Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Entah Apa


__ADS_3

"Tenanglah, pasti ada jalan untuk kamu dan juga anakmu. Aku aja ... juga cukup sabar kok. Meski harus menghabiskan banyak waktu di kurungan, tapi aku berusaha baik-baik aja. Setiap perbuatan pasti ada konsekuensinya, dan berani menanggung konsekuensi itulah yang membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik."


Tiara menarik napas panjang. Lantas, membiarkan lelaki yang tak lain adalah Novan, duduk di sampingnya. Dengan ditemani polisi tentunya.


"Kalau harus menyesal, aku juga sangat menyesal. Devan adalah sahabat terbaikku, tapi malah kukhianati kayak gini." Novan memejam sembari menghela napas berat, "Kalau saja waktu bisa diputar, aku akan meminta Tuhan untuk mengembalikanku pada waktu itu, ketika Devan terang-terangan menolak Nala. Harusnya aku menasihati adikku dan mengarahkan dia pada jalan yang benar, bukan malah mendukung dan menyesatkan dia kayak gini," lanjutnya.


Meski tidak menyahut, tapi Tiara menatap Novan dengan lebih lekat. Ia mengamati setiap guratan penyesalan yang ada di wajah lelaki itu. Sorot mata, ucapan, serta bahasa tubuh, semua menunjukkan betapa besar sesal yang ia simpan. Tanpa dijelaskan pun Tiara sudah sadar akan hal itu.


Sementara di sisi lain, penyesalan yang Novan rasa jauh lebih besar dari yang Tiara bayangkan. Bagaimana tidak, gara-gara kebodohannya sekarang Nala kehilangan masa depan. Kesuciannya terenggut begitu saja tanpa ada tanggung jawab. Sedangkan nanti, pastilah Nala akan berjuang sendiri demi menyambung hidup, karena dirinya harus menghabiskan beberapa waktu di penjara.


Selain itu, dia telah kehilangan sosok sahabat sekaligus partner bisnis yang tidak mungkin ada duanya.


Ya, terkadang manusia memang sebodoh itu.


"Mas!" Panggilan dari seorang wanita yang baru tiba membuyarkan pikiran Tiara dan Novan. Keduanya pun kompak menoleh dan mendapati Nala sudah berdiri di belakang mereka.


"Nala, kamu___"


"Aku nggak akan membiarkan Mas Novan menanggung semua ini sendiri. Meski aku nggak terlibat langsung dalam penggelapan uang itu, tapi aku juga ikut memakan hasilnya. Selain itu, karena aku juga Mas Novan jadi punya dendam sama Mas Devan, dan ... berakhir kayak gini. Aku cuma mau mengupas habis semua masalah, termasuk ancaman Karel terkait foto-fotoku yang nggak pantas. Kalau memang aku juga harus menanggung sanksi, aku terima. Yang penting, nggak ada satu pun tindakan Karel yang luput dari pemeriksaan." Nala memungkas ucapan Novan yang belum tuntas.


Novan terdiam seketika. Sejak kemarin, dia sudah menyuruh Nala untuk diam dan tidak ikut campur masalah itu. Bukan karena tidak ingin mengungkap perbuatan buruk Karel terhadap adiknya, melainkan karena tak ingin adiknya ikut terlibat kasus penggelapan uang dan berakhir di bui. Tidak. Dia sudah menjadi kakak yang buruk. Kalau bisa, jangan lagi membuat adiknya dalam posisi sulit.


Belum sempat Novan menyanggah lagi soal keputusan Nala, tiba-tiba derap langkah sudah mendekat ke arah mereka. Tiara, Nala, dan juga Novan, spontan menoleh ke sana. Satu sosok yang mencuri perhatian mereka adalah Karel. Tatapan tajam dari lelaki itu begitu menakutkan, seakan siap menelan mereka hidup-hidup.


Berbeda dengan Nala dan Novan yang sedikit tenang, Tiara sangat ketakutan kala itu. Mengingat sikap dan kekuasaan Karel selama ini, Tiara khawatir jika nanti lelaki itu bisa berkilah dan lolos dari jerat hukum. Andai itu terjadi, habislah dia.

__ADS_1


Ibarat kata, dia sedang bertaruh dengan keadaan. Mengambil satu pilihan yang beresiko tinggi demi mengejar setitik harapan. Ia lakukan itu karena diam pun, diri akan semakin hancur.


"Ada hukum yang akan mengendalikan dia, kamu nggak perlu takut lagi. Dengan semua bukti yang kita punya, mustahil dia bisa lolos," bisik Novan sambil menggenggam tangan Tiara, mencoba menenangkan wanita yang sedang tidak baik-baik saja mentalnya.


Tiara tak menanggapi sedikit pun. Bibirnya tetap mengatup rapat, kepala pula tetap menunduk demi menghindari tatapan Karel dan yang lainnya.


Sementara itu, Karel makin menunjukkan gurat kebenciannya. Jika tadi dia sudah memikirkan alasan terkait masalah Dewi dan Tiara, kini ia dihadapkan dengan masalah baru, yakni Novan.


