Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Meminta Maaf


__ADS_3

'Harap datang ke kantor polisi besok pagi, Pak Karel ingin bertemu dengan Anda. Tidak perlu takut, Anda akan selalu ada dalam pengawasan kami.'


Sebuah pesan yang dikirim oleh polisi, yang ternyata ada riwayat panggilan tak terjawab juga darinya.


Tiara menarik napas berat. Dia tak bisa menebak apa gerangan yang masih diinginkan Karel, mengapa ingin menemuinya segala. Padahal, di antara mereka semua hubungan harusnya sudah berakhir.


Karena tak ingin mengambil resiko, Tiara menolak dengan sopan mengenai permintaan Karel tersebut. Namun di luar dugaan, polisi mengatakan bahwa Karel benar-benar memohon untuk bisa bertemu dengannya. Polisi juga berjanji untuk menjamin keselamatannya.


"Baiklah, besok aku akan menemuinya dia dulu. Harusnya nggak apa-apa kan, ada banyak polisi di sana," ucap Tiara seorang diri.


Kendati demikian, ia tak bisa tidur malam itu. Pikirannya terus berkelana jauh. Menebak dan menduga niat Karel yang sebenarnya, karena tak mungkin lelaki itu memintanya datang tanpa ada hal yang sangat penting.


"Tapi, ini yang terakhir. Apa pun yang akan dia katakan besok, baik atau buruk, aku akan melupakannya. Dia hanya masa lalu yang salah, nggak perlu kubawa-bawa ke masa depan." Tiara bicara sambil memejam, berusaha tidur dan mengistirahatkan pikiran. Namun, gagal. Sampai larut malam berganti pagi, sepasang matanya tetap terjaga.


Dengan lesu, akhirnya Tiara bangkit dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi. Membersihkan diri yang rasanya begitu letih, maklum semalaman dia tidak tidur. Bahkan, kepala juga sangat sakit dan pening.


"Cukup Mama, Nak yang ngerasain ini, kamu jangan sampai. Kelak, Mama akan melalukan apa pun demi ketenangan dan kebahagiaan kamu," ujar Tiara sambil mengusap-usap perutnya.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Tiara untuk bersiap. Singkat saja dia sudah selesai dan siap pergi. Pun dengan perjalanan menuju kantor polisi, cukup hemat waktu karena Tiara memilih naik ojek.


"Silakan tunggu di sini, Bu Tiara! Kami akan memanggil Pak Karel."


Tiara menurut. Ia duduk di kursi yang telah disediakan dan menunggu salah seorang polisi memanggil Karel. Sementara satu polisi lagi, berdiri tak jauh dari Tiara.


Hanya dalam hitungan menit, lelaki yang pernah mengisi hatinya pun tiba di hadapan Tiara. Dengan senyum yang entah apa artinya, Karel duduk di depan Tiara.


Tak ada sapaan atau pertanyaan yang keluar dari bibir Tiara. Wanita itu sekadar menatap sebentuk tubuh yang tampak lebih kurus dari sebelumnya. Kedua tangannya berada di atas meja dalam keadaan diborgol, sementara matanya memandang dengan lekat.

__ADS_1


"Aku mau minta maaf atas apa yang pernah kulakukan dulu ke kamu. Aku tahu itu salah, dan aku sangat menyesali itu, Tiara," ujar Karel, membuat Tiara tertawa sumbang.


Bagaimana tidak, laki-laki yang sebelumnya seperti iblis, tiba-tiba meminta maaf dengan mimik yang memprihatinkan. Tiara sama sekali tak percaya, dia menganggap semua itu sekadar sandiwara.


"Aku sudah sadar apa salahku. Dan aku menerima hukuman yang dijatuhkan padaku ... hukuman 20 tahun penjara," sambung Karel.


Tiara mencengkeram ujung bajunya sendiri, demi menenangkan hati yang mulai bergolak.


"Jadi maksudmu kata maaf barusan agar aku membantumu meringankan hukuman? Maaf, Rel, sampai kapanpun itu nggak akan kulakukan, karena kamu nggak hanya membunuh mentalku, tapi juga hampir membunuh ragaku."


Tidak ada lagi simpati dalam diri Tiara. Ya, mana mungkin ada. Dia sudah hancur, sehancur-hancurnya, tak lain dan tak bukan akibat dari lelaki itu. Namun, ternyata jawaban Karel jauh di luar bayangan Tiara.


"Aku nggak akan meminta itu. Aku sadar, hukuman itu memang pantas untukku."


Tiara mengernyitkan kening, "Lalu apa tujuanmu menyuruhku kemari? Jangan bilang hanya untuk meminta maaf, alasan itu terlalu klise."


Tiara tak menyahut dan hanya menatap lama.


