
Setelah lima tahun lamanya merasa sedih setiap kali menatap hujan, kali ini Tiara merasa berbeda. Hujan yang turun pada malam itu tidak membawa kesenduan seperti yang sudah sudah, tapi justru membawa kebahagiaan yang membuatnya tersenyum.
Semua bermula dari keromantisan Novan beberapa menit lalu, yang begitu manis menyatakan cinta sekaligus melamar dengan cincin indah. Untuk kesekian kalinya Tiara menggenggam cincin yang sudah tersemat di jarinya itu, dengan perasaan yang berbunga-bunga tentunya.
"Mudah-mudahan ini menjadi awal yang baik dalam hidupku. Setelah dulu gagal membina hubungan dengan Mas Shaka. Sekarang, aku nggak akan bodoh kayak dulu lagi," ucap Tiara sambil mengulas senyum simpul.
Sejenak Tiara menatap suasana luar dari balik jendela, hujan turun makin deras saja. Tiara jadi teringat tadi, dirinya dan Novan berlarian di bawah gerimis. Sesekali tangan lelaki itu menggenggam hangat jemarinya, seolah memberikan kenyamanan yang sekian lama tak pernah ia dapatkan.
"Aku menaruh harapan besar padamu, Mas," ucap Tiara lagi, dengan pikiran yang masih tertuju kepada Novan.
Pikiran itu pun terus bertahan sampai Tiara selesai membersihkan diri dan bersiap tidur. Dalam keadaan yang sudah telentang, Tiara masih saja mengusap-usap cincinnya, sekaligus membayangkan bentuk rupa dari sang pemberi cincin itu.
"Terima kasih, Mas," batin Tiara sebelum memejam.
Ia sangat bersyukur dipertemukan dengan Novan yang sekarang, seseorang yang bisa mencintainya tanpa mempermasalahkan masa lalunya. Sungguh anugerah yang luar biasa.
Bahkan, saking istimewanya apa yang diberikan Novan, Tiara sampai tak gentar meski ada kabar yang cukup besar, yakni kematian Karel. Malah menurut Tiara, ada bagusnya Karel mati, karena ke depannya dia tak perlu berurusan lagi dengan lelaki iblis itu. Sudah cukup sekali, jangan ada kedua atau ketiga kali.
Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Di salah satu sudut Kota Surabaya, Devan dan keluarganya sedang berbincang di ruang tengah. Ada Alina, Dewi, dan juga Sherin, mereka membahas pembangunan kantor cabang yang akan didirikan di Kota Malang.
"Dari segi tempat udah bagus, lapang dan strategis. Menurutku itu sangat cocok untuk membangun kantor cabang kita, Ma," ujar Devan, melaporkan peninjauannya kemarin, yang datang langsung ke Malang dan memeriksa sendiri tempat tersebut.
"Mama ikut saja. Kalau menurutmu bagus, lanjutkan. Mama tahu kamu bisa memilih yang terbaik untuk bisnis keluarga kita, Van," sahut Dewi.
"Kalau nanti Mas Devan nggak bisa ngurus di sana, biar aku aja, Mas. Bian bisa di rumah sama Mama, nanti aku pulang secara berkala. Malang-Surabaya juga nggak begitu jauh kok." Sherin ikut menimpali.
Dalam lima tahun terakhir ini dia memang fokus pada karier. Belum sekali pun terlintas niat untuk menjalin hubungan lagi dengan lelaki. Dia masih trauma atas apa yang pernah Karel lakukan padanya.
__ADS_1
Makanya, dengan mudah Sherin menawarkan diri untuk mengurus bisnis di Malang nanti. Karena dia tahu, Devan tak mungkin melakukan itu. Selain sambil mengurus usaha pribadinya, sekarang Devan juga disibukkan dengan anak asuhnya, yang masih berusia enam bulan. Sherin tak ingin menggangu kebahagiaan kakaknya itu.
"Kamu nggak apa-apa nanti ngurus yang di sana? Jauh dari Bian?" tanya Devan, memastikan kesungguhan adiknya.
Sherin menggeleng, "Nggak apa-apa, Mas, toh Bian juga nyaman-nyaman aja sama Mama."
Devan mangut-mangut, membenarkan apa yang dikatakan Sherin.
