Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Realita Tak Sesuai Ekspetasi


__ADS_3

"Sherin."


Satu nama yang keluar dari bibir Novan membuat Tiara tertegun dalam beberapa detik. Entah mengapa, perasaan makin berantakan ketika mendengar nama itu.


Apakah karena dia punya peran dalam masa lalu? Ataukah cemburu? Ataukah ada alasan lain selain dua hal itu?


Tiara tak punya jawaban yang pasti. Yang ia tahu hanyalah tidak nyaman dan tidak rela. Itu saja.


"Katanya, bisnis kelurganya itu sekarang dikembangkan dan membuka cabang di sini. Dia yang bertanggung jawab akan hal itu. Aku juga nggak tanya sejak kapan itu berjalan. Niatku cuma nolong, udah selesai ya udah. Soal lain nggak penting untuk kubahas. Aku nolong juga bukan karena dia Sherin, tapi karena rasa empati aja. Kalaupun itu orang asing yang sebelumnya nggak kukenal, aku juga akan tetap nolong," sambung Novan dengan panjang lebar.


"Dari semua tempat ... kenapa harus kota ini yang mereka pilih. Pantas aja, dulu aku melihat orang yang persis Mas Devan. Rupanya memang benar dia," ucap Tiara dengan lirih.


Novan makin merapatkan tubuhnya dengan sang istri. Lantas, menggenggam erat kedua tangan wanita itu seraya memberikan tatapan teduh. Berharap ada ketenangan yang bisa ia salurkan terhadap sang istri.


"Berdamailah dengan masa itu, Sayang. Nggak ada yang perlu kamu sesali, hingga membuatmu ingin terus lari. Percayalah ... semua orang pernah salah. Hanya saja ... jalannya yang berbeda-beda. Nggak perlu menghakimi diri sendiri. Kamu istimewa dengan segala yang pernah kamu lalui."


Tiara menunduk.


"Lagi pula, sekarang kamu punya aku. Jadi, nggak perlu khawatir meski bertemu dengan mereka. Sebagi lelakimu, aku nggak akan membiarkan seorang pun menghakimi kejadian dulu. Sudah menjadi janji dan tanggung jawabku untuk selalu menjagamu. Nggak akan ada luka selama ada aku. Percayalah," ujar Novan sambil menangkup pipi Tiara. Lebih manis karena diiringi dengan kecupan mesra di puncak kepala.


Damai dan nyaman, itulah yang Tiara rasakan sekarang. Kalimat dan sikap manis yang Novan ulurkan, mampu mengikis ketakutan yang sering bersarang dalam benak. Mengubahnya menjadi sesuai yang indah hingga menghadirkan senyum yang merekah.

__ADS_1


"Makasih banyak ya, Mas. Bersama kamu, aku selalu merasa aman." Tiara menyandarkan tubuhnya di pelukan Novan. Mencari kenyamanan sekaligus menghapus aroma parfum asing, menjadi aromanya sendiri.


Dalam hangatnya dekapan Novan, dia menyadari akan adanya perasaan cinta yang begitu kuat dalam dirinya. Bahkan lebih kuat dari cintanya terhadap Shaka ataupun Karel, pada masanya. Mungkin, memang Novan-lah cinta sejati yang direstui oleh takdir.


Saking kuatnya perasaan itu, Tiara sampai berbicara sendiri dalam hatinya, "Sherin, aku nggak tahu ini kebetulan atau bukan. Tapi yang jelas, aku nggak akan membiarkan kamu mendekati suamiku. Meski dulu aku mengganggu rumah tanggamu, tapi aku nggak rela jika sekarang kamu melakukan hal yang sama padaku. Nggak peduli mau kamu menyebutku egois atau nggak. Yang jelas aku nggak mau berbagi dirinya dengan siapapun."


"Ya sudah, tidur yuk! Udah dini hari," ujar Novan setelah cukup lama memeluk Tiara.