"Saat diinterogasi, polisi bertanya apa motifku menghancurkan keluarga Sherin. Mudah jawabannya, harta. Tapi, aku nggak bisa menjawab ketika polisi bertanya apa motifku melakukan ini ke kamu. Dulu, kupikir hanya naf-su yang membuatku bersikeras mempertahankan kamu. Tapi, bukan. Ada hal lain yang membuat kamu seperti candu bagiku."


Tiara kembali tertawa. Semua yang diucapkan Karel ibarat lelucon baginya.


"Terus ... kamu mau bilang kalau alasannya adalah cinta? Heh, cukup sekali aja, Rel, kamu membawa-bawa cinta untuk menipuku. Nggak usah diulang kedua kali, karena aku nggak akan jatuh lagi pada lubang yang sama."


Karel tersenyum. Dia sudah tahu jawaban Tiara akan seperti itu. Namun, siapa juga yang akan percaya. Sebelumnya dia begitu kejam, bahkan tega memaksa Tiara untuk melayaninya dengan kasar, lantas sekarang menyatakan cinta. Ya, memang seperti lawakan.


"Jika___"

__ADS_1


"Memang nggak masuk akal, tapi itulah faktanya. Beberapa hari di dalam kurungan, aku punya lebih banyak waktu untuk merenung. Memilah satu demi satu kenangan yang melibatkan kita. Aku dengan teganya mengkhianati Sherin, lalu dengan yakin membuangnya ketika harta sudah ada di tanganku. Dengan perempuan lain juga seperti itu. Aku nggak mikir dua kali untuk meninggalkan mereka, jika kurasa udah nggak menguntungkan. Tapi kamu ... berbeda. Aku sudah mikir berulang kali pun, nyatanya masih nggak bisa ninggalin kamu. Aku melakukan segala cara agar kamu tetap menjadi milikku," pungkas Karel.


Tiara membuang pandangan sambil mengibaskan tangan, sebagai ungkapan bahwa kalimat-kalimat tersebut dianggap omong kosong.


Sementara Karel hanya tersenyum tipis. Sangat maklum dengan segala bentuk penolakan yang diberikan oleh Tiara.


"Aku nggak maksa kamu percaya. Dengan kamu mau mendengar saja udah lebih dari cukup bagiku." Karel membuang napas panjang. "Sebelumnya aku memang nggak tahu apa itu cinta. Dari kecil aku hanya mengejar ambisi yang berhubungan dengan materi. Makanya, aku nggak langsung tahu ketika jatuh cinta sama kamu," lanjutnya.


Tiara diam.


"Aku tahu ini terlambat dan nggak akan mengubah apa pun, termasuk perasaanmu ke aku. Aku juga tahu udah nggak punya apa-apa untuk anak kita nanti. Tapi, dengan bicara gini, seenggaknya bebanku bisa keluar. Aku lega bisa jujur sama kamu," ucap Karel.


"Kamu pikir satu minggu cukup untuk merenung dan memahami perasaan? Heh, kamu itu hanya karena terpuruk, makanya mengatakan yang kayak gitu untuk mengambil simpati."


"Aku serius, Ra. Satu minggu ini benar-benar membuatku sadar."


"Sudahlah, simpan kata-kata itu untuk dirimu sendiri, aku nggak butuh lagi apa pun yang ada di kamu, termasuk yang berkaitan dengan anak ini. Karena sejak aku tahu kamu hanya mempermainkan aku, aku udah menganggap kamu mati." Tiara berucap demikian sambil bangkit dari duduknya. Lantas pergi meninggalkan Karel.


Dia bisa seberani itu karena ada polisi yang menemani, juga rencananya pindah jauh yang tak mungkin ditemukan lagi oleh Karel.


Namun, tanpa Tiara tahu, di posisi yang sama Karel terus menatap Tiara hingga menghilang di balik dinding. Senyumnya terkulum singkat. Anggapan Tiara sebentar lagi akan menjadi kenyataan.


"Katamu aku mati, itu benar, Ra. Hukuman yang kuterima bukan hanya 20 tahun penjara seperti yang kukatakan tadi, melainkan hukuman mati. Aku nggak tahu caraku memahami perasaan ini sudah benar atau belum. Tapi sejauh ini, kamulah satu-satunya wanita yang paling istimewa di hatiku, dan aku lega bisa minta maaf serta jujur sama kamu. Kalau memang ini pertemuan terakhir kita, seenggaknya aku udah nggak punya beban yang mengganjal lagi. Tiara, kamu wanita hebat. Aku percaya kamu bisa menjaga diri, juga menjaga anak kita dengan baik. Maafkan aku," batin Karel.


Lantas, dia tersenyum pada polisi, karena tadi mengizinkan dia menyembunyikan hukuman yang sebenarnya—setidaknya untuk sementara. Kemudian, dengan patuh Karel kembali masuk ke dalam sel.


Di tempat yang sepi dan dingin itu, renungan dan kenangan kembali bergantian memenuhi pikiran, mengikis habis sebuah dendam yang sebelumnya begitu membara.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2