"Ya sudah, kalau gitu nanti aku ngomong ke kantor. Biar secepatnya diurus."
Alina, Sherin, dan Dewi, sama-sama menanggapi dengan anggukan dan senyuman. Ketiganya merasa bangga pada Devan, yang benar-benar layak dijadikan panutan.
________
Dua minggu telah berlalu sejak Novan melamar Tiara. Dalam kurun waktu itu pula Novan makin gencar membuktikan keseriusannya. Tak hanya cincin yang ia sematkan tempo hari, melainkan kini juga mempersiapkan pernikahannya.
"Jadi besok kan ke Surabaya? Nanti aku bantu izin sama Om Bagas dan Tante Nimas," ujar Novan pagi itu, ketika keduanya berjalan beriringan menuju butik dan kafe.
"Pak Bagas sih pasti ngasih izin, tapi___"
"Kenapa lagi? Masih kepikiran sama paman dan bibimu?" Novan menggenggam tangan Tiara dengan erat. "Serahkan padaku, aku yang akan ngomong sama mereka. Nggak peduli semarah apa mereka sama kamu, aku akan melindungimu dengan baik. Nggak akan kubiarkan seorang pun menyakitimu, sekalipun itu paman atau bibimu," lanjutnya.
Tiara tak memberikan jawaban sepatah kata pun, sekadar senyum singkat yang ia ulas di bibirnya.
"Bukannya aku ingin menempatkanmu dalam posisi sulit. Hanya saja ... kita akan menikah. Selagi ada keluarga yang memiliki hubungan darah, sudah sepantasnya kita meminta restu pada mereka. Kalaupun nanti mereka menolak, itu terserah, yang penting kita udah berniat baik," sambung Novan tanpa melepaskan genggamannya.
"Iya, aku ngerti. Aku nggak akan ragu lagi untuk ke sana." Tiara mengangguk yakin. Bersama Novan, sepertinya ia tak perlu mengkhawatirkan apa pun. Lelaki itu bisa diandalkan dalam segala hal.
__ADS_1
Obrolan dan rencana singkat itu pun terealisasikan keesokan harinya. Dengan mengantongi izin dari Bagas dan Nimas, keduanya berangkat ke Surabaya. Sejak pagi mereka berangkat, dan hampir tengah hari tiba di rumah Seno.
Hati Tiara bergetar sesaat ketika turun dari angkot dan melihat halaman rumah yang menjadi saksi bisu masa kecilnya. Begitu banyak kenangan yang terukir di sana, mulai dari yang manis sampai yang pahit.
Masih tergambar jelas dalam ingatan Tiara, ketika dirinya menangis saat mendapat kabar Shaka kecelakaan. Lantas, tangis tertahan ketika dirinya dipaksa pergi dari rumah itu.
"Semua akan baik-baik saja, percayalah!" Lagi-lagi Novan yang menenangkan Tiara. Tampaknya lelaki itu selalu tahu setiap luka yang menghampiri, sehingga begitu sigap mengobatinya dengan perlakuan manis.
"Aku nggak tahu Paman ada apa nggak. Dulu ... biasanya jam segini masih kerja," ujar Tiara mengalihkan pembicaraan.
"Kita coba aja dulu."
Tiara mengangguk, kemudian melangkah memasuki halaman rumah Seno. Pintu utama terbuka lebar, namun entah siapa yang menyambutnya nanti.
Lima tahun bukan waktu yang sebentar. Selama itu dia tak pernah menginjakkan kaki di sana, sudah tentu banyak hal yang berubah.
"Permisi!"
"Iya, sebentar!"
Novan mengeratkan genggamannya ketika mendengar sahutan dari seorang pria, yang ia yakini adalah paman Tiara.
Benar saja, yang pertama keluar dan menyambut adalah Seno. Pria itu memicing ketika menyadari siapa gerangan yang datang, Tiara, keponakan yang pernah mencorengkan aib untuknya.
"Kamu," gumam Seno.
"Kami datang ke sini untuk meminta restu dari Anda, sebagai keluarga terdekatnya Tiara. Saya berniat menikahi Tiara bulan depan," sahut Novan, langsung mengutarakan maksud kedatangannya.
__ADS_1
Bersambung...