
Setelah beberapa jam di kantor polisi, Tiara sedikit menghela napas lega. Laporan yang ia buat bisa dikatakan berhasil, karena Karel dinyatakan bersalah. Meski penetapan sanksi masih menunggu sidang berikutnya, tapi setidaknya lelaki itu pasti mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Namun, bukan Karel saja yang tinggal di sana, Novan dan Nala pun turut serta. Mereka akan diperiksa lebih lanjut terkait kasus penggelapan dana milik Devan.
"Setelah bebas dari Karel, semoga hidupku menjadi lebih baik lagi," batin Tiara sembari memegangi pinggangnya yang nyeri, akibat duduk terlalu lama, disertai perasaan tegang.
"Dari sekian banyak wanita, kenapa harus kamu, Mbak?"
Teguran dari Sherin membuat langkah Tiara terhenti. Lantas, menoleh dan menatap wanita yang pernah menjadi calon adik iparnya.
"Kurang baik apa keluargaku selama ini sama kamu, Mbak? Mas Shaka begitu tulus mencintai kamu. Aku dan Mama juga begitu sayang dan menerima kamu dengan baik. Nggak pernah kami mencela kamu, Mbak. Meski di luar sana banyak yang menggunjing karena status sosial kita berbeda, tapi aku dan Mama nggak pernah mempermasalahkan itu. Kami yakin kamu wanita yang baik dan pantas menjadi bagian dari keluarga kami. Tapi ternyata ... kepercayaan kami malah kamu remehkan. Kamu memberi balasan yang amat sangat buruk," lanjut Sherin sebelum Tiara sempat menjawab.
Sherin terlalu kecewa. Skandal antara Tiara dengan Karel adalah luka yang tak bisa disembuhkan. Perselingkuhan Karel dengan Nala atau wanita lain, sakitnya tak begitu membekas. Namun Tiara, wanita yang notabennya calon kakak ipar, sakit dan kecewa yang dirasa lebih dari batas maksimal.
"Maafkan aku." Hanya kata maaf yang mampu Tiara ucap. Mau apa lagi, dia memang salah.
"Kamu pikir maaf saja cukup? Tiara ... Tiara, kamu itu perempuan munafik. Kelihatannya pendiam, tapi aslinya murahan. Kamu sudah menyakiti dua anakku. Kamu kejam, Tiara!" sahut Dewi dengan bentakan.
Kenyataan bahwa anak yang dikandung Tiara adalah milik Devan, juga fakta bahwa kecelakaan yang menimpa Shaka dan suaminya karena ulah Karel, Dewi nyaris frustrasi dibuatnya. Dia menyesal, rasanya ingin mengulang waktu dan tidak akan mengizinkan Karel hadir di tengah-tengah keluarganya.
Tiara pun paham akan hal itu. Sekarang dia bisa melihat sebesar apa kesalahan yang ia buat, dan tidak salah andai semua keluarga Shaka membencinya. Dia pantas mendapatkan itu.
__ADS_1
"Dulu kupikir yang kamu kandung benar-benar anak Shaka. Makanya aku sangat peduli, sampai-sampai menentang Mama dan bertengkar juga dengan istriku. Itu pun aku masih peduli ke kamu, karena anggapanku jangan sampai keponakan terlantar. Itu juga bentuk tanggung jawabku sebagai kakaknya Shaka. Tapi nggak nyangka, Tiara, ternyata kamu di belakang kami kayak gini. Yah, seperti yang kukatakan tempo hari. Aku kecewa," timpal Devan.
Tepat saat itu, Tiara menunduk dan menitikkan air mata. Dia ingat jelas bagaimana ucapan Devan tempo hari—ketika mereka masih menyusun rencana untuk menjebloskan Karel. Selain kecewa dan marah, Devan juga berjanji bahwa ke depannya tidak ada hubungan lagi di antara mereka. Entah itu kepedulian atau sekadar bertegur sapa. Devan akan menganggap Tiara sebagai orang yang asing yang tak pernah ia kenal.
Mengingat itu, Tiara kembali tersadar bahwa sekarang dia benar-benar sendiri.