Tak ada protes dari Tiara, karena sesungguhnya dia juga masih dihinggapi rasa kantuk. Dan lagi, pelukan juga tidak luput meski mereka bersiap tidur. Karena sudah menjadi kebiasaannya, tidur dengan berbantalan lengan Novan sambil masuk dalam dekapan dada bidang itu.


Sementara hal berbeda terjadi di tempat lain, tepatnya di apartemen milik Sherin. Di dalam kamar yang mewah itu, tak ada kata tidur nyenyak seperti halnya di kediaman Novan.


Wanita cantik yang kala itu masih mengenakan rok dan kemeja pendek, sedari tadi hanya berguling di atas ranjang. Sesekali memeluk bantal, sesekali pula melihat ponsel. Tak ada aktivitas berarti yang ia lakukan.


Sherin bangkit dan mengumpat seorang diri. Tidak terima dia dengan perlakuan Novan tadi, yang begitu mudahnya mundur dan melepaskan pelukan. Memangnya kenapa? Dia cukup cantik, bahkan lebih cantik dari Tiara. Dia menarik, bahkan lebih menarik dari pelakor itu. Harusnya Novan bangga dong mendapat pelukan darinya. Harusnya dimanfaatkan dengan baik, kan, bukan malah dilepaskan dalam waktu singkat.


"Apa mungkin ... dia masih enggan sama aku, masih marah gitu?" ucap Sherin lagi.


Namun, untuk kesekian kali tak ada jawaban dari setiap tanya yang ia lontarkan. Bahkan, alam saja enggan menanggapi. Terbukti dari deru angin yang memilih diam. Mungkin, ikut tidur seperti insan kebanyakan. Ya ... Sherin pun seharusnya juga tidur, kan?


Sayangnya, tidak. Alih-alih berusaha memejam, dia malah meraih ponsel dan mencari kontak seseorang—Juna.

__ADS_1


Dia ceritakan apa yang terjadi pada pertemuan yang telah diatur tadi, mulai dari Novan yang menolak pelukan, sampai obrolan yang cepat-cepat diakhiri.


'Menurutmu ... apa dia masih marah padaku, makanya bersikap kayak gitu?'


Tulisnya, usai bercerita panjang lebar. Sejak sepakat kerja sama kemarin, hubungannya dengan Juna memang lebih akrab. Tidak secanggung waktu pertama kali bertemu.


'Menurutku alasannya bukan itu.'


Balasan Juna membuat Sherin mengernyit heran.


'Lantas?'


'Dia sangat mencintai Tiara. Seperti yang kukatakan tempo hari, cintanya untuk Tiara nggak main-main. Dan dia juga tipe lelaki yang setia. Pasti sulit menggodanya.'


Tak cukup satu kali Sherin membaca pesan itu. Berulang-ulang, bahkan nyaris hafal. Bukan tersinggung, bukan pula marah, melainkan teringat pada masa lalunya sendiri.


Karel Adiguna, lelaki yang pernah menjadi suaminya, namun selingkuh dengan banyak wanita. Kini, Sherin dihadapkan dengan lelaki yang 'katanya' setia. Benarkah, Novan sesetia itu?


"Aku nggak percaya aku nggak bisa menaklukkan dia. Ini cuma tentang waktu aja. Baru pertama mencoba, wajar lah gagal. Kedua dan ketiga, aku yakin dia akan tergoda olehku," ujar Sherin. Ia makin tertantang dengan predikat setia yang 'katanya' dimiliki Novan.


Malam itu, realita terbalik dari ekspetasi. Niat hati membuat Novan galau karena memikirkannya, tetapi ternyata malah dirinya yang tak bisa tidur karena memikirkan Novan. Ahh, semoga saja hasil akhir tidak berbalik seperti sekarang. Niat hati membuat Novan jatuh cinta padanya, nanti malah dirinya yang jatuh cinta pada Novan. Jangan sampai! Terlalu runyam jika itu terjadi!

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2