Lelaki yang beberapa waktu lalu dilaporkan sudah meninggal tanpa jejak, kini tampak bugar di hadapannya. Dan keberadaan dia di kantor polisi ini, pastilah untuk mengungkap tindak kejahatan yang melibatkan dirinya.


"Jika Novan masih hidup, berarti ada yang nggak beres dengan orang yang kupercaya. Bisa jadi dia juga berkhianat seperti sopir sialan itu. Brengsek! Siapa yang mengajari mereka untuk melawan?" batin Novan berapi-api. Tak pernah terpikir olehnya bahwa orang-orang yang kelihatan tunduk dan patuh, nyatanya menusuk dari belakang.


Tak terkecuali Tiara, wanita yang dia anggap sudah ada dalam genggaman, nyatanya berani memberontak dan mengumbar semua yang ia lakukan. Menyebalkan!


"Kalian akan menanggung akibatnya! Aku tidak akan tinggal diam!" sambung Karel, masih dalam batinnya.


Antara yakin dan tidak, Karel tetaplah bermimpi untuk bebas dan memutarbalikkan keadaan.


__________


Beberapa jam lamanya, polisi memeriksa Karel. Mengupas tuntas semua tindak kriminal yang pernah ia lakukan. Bahkan, tindakan yang ia pikir sudah terpendam lama dan tidak akan ketahuan, hari itu diangkat juga. Ternyata, pengkhianat yang menjilat padanya jauh lebih banyak dari yang ia bayangkan.


"Iya, saya yang merencanakan kecelakaan itu."


Karel terpaksa mengaku ketika polisi mengungkit kecelakaan yang menimpa Shaka. Meski orang suruhannya sudah dilenyapkan, tapi ternyata masih ada orang lain yang menyimpan bukti itu. Dan sialnya, saat ini bukti serta saksi berhasil ditemukan oleh Devan. Jadi, tak ada kesempatan bagi Karel untuk mengelak.

__ADS_1


Bahkan selanjutnya, Karel juga mengakui tindakannya terhadap Tiara, Nala, dan juga Novan. Ia mengaku bahwa selama ini sering meniduri Tiara dan anak itu juga anaknya. Meski awalnya suka sama suka, tapi Karel mengaku jika akhir-akhir ini memaksa dan mengancamnya. Pun dengan Nala, Karel juga mengakui perbuatannya.


Sedangkan penggelapan uang yang ia lakukan dengan Novan, Karel juga mengakui buntut panjang dari masalah itu, yakni niatan untuk melenyapkan Novan.


"Selama ini, sudah banyak orang yang Tuan Karel lenyapkan dengan alasan untuk menutup mulut mereka. Sedangkan untuk Novan, itu dipercayakan pada saya. Namun, saya tidak berani melakukannya. Dan akhirnya, saya bekerja sama dengan Novan untuk mengungkap masalah ini," tutur pria yang dipercaya untuk menghabisi Novan.


Tangan Karel mengepal ketika mendengar jawaban itu. Makin ke sini, satu per satu tindakannya terkupas habis. Nyalinya pun mendadak ciut, takut jika akhir cerita tak ada jalan untuk membela diri.


"Saya diperintahkan untuk melenyapkan Nyonya Dewi. Saya juga tahu rencana dia selanjutnya, yang akan menyingkirkan Tuan Devan dan Nona Sherin." Pengakuan dari sopir pribadi Dewi makin menyudutkan Karel.


"Harta."


Satu kata yang keluar dari mulut Karel ketika ditanya tentang motif dari semua perbuatannya.


Polisi mengangguk. Alasan yang cukup masuk akal untuk mendorong seseorang melakukan tindak kejahatan. Namun, ada satu hal yang masih mengganjal.


"Apa itu juga berlaku untuk kejahatan yang kau lakukan terhadap Tiara?"


Sampai di sini, Karel terdiam. Pertama kali dia melihat Tiara, memang tertarik. Jiwa kelelakiannya bangkit saat melihat paras cantik juga bentuk tubuh yang ideal dalam diri Tiara. Dia juga punya alasan lain, yaitu karena Tiara pasangan Shaka. Jika dirinya bisa menaklukkan Tiara, ke depannya pasti mudah menghancurkan Shaka.


Namun, ketika Shaka sudah lenyap lebih dulu, nyatanya ia masih tak melepaskan Tiara. Baik melepas secara wajar, ataupun menghilangkannya secara sadis. Akan tetapi, dirinya tak melakukan itu, malah bersikeras mempertahankan Tiara di sisinya. Apakah karena anak? Sepertinya tidak, buktinya dia juga bisa tega kepada Sherin.


"Atau kau punya motif lain?" tanya polisi, lagi.


Karel masih membisu. Bukan tidak mau mengaku, melainkan dia sendiri juga tak paham apa alasan yang sebenarnya. Terlebih lagi, kata-kata cinta dari Tiara yang pernah diungkap dulu, begitu nyata memenuhi ingatannya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2