
"Ada apa, Pa?"
Suara Juna yang lebih dulu terdengar ketika ia berhadapan dengan ayah sambungnya.
"Papa mau membahas soal butik." Bagas menatap Juna sejenak, menunggu reaksi dari lelaki itu. Ternyata, tidak ada tanggapan selain kening yang mengernyit.
"Seperti yang kamu tahu, Papa tidak punya anak, dan kamulah satu-satunya anak Papa. Sekarang kamu sudah mau menikah, jadi sudah saatnya kamu mengelola butik itu," sambung Bagas.
Juna terkejut. Sejauh ini ia tak pernah memikirkan butik tersebut. Kendati Bagas tidak punya anak, tetapi adik dan keponakannya cukup banyak. Lebih pantas mereka yang mendapatkan itu, dari pada dirinya yang sama sekali tidak ada hubungan darah.
"Nggak, Pa. Aku nggak bisa menerima itu." Setelah menimang beberapa saat, Juna memutuskan untuk menolak.
"Kenapa?" tanya Bagas. "Mungkin itu memang nggak sebanding dengan harta milik Sherin. Tapi, itu bisa menjadi modal untuk pernikahanmu nanti."
Juna menggeleng, "Aku nggak berhak, Pa. Aku___"
"Apanya yang nggak berhak?" pungkas Bagas.
"Sekarang aku memang anak Papa, tapi kita nggak ada hubungan darah. Butik itu milik Papa seorang, bukan milik Mama juga. Adik atau keponakan Papa-lah yang lebih berhak, bukan aku," jawab Juna.
Bagas tersenyum, lantas menepuk punggung Juna dengan pelan.
"Butik itu Papa sendiri yang merintis, nggak ada campur tangan saudara. Nimas adalah istriku, dan kamu adalah anakku. Kandung ataupun sambung, kamu tetap saja anakku. Aku punya tanggung jawab penuh untuk hidup kalian."
Juna masih diam.
__ADS_1
"Jujur saja, Papa dan mamamu memang berharapnya hanya padamu dalam menitipkan masa tua kami nanti. Mau ke mana, adik dan keponakan sudah punya keluarga sendiri-sendiri," sambung Bagas.
Juna menghela napas panjang. Berpikir dan menimbang dengan bimbang, agak sulit menjatuhkan pilihan yang tepat.
"Juna!" panggil Bagas karena cukup lama tak ada jawaban.
Juna mengangguk pelan, "Baiklah, Pa. Aku mau."
Bagas tersenyum lebar, lega rasanya karena Juna sudah menerima apa yang akan ia beri. Secara tidak langsung, hubungan kekeluargaan mereka terjalin makin erat.
Di sisi lain, Juna juga merasa lega. Tak dipungkiri, ia pun memang membutuhkan modal untuk menikahi Sherin. Meski wanita itu tak pernah mempermasalahkan status sosialnya, tetapi akan lebih baik jika dirinya bisa mengimbangi—meski hanya sedikit.
"Ya sudah. Kita bersiap-siap sekarang. Malam ini, kan, kita ke rumah Sherin?" ujar Bagas.
"Iya, Pa." Juna mengangguk. Lantas, keduanya bangkit dan mulai bersiap-siap untuk bertandang ke rumah calon besan.
Satu bulan setelah mendengar kabar bahwa lamaran Juna disambut baik oleh keluarga Sherin, hari itu justru Novan dan Tiara yang terkejut.
Bagaimana tidak, Juna tiba-tiba datang sambil membawa undangan, yang katanya langsung dari Dewi.
"Tante Dewi ngundang kami? Kamu serius?" tanga Tiara sembari mengamati secarik undangan yang belum lama ia terima.
"Iya. Bahkan, katanya Mama Dewi sangat berharap kamu bisa datang, Ra." Jawaban Juna sangat membingungkan.
Bagaimana mungkin, seseorang yang dulu sangat membencinya, sekarang malah mengundangnya. Agak sulit dipercaya.
__ADS_1
Tiara menggeleng-geleng,"Ini pasti salah. Tante Dewi benci banget sama aku, dan pasti sama Mas Novan juga. Jadi ... nggak mungkin lah."
"Kamu yakin ini udah jujur?" timpal Novan, yang juga tidak percaya dengan ucapan Juna. Kalaupun mereka tidak mempermasalahkan pertemanannya dengan Juna, tetapi untuk mengundang dalam acara resmi mereka ... agak mustahil.
"Ya jujur lah, Van. Untuk apa juga aku bohong?" Juna menjawab sambil mengeluarkan ponselnya. "Nih, nomornya Sherin. Coba kamu telfon sendiri," lanjutnya seraya menyodorkan ponsel tersebut kepada Tiara.
Tanpa banyak kata, Tiara juga mengambil ponselnya. Lalu, menyalin nomor tersebut dan membawanya menjauh dari Juna dan Novan.
Setelah tiba di kamar, Tiara bergegas menghubungi nomor itu. Saking tidak percayanya, Tiara sampai nekat melakukannya.
Hanya butuh lima detik, telepon pun terhubung. Suara Sherin menyambutnya dari seberang.
"Halo, ini siapa?"
"Calon suamimu datang ke sini dan memberi kami undangan. Apa itu benar dari ibumu?" tanya Tiara tanpa basa-basi. Bahkan, ia sampai tidak memperkenalkan diri. Namun, Tiara yakin Sherin langsung paham siapa dia.
"Iya. Mama berharap kamu dan Novan datang ke pernikahanku nanti."
"Kenapa?"
"Datang saja. Nanti kamu juga akan tahu apa alasan Mama."
Usai menjawab demikian, Sherin langsung memutus sambungan telepon secara sepihak. Sementara Tiara, cukup lama tertegun dengan pikiran yang menjelajah ke segala arah. Bermacam dugaan bermunculan, membimbangkan perasaan yang semula sudah tenang.
'Kenapa?' Sebuah tanya yang berulang kali menghantui, namun tak jua ada jawaban yang pasti.
__ADS_1
Bersambung...