Mutiara Yang Ternista

Mutiara Yang Ternista
Kembalinya Hubungan Baik


__ADS_3

"Aku mengerti, mungkin ini memang terlalu cepat sehingga sulit untuk dipercaya. Tidak apa. Kalian bisa memikirkannya pelan-pelan, apa yang kukatakan ini benar-benar nyata atau hanya sandiwara." Dewi bicara lagi, sebelum Tiara dan Novan mengucap satu kata pun.


"Ya sudah, ayo kembali ke sana. Kalian belum menikmati jamuannya, kan?" ucap Dewi lagi, disertai senyuman yang begitu lebar. Sampai-sampai Tiara keheranan dibuatnya.


Namun, Tiara dan Novan tidak melayangkan protes. Keduanya sekadar menanggapi dengan anggukkan dan senyum kaku. Lalu, mengikuti langkah Dewi yang mengajaknya kembali berbaur dengan para tamu.


Setelah itu, tidak ada sesuatu yang terjadi lagi. Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. Devan berbincang dengan rekan kerja, Juna dan Sherin menyalami para tamu, sedangkan Tiara dan Novan menikmati hidangan yang telah disediakan.


Hal itu terus berlanjut sampai jarum jam menunjukkan angka 10.00 malam. Satu-dua tamu mulai pamit undur diri, tak terkecuali Novan dan Tiara. Dewi tetap ramah seperti tadi, pun dengan Devan. Meski tidak ada candaan, tetapi dia mau menyapa Novan. Sikapnya jauh lebih baik dibanding sambutan di awal tadi.


"Ucapan maaf dari Tante Dewi, kira-kira ... beneran nggak ya?" gumam Tiara ketika sudah berada di dalam taksi.


"Entahlah."

__ADS_1


Tiara mengembuskan napas panjang. Agak sulit baginya untuk menceritakan apa yang tadi Dewi katakan padanya, mengenai penyakit Shaka. Bukan bermaksud menyembunyikan apa pun dari Novan, hanya saja kenyataan itu terlalu mengejutkan untuk diungkap sekarang.


"Kamu memikirkan sesuatu? Apa tadi Tante Dewi ada ngomong apa-apa sebelum aku datang?" tanya Novan. Sedari tadi ia menangkap gerak-gerik aneh dari Tiara, dan ia yakin pasti ada sesuatu yang tidak ia tahu.


"Sebenarnya memang iya," jawab Tiara dengan lirih. Nyatanya, ia tak bisa menyembunyikan hal itu lama-lama, karena Novan sangat mengerti tentangnya.


Alhasil, detik itu jua Tiara menceritakan semuanya.


"Kamu yakin itu, Sayang? Tante Dewi nggak sedang bercanda?" Novan kembali memastikan.


"Itu akurat, Mas. Dalam hasil pemeriksaan itu ada stempel rumah sakit, jadi nggak mungkin palsu. Dan ... aku juga menangkap tatapan sendu dari mata Tante Dewi tadi. Dia kelihatan sedih pas cerita itu," jawab Tiara.


Novan tak menjawab lagi, hanya lengannya yang begitu sigap merengkuh tubuh Tiara dan membawanya dalam pelukan.

__ADS_1


"Jangan terlalu dipikirkan, ya. Semua udah jadi masa lalu. Pahit manisnya nggak akan pernah kembali, tetep jadi masa lalu."


Dalam dekapan Novan, Tiara mengangguk sambil tersenyum. Walau tadi ada sedikit rasa tak nyaman, sekarang berangsur hilang. Ucapan dan sentuhan Novan sudah cukup untuk membuatnya tenang. Memang, lelaki yang bergelar suami itulah cinta sejatinya.


"Ngomong-ngomong ... apa karena itu juga Tante Dewi jadi sadar dan mau minta maaf sama kamu?" tanya Novan setelah diam beberapa saat.


"Mungkin, Mas. Dulu ... Tante Dewi memang menganggap sempurna Mas Shaka. Hal tabu kayak gitu, nggak mungkin dilakukan oleh anak-anaknya. Tapi ternyata, malah dihadapkan sama kenyataan ini. Nggak kebayang sedihnya sedalam apa." Tiara menjawab tanpa melepaskan rengkuhan Novan.


"Ya sudahlah. Kita jadikan saja kejadian demi kejadian ini sebagai pelajaran dalam masa depan kita nanti. Yang penting, aku dan kamu saling percaya untuk hidup bersama."


"Iya, Mas," ujar Tiara sambil memejam, menikmati setiap embusan cinta yang menyelimuti dirinya saat ini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2