik bagi Novan. Sejak menjalin hubungan dengan Tiara, dia sudah berkomitmen untuk terbuka dalam hal apa pun. Menurutnya, kejujuran adalah poin utama yang harus ditegakkan.
"Aku ... aku___"
"Aku berani sumpah, Sayang, emang kayak gitu kejadiannya. Sebagai lelaki, aku nggak tega lihat wanita diganggu preman-preman. Itu bukan apa-apa, cuma sekedar rasa kemanusiaan aja," pungkas Novan.
Tiara masih diam.
"Kalau emang aja kejadian lain, aku nggak mungkin bilang apa-apa sama kamu. Pasti kusembunyikan aja semua, toh waktu aku pulang kamu juga udah tidur. Aku bisa kan langsung mandi dan mencuci baju ini untuk menghilangkan jejak." Novan bicara lagi.
Tiara memandang Novan cukup lama, mencoba mencari jawaban dari mata lelaki itu. Tidak ada kebohongan, hanya kekhawatiran yang tersirat di sana.
Lantas Tiara berpikir, membenarkan apa yang dikatakan Novan barusan. Jika niatnya memang buruk, tidak mungkin ia bicara apa-apa, dan pasti tidak seceroboh itu. Membawa aroma parfum sama saja dengan bu-nuh diri—jika niatnya memang main api.
"Aku percaya, Mas. Maaf ya ... barusan sempat ragu," ucap Tiara kemudian.
"Nggak apa-apa, Sayang. Kayaknya ... reservasi kayak gini emang nggak perlu kuterima lagi. Nggak baik juga ninggalin kamu malam-malam sendirian."
Tiara tersenyum simpul, "Ngomong-ngomong ... orang mana yang kamu tolong, Mas? Dia kenapa-napa nggak?"
Novan menelan ludah sebelum menjawab pertanyaan Tiara.
__ADS_1
Bersambung...