Belum selesai dengan kekacauan batinnya, Tiara sudah ditinggalkan oleh Sherin sekeluarga. Mereka melangkah pergi menjauhi Tiara dengan segenap rasa benci yang begitu terpatri.
Ya, memang begitu kesepakatannya dengan Devan dari awal. Ketika Karel sudah masuk penjara, maka semuanya selesai. Tidak akan ada interaksi lagi antara Tiara dengan mereka.
"Ini konsekuensi. Aku pasti bisa melewatinya. Meski nggak ada siapa-siapa lagi, seenggaknya aku masih punya dia," gumam Tiara sambil mengusap gusar perut buncitnya.
Kini, jalan satu-satunya yang bisa Tiara pilih hanyalah pergi jauh, karena tak mungkin bertahan sendirian di tengah caci dan maki. Ya, bisa dipastikan setelah ini hinaan yang ia terima akan meningkat berkali lipat. Selain hamil di luar nikah, ia juga seorang pelakor. Dan parahnya, ia menjadi pelakor dalam rumah tangga adik iparnya sendiri. Sangat memalukan.
"Nggak ada yang perlu kusesalkan meski harus pergi jauh. Udah nggak ada apa-apa lagi yang bisa kuharapkan di sini. Yang harus kulakukan sekarang hanyalah menjaga dia dan memberikan dunia yang indah untuknya. Dunia yang jauh dari segala macam hinaan dan sumpah serapan. Aku yang bersalah, jadi cukup aku yang dihakimi, jangan sampai dia ikut merasakan itu," lanjut Tiara sambil melanjutkan langkahnya yang lunglai.
___________
Satu minggu setelah Karel dijebloskan ke penjara, kabar baik datang pada Tiara. Dengan bantuan owner toko tempat ia bekerja, Tiara mendapatkan tempat baru untuk melanjutkan hidupnya nanti.
Malang, kota dingin yang terkenal sejuk nan asri menjadi pilihan yang tepat untuk Tiara. Dia akan pindah ke sana dan memulai hidup baru hanya dengan sang buah hati, yang kini masih tenang di dalam kandungan.
__ADS_1
"Temanku yang kebetulan ada urusan di sana, sudah mencarikan tempat tinggal untuk kamu. Rumah sederhana, tapi letaknya cukup strategis. Kamu bisa memulai usaha kecil-kecilan di sana. Rumahnya sudah kusewa selama setahun ke depan, selanjutnya kamu sendiri yang memikirkan itu. Dan ... ini ada sedikit uang, semoga bisa membantu biaya lahiranmu nanti," ujar owner toko tadi siang, sambil memberikan dua puluh lembar uang ratusan ribu.
Tiara sangat berterima kasih. Uang itu begitu berguna baginya.
"Tempat baru, nasib baru. Semangat, pasti bisa." Tiara tersenyum simpul, menatap tas besar yang siap dibawa esok pagi.
Lantas, dia menopang dagu sambil mengembuskan napas panjang.
Jalan berliku yang ia lalui kini, tak lebih dari konsekuensi atas apa yang pernah ia perbuat.
Ya, harusnya dari awal dia tahu bahwa kehormatan tidak boleh sembarang dilepaskan, apalagi pada lelaki yang sudah beristri. Logikanya, janji di depan Ilahi saja dikhianati, apalagi yang sekadar janji di atas ranjang, mustahil ditepati. Namun bodohnya, baru sekarang Tiara mengerti itu.
Dulu ia tak pernah berpikir jika kenikmatan sesaat akan membuatnya terhina dalam waktu yang lama.
"Ini adalah pajaran yang akan selalu kuingat. Ke depannya, aku akan menjaga harga diri dengan lebih baik lagi," gumam Tiara dengan senyuman yang lebih lebar.
Namun, itu tak lama. Sesaat kemudian, ada pesan masuk di ponselnya, dan itu membuat senyumnya pudar seketika.
"Untuk apa lagi ini?" Tiara membatin bingung usai membaca barisan kalimat yang ada di layar ponselnya.
Bersambung...
__ADS_1