
Siang dan malam yang silih berganti, menggulir hari menjadi minggu. Mengantar waktu pada pernikahan Juna dan Sherin, yang digelar langsung di kediaman mempelai wanita.
Novan dan Tiara pun sudah berada di Surabaya saat ini, tepatnya siang tadi mereka tiba di sana. Keduanya memesan hotel yang tak jauh dari lokasi, sekalian untuk tempat istirahat sebelum berangkat.
Kini, usai membersihkan diri bersama, Novan dan Tiara mulai bersiap-siap. Tiara mengenakan gaun longgar nan panjang. Warnanya merah maroon, sangat cocok dengan kulit putihnya. Sementara rambut disanggul rapi dengan sedikit aksesori di bagian samping, sangat anggun. Kecantikan parasnya terpancar sempurna meski perut sudah membuncit.
Sedangkan Novan, ia mengenakan celana dan kemeja putih yang dipadukan dengan jas maroon, senada dengan gaun yang dikenakan sang istri. Walaupun keduanya sekadar tamu undangan, pastilah ada banyak pasang mata yang mencuri pandang ke arah mereka.
"Sangat cantik. Penginnya nggak usah pergi aja deh," goda Novan sambil memeluk Tiara dari belakang, sekaligus menciumi lehernya yang jenjang.
"Memangnya kalau nggak pergi mau ngapain?" Tiara menanggapi rayuan suaminya dengan bibir yang mengulas senyum lebar.
"Menurutmu?" bisik Novan, tepat di telinga Tiara. Saking dekatnya, Tiara sampai merasakan sentuhan hangat bibir Novan di ujung telinganya.
Karena geli, Tiara menggeliat dan menjauhkan kepalanya. Lantas, melonggarkan pelukan dengan tawa yang renyah.
"Udah, ayo berangkat! Malah nggak jadi nanti kalau begini aja," ucapnya.
Meski dalam hati ingin berlama-lama dengan Tiara—berdua saja, namun Novan sadar bahwa mereka harus segera pergi.
__ADS_1
Akhirnya, Novan menggandeng tangan Tiara dan mengajaknya berangkat menuju ke tempat Sherin. Dengan menggunakan taksi, tak membutuhkan waktu lama bagi mereka untuk tiba di tempat tujuan.
"Wow!" Tiara berdecak kagum ketika sampai di lokasi, dan disambut dengan dekorasi yang indah.
Novan pun turut terpukau dibuatnya. Pesta kali ini, terlihat lebih indah dibandingkan dengan pesta pernikahan Sherin dan Karel dulu.
Akan tetapi, kekaguman yang tersimpan dalam hati masing-masing tidak berlangsung lama. Setelah kaki melewati pintu dan ikut berbaur dengan tamu yang lain, rasa tak tenang perlahan hinggap di hati keduanya.
Tak dipungkiri, Novan juga agak gelisah ketika membayangkan bahwa sebentar lagi akan bertatap muka dengan Devan. Bagaimana kiranya sikap lelaki itu nantinya?
Menatap sinis ataukah berlagak seperti tidak ada apa-apa? Ahh, entahlah.
"Silakan! Silakan!"
Novan dan Tiara kompak mengulas senyum manis. Lantas, saling mengeratkan genggaman dan melangkah lebih masuk lagi.
Sampai kemudian, keduanya tiba di tempat Juna dan Sherin. Novan pun mengucapkan selamat untuk sahabatnya tersebut, lalu diikuti oleh Tiara yang juga melakukan hal yang sama kepada Sherin.
Tak sampai di situ saja, Devan, Alina, dan Dewi pun turut menyalami Novan dan Tiara. Meski tidak ramah seperti orang-orang pada umumnya, tetapi sikap mereka terhitung baik. Mengingat sebelumnya, hubungan mereka putus dengan alasan yang buruk.
__ADS_1
"Tiara, ikut aku sebentar," bisik Dewi di sela-sela obrolan.
Tiara agak ragu. Namun, akhirnya setuju dan mengikuti langkah Dewi yang membawanya keluar dari hiruk-pikuk itu.
"Ada apa, Tante?" tanya Tiara ketika Dewi sudah menghentikan langkahnya, tetapi belum jua bicara.
"Tante ingin membahas lalu, mengenai hubunganmu dengan Shaka," jawab Dewi sambil menghela napas panjang.
Tiara mengernyitkan kening sesaat, lalu tertawa renyah setelah berhasil menenangkan hatinya sendiri.
"Aku udah bersama Mas Novan sekarang. Dan masalah itu, kupikir juga udah selesai sejak lama. Jadi, harusnya nggak perlu diungkit lagi, Tante."
Namun, Dewi tak mengindahkan kata-kata Tiara barusan. Alih-alih menyudahi pembicaraan, ia malah mengambil sesuatu yang pasti akan memperpanjang pembahasan.
"Lihat ini!" Dewi bicara sambil menyerahkan selembar kertas kepada Tiara.
Dengan agak ragu dan bingung, Tiara menerimanya. Lantas, membuka lipatannya dan membaca satu per satu huruf yang tertera di sana.
"Ini ... Mas Shaka, nggak mungkin!" batin Tiara. Sama sekali tak mempercayai apa yang dia lihat dengan mata kepala sendiri.
__ADS_1
Bersambung...